Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Alisia Larasati

writer, like futurolog, like Freedom, anti koruptor ... Senang membangunkan Serigala yang sedang tidur

Ibu Risma Walikota Terbaik, tapi kok Cengeng?

OPINI | 13 February 2014 | 19:43    Dibaca: 287   Komentar: 1   1

Melihat Ibu Risma (walikota surabaya) menangis di acara mata najwa, sisi sisi kemanusiaannya mucul. Menangis untuk mengungkapkan semua artikulasi perasaan kita akibat sesuatu adalah hal manusiawi. Tetapi bagi saya pribadi, tangisan Ibu risma agak sedikit ‘lebay’. Mencurahkan semua perasaannya sebagai Walikota Surabaya, apakah pantas di program Mata Najwa ? Bukankah sebaiknya itu disampaikannya ketika membaca laporan pertanggung jawaba di depan DPRD ?

Menjadi seorang pejabat publik, tentu pilihan buat Ibu Risma, termasuk resiko siap dikritik ketika kebijakannya tidak populer. Siapa yang tidak mengenal sosok Ibu risma, kesederhanaannya dan apa adanya membawanya menjadi orang nomor satu di Kota Surabaya. Banyak sudah kebijakannya yang tadinya dicibir akhirnya bebruah manis menjadi penghargaan. Salah satunya adalah membangun taman taman kota yang asri dan sejuk. bagi saya ini wajar karena beliau lama menjabat Sebagai Kadi pertamanan kota Surabaya. Mandat partai pengusungnya PDIP dijalannkannya dengan sebaik baiknya.

Namun seiring berjalannya waktu, sorotan terhdap walikota Surabaya kembali hangat ditengah kontroversinya yang akan mundur. Pejabat yang mundur di negeri ini bisa dihitung jari apapun alasannya. isu yang beredar adalah ketidak cocokan beliau dengan wakil walikota. Padahal wakil walikota ini adalah rekan sejawatnya di PDIP. Sebagai pemimpin Kota besar, sangat disayangkan jika pernyataan mundur itu akan terbukti hanya karena alasan sepele. Jika Ibu Risma bisa sedikit bersabar dan Bijak, wakil walikota ini adalah partner dia dalam menjalankan pemerintahan, dialog dialog empat mata seharusnya intens terjadi. Apalagi dalam pernyataan Ibu Risma di mata najwa yang mengatakan bahwa dia sudah memberikan seluruh kemampuannya pada kota surabaya. Ini kan pernyataan yang sedikit arogan, buat apa mengatakan pamrih atas kerja kita, biarkan publik yang menilai. Seorang pemimpin yang baik tidaklah elok menarik simpati dengan berkeluh kesah disebuah acara non formal apalagi harus bersimbah air mata. Justru seharusnya Ibu Risma harus membangun optimisme untuk mengikis gesekan gesekan yang ada diinternal pemerintahan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tembok Paling Serem Sedunia …

Gaganawati | | 27 May 2015 | 19:42

Menuju ke ‘Perut Bumi’ : …

Christie Damayanti | | 27 May 2015 | 16:50

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

Breaking News: FBI Membongkar Mafia FIFA, …

Sang Pujangga | | 27 May 2015 | 16:41

Tempo Dulu di Bandung (5), Kenangan Jalan …

Masrierie | | 27 May 2015 | 17:25


TRENDING ARTICLES

Ira Koesno, Barbie dan Beras Plastik …

Andi Kurniawan | 12 jam lalu

Fahri Hamzah ‘Menenggelamkan KPK’ …

Jubir Darsun | 14 jam lalu

Sepp Blatter Biang Korupsi FIFA …

Zen Muttaqin | 15 jam lalu

Istana Presiden Ternyata Bangunan Ilegal …

Elde | 16 jam lalu

Apa Maunya KDI 2015? …

Hanisha Nugraha | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: