Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Syahar Banu

Mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina | Bisa dijumpai juga di syaharbanu.blogspot.com

Ibu Aminah, Saksi Hidup Potret Suram Tragedi Tanjung Priok ‘84

REP | 10 September 2013 | 15:10 Dibaca: 2152   Komentar: 0   2

Tatapan wanita itu masih tajam. Wajahnya tidak setua usia yang telah menelannya. Wanita yang lahir pada tanggal 4 Januari 1958 itu tidak terlihat sama sekali bahwa Ia dulunya adalah seorang bekas narapidana yang karena mendapat tekanan psikis, akhirnya masuk rumah sakit jiwa. Menjadi tahanan tanpa proses pengadilan sama sekali di penjara umum dan menjadi satu-satunya korban wanita memang bukan hal mudah. Apalagi saat itu, ada banyak suara-suara teriakan kesakitan dari narapidana laki-laki yang dipaksa mengaku oleh aparat.

“Setiap ada teriakan, saya selalu berfikir, mungkin itu adalah kakak saya yang sedang di interogasi.  Saya selalu bertanya-tanya, mungkinkah besok saya akan mengalami penyiksaan itu Apakah kakak saya masih hidup? Kapankah saya akan bertemu dengan keluarga saya lagi? Memikirkan itu sudah membuat saya stress berat.” Tuturnya dengan pandangan menerawang.

1378800154560726317

Ibu Aminah

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa peristiwa di Tanjung Priok tahun 1984 masih menyisakan banyak kisah yang luput ditulis oleh buku-buku sejarah. Saat itu, ada satu wanita yang ikut ditahan dan mengalami tekanan berat dari aparat militer. Ia adalah Aminatun Najariyah.

Ibu Aminah –begitu biasanya Ia disapa- adalah saksi hidup kelamnya persoalan HAM di Indonesia pada masa Orde Baru yang sampai sekarang belum juga selesai. Bagaimana tidak? Dipenjara tanpa bukti yang kuat dan tanpa pengadilan saja sudah merupakan pelanggaran HAM yang berat, apalagi ditambah dengan penyiksaan psikis. “Di dalam penjara milter itu, saya tidak bisa mandi karena ada saja petugas yang iseng bersiul-siul setiap kali saya ingin ke kamar mandi, membuat saya merasa tidak aman. Takut diintip. Apalagi itu adalah penjara umum yang saat itu isinya semua laki-laki. Setiap kali mandi, saya akhirnya menggunakan pakaian lengkap dengan air yang kadar kapurnya sangat tinggi. Tidak ada peralatan kebersihan tubuh yang bisa saya gunakan, akhirnya saya tidak pernah sikat gigi sama sekali maupun membersihkan tubuh yang lain. Gusi saya juga jadi busuk.” Ujarnya nanar.

Dibalik Rusuhnya Tanjung Priok

Saat tragedi berdarah Tanjung Priok bergemuruh, Ibu Aminah sedang berada di rumah yang Ia tinggali bersama kakak kandung beserta istrinya. Tiba-tiba rumah didobrak oleh sekelompok petugas berseragam militer dan mencari kakaknya Abdul Bashir. Mereka mengacak-acak rumah berdalih mencari tanda bukti pemberontakan kepada negara dengan tujuan mendirikan negara Islam dan membubarkan NKRI. Saat itu, isu tentang asas tunggal Pancasila memang sedang ramai dibicarakan.

“Kakak saya saat itu ditangkap. Padahal Ia tidak tahu apa-apa. Memang beberapa kali Ia mengikuti pengajian di Masjid bersama Amir Biki, namun setahu saya sama sekali tidak membahas tentang negara Islam. Hanya pegajian masjid biasa. Saat mereka akan meninggalkan rumah, saya dan kakak Ipar saya yang ketakutan dan menggunakan jilbab seadanya saat itu dihampiri juga oleh petugas. Saya akhirnya ikut diangkut, dipaksa ikut ke dalam mobil petugas. Saya semakin takut ketika mereka mulai memandangi saya dengan tatapan nakal dan beberapa kali berbisik tentang ‘cantik’ ‘bagian bos’ dan sebagainya.”

Sebagai dalih penangkapan itu, para tentara militer menyita peralatan Ibu Aminah yang saat itu merupakan pengusaha pembuat kue. Segala macam pisau, gunting mixer dan berbagai peralatan yang ada di pabrik kue diambil oleh para militer itu sebagai barang bukti makar. Padahal, aktivitas Bu Aminah selama ini memang hanya memproduksi kue dan kakak kandungnya yang akan memasarkannya. Ia tidak pernah terlibat dalam pengajian apapun.

Di saat bersamaan, suasana di luar semakin malam semakin panas. Masih terdengar tembakan di mana-mana. Pasca di bubarkan secara paksa, massa yang berdemonstrasi di depan Polres Tanjung Priok menuntut pihak Polres untuk mengembalikan Amir Biki. Amir Biki merupakan tokoh masyarakat saat itu yang biasanya menjadi penceramah dalam pengajian di Musholla Assa’adah. Ia ditahan tanpa proses pengadilan juga karena ingin membebaskan pengurus musholla Assa’adah dan warga Priok yang bertikai dengan Babinsa.

Pasalnya, Babinsa yang berseragam militer tersebut masuk ke masjid tanpa melepas sepatu dan merobek pamflet pengajian jumat membuat marah warga. Apalagi setelah Babinsa tersebut menyiram papan pengumuman mushalla dengan air selokan. Jamaah langsung menegur Babinsa tersebut dan terjadilah cek cok mulut. Karena kesal, warga membakar motor Babinsa tersebut dan setelahnya pelaku pembakaran motor ditangkap. Itulah yang menyebabkan banyak warga yang ikut andil dalam peristiwa tersebut. Apalagi setelah Amir Biki, yang ingin beraudiensi dengan pihak kapolres justru ditangkap. Terjadilah gerakan massa yang besar dan dibubarkan dengan moncong peluru militer. Ribuan nyawa melayang, bahkan yang tidak tahu apa-apa sebelumnya. Ibu Aminah adalah salah satunya korban tak bersalah yang dilibatkan dalam kasus ini.

Ibu Aminah ditahan di sel yang berbeda dengan kakak kandungnya. Begitu memasuki penjara, suara-suara penyiksaan dan teriakan para narapidana yang juga tidak melalui proses pengadilan mulai menghantuinya. Ibu yang kini memiliki 7 orang anak tersebut juga menolak untuk melepas jilbabnya. IIa terus-menerus menanyakan dimana kakak kandungnya pada petugas dan para petugas biasanya hanya tertawa menanggapi pertanyaannya.

Keadaan penjara semakin buruk ketika ada salah seorang Kapten bernama Budi Utomo yang mengatakan bahwa apabila Ibu Aminah menjadi Istrinya, maka Ia bisa langsung dibebaskan dari penjara. Karena menolak untuk dijadikan istri itulah, suara-suara aneh mulai muncul. Seperti ada bisikan bahwa Ia akan mati jika tidak menerima Budi Utomo. Untuk melawan suara-suara bisikan itu, mulut Ibu Aminah mulai berdoa, mulai dari membaca surat yasin sampai shalawat-shalawat. Namun, orang-orang yang melihatnya justru melihat bahwa Ibu Aminah sedang sakit jiwa karena tidak henti-hentinya meracau.

“Saya sadar betul tentang kondisi di sekeliling saya. Saya juga memperhatikan apa yang diucapkan oleh para militer yang menjaga sel saya. Sampai akhirnya saya bertemu kakak saya di dalam penjara. Petugas mengira saya stress berat dan untuk meminimalisir stress saya, akhirnya kami dipertemukan. Kakak saya menangis memeluk saya. Ia juga berfikir bahwa saya ini sudah tidak waras karena saya terus menerus menggumam. Apalagi kondisi penjara yang memprihatinkan membuat penampilan saya, yang walaupun masih berjilbab, menjadi sangat kacau balau. Kakak saya membisikkan, ‘Jangan khawatir, secepatnya, kita akan segera pulang’. Saat itu saya berfikir apakah maksudnya sebentar lagi kita semua akan ditembak mati seperti tahanan lainnya? Namun saya tidak menanggapi apa-apa karena bisikan-bisikan untuk menerima pinangan Kapten Budi Utomo terus menggema ditelinga saya.” Ucapnya sambil menerawang jauh ke masa lalu, saat usianya 27 tahun.

Setelah pertemuan dengan kakak kandungnya, Bu Aminah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Masa tahanan 45 hari dengan kondisi sel yang sangat buruk membuat psikis dan mentalnya dianggap terganggu, saat ditanya apa yang saat itu dirasakannya saat memasuki RSJ, Ibu Aminah dengan yakin menjawab, “Saat itu saya sadar betul bahwa sebenarnya saya tidak gila. Namun saya harus bersikeras untuk melawan bisikan-bisikan tentang Kapten Budi Utomo. Saya selalu berkata ‘Laa! Uhibbullah Faqat!’  (Tidak! Saya hanya mencintai Allah) setiap kali bisikan tentang, ‘Terima saja Kapten Budi, kamu bisa hidup enak nanti’ itu datang. Istilah jawanya, saat itu saya dipelet. Namun tidak ada yang mengetahui hal itu. Orang hanya melihat bahwa saya gila. Bahkan orangtua saya pun demikian. Bahkan sampai sekarang, apa yang saat itu saya rasakan tidak dipercayai oleh orang. Karena menurut mereka, hal mistis seperti itu tidak dapat diterima akal sehat.” Ungkapnya, sambil menggelengkan kepala.

Pasca dirawat di RSJ selama 1 bulan dan dinyatakan sembuh, Bu Aminah akhirnya dibebaskan. Anehnya, semua yang disebut para militer sebagai barang bukti pemberontakan terhadap asas tunggal Pancasila malah lenyap tak bersisa. Tanpa pengadilan apapun, Ia dikembalikan lagi ke rumah. Sedangkan Abdul Bashir, masih dipenjara sampai 2 tahun kedepan tanpa proses pengadilan juga.

Saat kembali ke rumah, kondisi telah berubah. Semua modal membuat kue, Ijazah sekolah, barang-barang lainnya juga raib dijadikan barang bukti penangkapannya dulu. Ia harus memulai dari awal. Karena tidak punya apa-apa, akhirnya Ia pulang ke rumah orangtuanya di Boyolali. Dengan status mantan tahan politik. Tentu saja, hal itu dianggap aib dalam masyarakat yang tidak tahu secara pasti apa yang terjadi sebenarnya.  Apalagi saat itu, wanita berjilbab masih dianggap tabu oleh masyarakat. Selain itu, Ibu Aminah tidak lagi dapat bekerja dimanapun maupun melanjutkan pendidikannya. Beban psikis semakin bertambah karena Ia adalah seorang Janda dengan 1 anak yang menjadi bahan pembicaraan orang.

Akhir tahun 1985, Ibu Aminah menikah lagi dengan teman kakaknya bernama Muhsin Sukandar. Saat itu, Ia sudah kembali lagi ke Jakarta, bersama dengan suami inilah Ia mulai merintis lagi roda ekonomi yang dilemahkan oleh kasus Tanjung Priok tersebut. Ia mulai berdagang kecil-kecilan sebagai pengemas makanan ringan dan bisa bertahan sampai Reformasi tahun 1998 pecah.  Pasca Reformasi, bisnis yang Ia kembangkan bersama suaminya tidak lagi dapat berjalan, akhirnya, Ia kembali lagi ke Boyolali sebelum akhirnya menetap di Solo dan menjalani bisnis kerajinan tangan untuk souvenir pernikahan.

Barulah pada masa Pemerintahan SBY dan atas desakan almarhum Munir lewat KontraS, para Jenderal yang terlibat dalam pecahnya Tragedi Tanjung Priok diadili. Ibu Aminah turut memberikan kesaksian. Jumlah korban Tanjung Priok yang masih hidup hanya tinggal sedikit karena sebagian besar nya memilih jalur Islah dengan iming-iming sejumlah uang dari para Jenderal, termasuk mantan ketua MPR AM Fatwa. Karena apabila islah dijalankan, maka akan memperingan hukuman yang akan dijatuhkan kepada para Jenderal. Ibu Aminah dan 13 orang lainnya tetap menempuh jalur hukum, walau ketukan palu sudah menyepakati bahwa para Jenderal akan ditahan dan negara harus membayar kompensasi pada korban, persidangan berhenti begitu saja di tengah jalan tanpa ada kejelasan. Hingga sekarang. Nama-nama seperti Mantan Presiden Soeharto, Wiranto, Tri Sutrisno, LB Moerdani dan Jenderal lainnya yang terlibat dalam peristiwa berdarah tersebut tidak lagi pernah disebut-sebut.

Ketika ditanya harapannya, Ibu Aminah menjawab bahwa Ia masih ingin tetap melanjutkan proses hukum jika memungkinkan. Namun, Ia tidak memiliki daya apapun untuk melakukannya. Apalagi semenjak kepergian almarhum Munir. Ia berkata ini bukan soal uang, tapi Ia ingin Indonesia sebagai negara hukum memberikan keadilan untuk semua warganya, termasuk Ia. Karena apabila kasus ini di lenyapkan atau dihentikan, maka akan rentan terjadi pelanggaran HAM lain karena pelaku masih bebas berkeliaran. Bahkan pelanggar HAM berat masih bisa mencalonkan diri sebagai calon presiden RI.

“Nanti biar anak-anak saya yang teruskan jika proses hukum akhirnya diteruskan.” Saat ditanya tentang apakah Ibu Aminah sampai sekarang masih mengalami trauma terhadap peristiwa itu, sambil bergurau, Ia menjawab, “Saya tidak ingin anak saya jadi Militer, polisi, tentara atau semacamnya. Saya juga tidak ingin anak-anak saya menikah dengan militer. Sampai kapanpun. Tapi saya sadar bahwa hidup saya sudah berjalan sejauh ini. Saya harus jalan terus sampai bertemu dengan Nya nanti.”

Di Indonesia, sekarang ini, ada banyak orang lain selain Ibu Aminah yang tidak melanggar persoalan hukum apapun di negeri ini namun hak-haknya diabaikan oleh negara. Melupakan kisah-kisah yang ada dalam suramnya potret HAM kita hanya akan membuat efek jera pada pelaku hilang. Tentu saja, kita tidak ingin ada lagi Ibu Aminah-Ibu Aminah lainnya. Mari kita menolak lupa.

Baca Juga :
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 11 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 11 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 12 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: