Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Abdul Muis Syam

Lahir di Makassar, 11 Januari. Penulis, Jurnalis dan Desainer Grafiks. Pernah di Harian FAJAR Makassar selengkapnya

Rizal Ramli Vs SBY

OPINI | 13 September 2013 | 02:31 Dibaca: 571   Komentar: 1   0

Rizal Ramli dan SBY

Rizal Ramli dan SBY

SETIAP kali mengikuti perbincangan atau dialog di sejumlah televisi yang menghadirkan Ekonom Senior Rizal Ramli sebagai narasumber, saya selalu bertanya-tanya: apakah pemerintah atau Presiden dan para menteri ikut menyimak hal-hal yang dilontarkan (kritik dan saran) dari Rizal Ramli? Jangan-jangan hanya asyik mengikuti tayangan serial sinetron, ya??

Maaf, di benak saya muncul pertanyaan seperti itu tak lebih hanya sebagai rakyat biasa sekaligus selaku anak bangsa yang setiap hari ada waktu untuk bersentuhan langsung dengan rakyat kecil, sehingga saya juga tahu persis apa yang menjadi keluhan dan harapan mereka selama ini.

Begitu pun dengan Rizal Ramli yang kini lebih banyak berada di tengah-tengah masyarakat sebagai Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARuP), yang setiap saat juga tetap eksis menunjukkan jatidirinya sebagai anak bangsa yang kritis namun tetap memberi saran maupun solusi atas masalah-masalah yang tengah dihadapi oleh negeri ini.

Sayangnya, setiap kritik dan saran maupun tawaran solusi yang disodorkan Rizal Ramli selalu saja diabaikan oleh pemerintah. Nah, inilah yang membuat saya jadi geleng-geleng kepala dan memunculkan sejumlah pertanyaan seperti tersebut di atas. Dan nampaknya, apa yang diuraikan secara jelas dan riil (tak mengada-ngada) dari Rizal Ramli itu pun seakan disikapi bagai angin lalu oleh pemerintah (presiden).

Sikap pemerintah seperti ini memang tak perlu diherankan, karena kebenaran apapun yang dimunculkan dan dijelaskan oleh Rizal Ramli, di mata pemerintah itu selalu bermakna politik. Jadi artinya, pemerintah boleh jadi hanya menggunakan kacamata politik setiap kali memandang kritik dan masukan maupun tawaran solusi dari Rizal Ramli.

Padahal, selama ini Rizal Ramli menyuarakan kritik terhadap pemerintah itu tak pernah melalui corong politik. Artinya, apa yang dikritisi oleh Rizal Ramli tidaklah mengandung unsur politik. Sebab, sejauh ini Rizal Ramli tidaklah berasal dari organ politik (bukan ketua umum, sekjen, atau pengurus DPP Parpol tertentu). Lalu mengapa Presiden SBY seakan-akan memandang sosok (mantan sahabatnya) itu sebagai musuh bebuyutan..?

Saya memunculkan pertanyaan seperti ini, karena hanya ide dan nasehat dari musuhlah yang tak bisa diterima. Padahal kedua tokoh ini memang pernah bersahabat di bangku kabinet era Presiden Gus Dur. Namun kini keduanya bagai tikus dan kucing. Silakan pembaca persepsikan sendiri, mana tikus dan mana yang kucing..??!

Diposisikan sebagai musuh pun Rizal Ramli toh tetap menawarkan solusi dari setiap kritikan yang dilontarkannya kepada pemerintah. Sehingga, sesungguhnya tak ada alasanya bagi pemerintah jika memandang Rizal Ramli sebagai musuh. Malah, saya membayangkan, bahwa betapa dahsyatnya negara ini jika kedua tokoh seperti SBY dan Rizal Ramli bisa bersatu membangun negeri ini.

Tetapi sayangnya, istilah yang menyebutkan: “..jangan lihat orangnya, tetapi terimalah kebenaran dari apa yang dikatakannya” nampaknya tidak dilakukan oleh Presiden SBY terhadap kritik, ide dan saran solusi yang disodorkan oleh Rizal Ramli selama ini.

Karena sekali lagi, SBY sepertinya selalu saja memandang semuanya dari kacamata politik. Akibatnya, muncul kekuatiran yang sangat berlebih-lebihan terhadap sosok Rizal Ramli. Sampai-sampai, masukan atau saran dari Rizal Ramli yang sesungguhnya dapat menjadi jalan keluar dari persoalan yang tengah dihadapi oleh bangsa saat ini pun akan sulit ditempuh, karena besar dugaan, SBY memang bukan tipe pemimpin yang mudah menerima saran dan masukan dari sosok yang kini juga dinobatkan oleh LPI sebagai capres paling ideal tahun 2014 mendatang.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 7 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 7 jam lalu

Pembunuhan Karakter Keprofesian Industri …

Vendy Hendrawan | 7 jam lalu

Seorang Perempuan di Pemakaman …

Arimbi Bimoseno | 7 jam lalu

Gayatri Si Anak Ajaib Yang Terbang Ke Negeri …

Birgaldo Sinaga | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: