Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Febrialdi

saya bapak dari dua orang anak yang bekerja di QATAR DUTY FREE(QATAR AIRWAYS),saya bisa juga selengkapnya

Presiden SBY Menjadi Galau Setelah Ditinggal Kekasih Media Darling

OPINI | 28 October 2013 | 21:24 Dibaca: 748   Komentar: 21   6

 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. | SUZANNE PLUNKETT / POOL / AFP

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. | SUZANNE PLUNKETT / POOL / AFP

Ptesiden SBY terlihat sekali emosinya lagi labil  dalam beberapa minggu ini.Presiden SBY merasa diperlakukan tidak adil dan merasa dikhianati oleh orang-orang yang pernah dekat dan  pernah menjadi orang kepercayaannya.Hal inilah yang mendorong beliau menjadi mudah marah dan cepat tersinggung akhir-akhir ini.Presiden SBY kelihatan lebih sibuk memikirkan Partainya dan dirinya sendiri dari pada rakyatnya sendiri.

Kemarahan Presiden SBY itu dimulai saat konferensi pers di Halim Perdanakusuma soal bunda puteri, kemudian kemarahan beliau semakin bertambah saat kelompok Anas Urbaningrum dengan bendera barunya PPI mengatakan ada penangkapan pendiri Partai Demokrat  Subur Budhisantoso oleh BIN.

Kemudian beliau sempat curhat pada saat acara silaturahim dengan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 2013-2015 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Dalam pertemuan itu Presiden SBY mengatakan sebagai korban dari pers dan media sosial.Presiden merasa dizalimi oleh media massa akhir-akhir ini.Semua media menyudutkannya.Dalam pertemuan denga kader Demokrat di Sentul,Presiden SBY menghimbau para kader Demokrat untuk tinggal diam dan meminta semua kader untuk membela diri,bila partai Demokrat disudutkan dan diserang.Presiden SBY juga menuding ada stasiun televisi yang selama beberapa tahun selalu memojokkan partai Demokrat.

Kilas balik perjalanan SBY menjadi Presiden berawal dari korban dizalami ,akibat hubungan yang kurang harmonis dengan Megawati,sehingga SBY memutuskan mundur dari kabinet Megawati pada saat itu.Dari sinilah dukungan dan simpati berhamburan buat SBY.Dukungan dan simpati  juga datang dari Media Massa.Pada saat itu SBY digadang-gadang sebagai calon Presiden yang akan membawa perubahan kearah yang lebih baik untuk memenuhi dan menjalani reformasi.SBY menjadi media darling pada waktu.Setiap hari media selalu melaporkan kegiatan SBY,

Sampai akhirnya SBY terpilih menjadi Presiden pada tahun 2004. Dukungan buat Presiden SBY masih berlanjut pada pemilu berikutnya dan terpilh kembali untuk menjadi Presiden pada tahun 2009 lalu.

Setelah masa jabatan kedua kalinya inilah semua skandal korupsi yang dilakukan oleh para kader terbaik partai Demokrat terbomgkar dan mencuat kepermukaan dan membuat semua orang terkaget dan tercengah seakan tidak percaya.Apalgi tokoh yang terseret itu menjadi icon partai selama ini dalam iklan anti korupsi dengan slogan Katakan tidak pada korupsi dan jangan hiraukan ajakannya.Salah satu iconnya itu adalah Angelina Sondakh.

Sejak saat itu kondisi Partai Demokrat menjadi goyah dan satu-persatu kadernya terseret dalam kubangan korupsi.Tak pelak semua menjadi kecewa dan merasa dibohongi oleh Partai Demokrat yang dulu bersikukuh anti korupsi dan memerangi korupsi malah justru ikut terseret dan menikmati korupsi itu sendiri.

Sejak saat itu Partai Demokrat mulai menjadi sasaran tembak dan kritik dari masyrakat luas,dan tak terkecuali juga dari semua media massa yang sudah menjadi anti klimak dengan ulah kader para Partai Demokrat. Hingga sampai sekarang deraan tak henti-henti menghantam Partai Mercy itu.

Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Effendi  berpendapat dan menilai masih dalam kewajaran kemarahan Presiden SBY dalam menghadapi masalh pribadi dan partai yang menimpanya akhir-akhir ini,asal itu dilakukan diakhir pekan dan diwaktu luang.

“Tapi, yang dirindukan publik itu adalah kapan SBY berbicara tentang masalah bangsa dengan gaya yang seperti itu? Dengan konpers yang mendadak, dengan kalimat dan retorika yang sama yang digunakan untuk hal yang sangat mendesak,” kata Effendi di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (28/10/2013).seperti dikutip dari kompas.com.Effendi mengatakan Presiden menjadi galau sejak ditinggalkan oleh media,pada hal dulu beliau adalah media darling.

Kalau sekarang Presiden SBY ditinggal pergi oleh media darling tidaklah salah,karena Presiden SBY tidak menepati janji dan ingkar,dulu berjanji tidak korupsi,sekarang kedernya pada korupsi.Sekarang Media darling sudah punya kekasih baru yang lebih setia dan seksi yaitu.Jokowi.



 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 9 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 10 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 11 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: