Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Mboten Wonten 2

ATEIS-SEPILIS-MENULIS-EKSIS email : mbotenmboten@yahoo.com sms an : 0821 2300 xxxx

Ustadz ‘Ngamuk’, Masalah “Self Control”

REP | 12 February 2014 | 17:41 Dibaca: 640   Komentar: 10   4

www.youtube.com/watch?v=uK4EI58Fz-M

1 jam yang lalu - Diunggah oleh HajiSulamChannel

VIDEO Ustad Hariri Ngamuk Dan Injak Kepala Orang (HEBOH)Ustad Hariri mengamuk Dan Injak 


Ustadz juga manusia, begitulah reaksi mereka yang menonton tayangan seorang Ustadz Muda Gondrong yang alumni Kontes Dai di salah satu TV, sedang ‘ngamuk’-marah ke seseorang sambil sempat memberi jurus dengkul ke kepala orang yang ternyata Teknisi Sound System.

Sebagai manusia biasa tentu tak luput dari NAFSU marah, siapapun pasti memiliki karunia ilahi itu hanya KADARnya yang berbeda-beda, ada yang kadarnya hanya 10 % seperti manusia Sufi namun ada pula yang 1000% seperti Hitler pemimpin NAZI-Jerman  atau Kim Jong Un Diktator belia dari Korea Utara. Mereka ini pemarah dan tidak terkendali saat marah, bahkan Kim Jong Un tega menghabisi seluruh 300an anggota keluarga Pamannya sendiri.

Disarankan untuk melakukan Pengendalian Diri atau istilah kerennya Self Control agar saat MARAH tidak menjadi MARAH-MARAH eksesif-berlebihan. Marahlah dengan kata-kata TEGAS-TAJAM-SESAAT namun tidak KERAS dan BERISIK apalagi KASAR-BERKEPANJANGAN dan main fisik.

Tindakan Ustadz di Bandung yang sampai main fisik itu dapatlah dikategorikan penganiayaan walau ringan. Mustinya beliau segera introspeksi dan memohon maaf atas kekhilafan tersebut dan selanjutnya lebih berhati hati dalam ‘manajemen marah’.

NB: ada kutipan berita penjelasan dari Kompas.com jam 19 an malam kemaren.

Ustaz Hariri mengakui bahwa video di Youtube yang menunjukkan seorang ustaz sedang berargumen dengan seorang pria adalah benar dirinya. Namun, ustaz berambut gondrong itu menampik bahwa ia tengah marah dalam video yang diunggah dengan judul “Ustad Hariri Ngamuk dan Injak Kepala Orang” itu.

“Iya itu saya, saya nggak marah. Itu beritanya sepotong-sepotong nggak ada awalan dannggak ada akhiran. Jadi tanggapannya beragam, ditambah audio yang buruk dan yang dipakai bahasa daerah, jadinya multi-interpretasi,” ujar Hariri saat dihubungi via telepon, Rabu (12/2/2014).

Ia pun mengisahkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Menurutnya, saat itu ia meminta agar audio atau suara lebih dikeraskan. Permintaan tersebut tidak dipenuhi, tetapi ia justru dimaki.

“Waktu itu saya hanya minta audionya diangkat, saya malah diteriakin, dia cenderung menantang. Ketika saya tanya, dia malah nantang. Saya bilang, daripada teriak-teriak, mending minta maaf,” lanjutnya lagi.

Ia juga menjelaskan bahwa kejadian tersebut berakhir dengan bermaaf-maafan. Kejadian itu berlangsung sekitar satu bulan yang lalu di Nagrak, Cangkuang, Kabupaten Bandung.

………………………………..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: