Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Kamal Fuadi

pembelajar | http://www.fuadinotkamal.wordpress.com

Profil Singkat dan Kiprah Ibu Dra. Hj. Umi Azizah (Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal dan Calon Wakil Bupati Tegal 2014-2019)*

REP | 04 September 2013 | 12:31 Dibaca: 310   Komentar: 2   1

*Ditulis oleh Tim Paseduluran Relawan Ikhlas

Umi Azizah dilahirkan di Desa Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal pada tahun 1960. Anak kedua pasangan Bapak KH. Zainal Arifin (Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah) dan Ibu Nyai Hj. Masyitoh ini sejak kecil dididik di lingkungan agamis. Saat melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah, beliau dikirim orang tuanya untuk masuk ke Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang di bawah asuhan KH. Bisri Samsyuri (Mbah Bisri, kakek Gus Dur), setelah sebelumnya menamatkan pendidikan Madrasah Menengah Pertama (MMP) dari MTs AIN Babakan Lebaksiu Tegal (sekarang MTsN Model Babakan Lebaksiu Tegal).

Selepas menamatkan MA, Umi Azizah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Diponegoro (UNDIP). Beliau memilih untuk masuk di jurusan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Tahun 1985, Umi Azizah dinyatakan lulus dan menjadi wisudawati terbaik FISIP UNDIP. Atas prestasinya, beliau ditawari untuk menjadi dosen di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Tawaran untuk menjadi dosen ditolaknya karena beliau merasa terpanggil untuk mengabdikan diri di tempat kelahirannya. Kondisi Tegal pada waktu itu juga mengharuskan diri beliau untuk ikut berkontribusi memberikan solusi atas berbagai persoalan yang ada di masyarakat.

Umi Azizah mengawali kiprahnya mendedikasikan diri untuk masyarakat Tegal dengan aktif di organisasi perempuan Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU). Beliau terpilih menjadi Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tegal selama dua periode (1987-1992 dan 1992-1997).

Tahun 1988, Umi Azizah ikut menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Bakti Negara (STAIBN) Slawi.  Karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, beliau memutuskan untuk berhenti dari aktivitas organisasi, mengajar, dan lainnya. Di STAIBN ini beliau juga menjadi Wakil Ketua Yayasan Yayasan Pengembangan dan Pengkajian Islam Ki Gede Sebayu dari tahun 2011-sekarang.

Tahun 1999, Umi Azizah diminta teman-teman seperjuangannya di NU untuk aktif di organisasi di Muslimat NU. Keinginannya untuk kembali aktif berorganisasi sangat tinggi. Namun demikian keinginan tersebut harus beliau pendam karena kondisi suami yang sedang mengalami sakit keras. Atas izin dari suami, Umi Azizah kembali berkiprah di organisasi dengan aktif di Muslimat NU. Di tengah aktivitas berorganisasi dan mengabdi untuk NU dan masyarakat, suami Umi Azizah dipanggil menghadap Allah pada tahun 2000. Beliau harus mengurus 6 orang anak seorang diri. Selama rentang tahun 2000-2005 Umi Azizah dipercaya untuk memimpin Yayasan Pendidikan Muslimat NU Binda Bakti Wanita (YPM NU Bina Bakti Wanita) dan Ketua II Muslimat NU Kabupaten Tegal. Semasa menjabat sebagai Ketua YPM NU, beliau bersama dengan PCNU dan kyai-kyai NU Kabupaten Tegal menyusun metode pembelajaran Al Qur’an As Syifa yang sampai sekarang dipakai anak-anak di hampir seluruh wilayah Kabupaten Tegal untuk belajar membaca Al Qur’an.

Darah perjuangan dan pengabdian untuk masyarakat yang diwarisi dari mendiang bapaknya KH. Zainal Arifin memang mengalir deras dalam diri Umi Azizah. Kyai Zainal, sapaan akrab bapak Umi Azizah, adalah sosok yang sejak kecil mendidik untuk selalu mendedikasikan diri bagi masyarakat. Kyai Zainal bersama-sama dengan tokoh masyarakat lain semasa hidupnya aktif di dunia pendidikan dengan mendirikan madrasah pertama yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Azhar, mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah, dan pernah menjadi angggota DPRD dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1982-1987. Suami Umi Azizah sendiri, Drs. Mohammad Djazeri juga pernah menjadi anggota DPRD dari partai yang sama (PPP) pada tahun 1977-1982 dan Sekretaris PCNU Kabupaten Tegal.

Tahun 2005, Umi Azizah terpilih untuk memimpin organisasi perempuan Muslimat NU Kabupaten Tegal periode 2005-2010. Beliau juga terpilih menjadi Wakil Ketua Korda Muslimat NU Karesidenan Pekalongan tahun 2007-sekarang. Selesai memimpin Muslimat NU Kabupaten Tegal untuk satu periode, pada tahun 2010, Umi Azizah terpilih kembali untuk memimpin Muslimat NU Kabupaten Tegal periode 2010-2015.

Selama periode kepemimpinan Umi Azizah, Muslimat NU Kabupaten Tegal menorehkan banyak prestasi dan pencapaian.  Sebagai Ketua organisasi perempuan terbesar di Kabupaten Tegal, beliau tidak hanya aktif dari satu pengajian ke pengajian, sebagaimana banyak dipersepsikan orang yang tidak tahu menahu tentang aktivitas Muslimat NU. Umi Azizah memfokuskan aktivitas kepengurusan Muslimat NU Kabupaten Tegal untuk menjadikan organisasi Muslimat NU sebagai organisasi yang mandiri melalui pembenahan dan penguatan manajemen, penguatan ekonomi, dan penguatan program.

Kini nama Muslimat NU berkibar hingga ke pelosok-pelosok Desa di Kabupaten Tegal. YPM NU Bina Bakti Wanita memiliki 530 Taman Pendidikan Qur’an (TPQ), 85 Taman Kanak-kanak (TK), 46 Raudhatul Atfal (RA), 52 Kelompok Bermain Muslimat, dan 97 Keaksaraan Fungsional. Yayasan Haji Muslimat sendiri mengelola Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muslimat NU dan Ikatan Hajah Muslimat NU. KBIH Muslimat NU adalah KBIH yang memiliki jumlah jamaah paling banyak setiap tahunnya di Kabupaten Tegal. Yayasan Himpunan Daiyah dan Majlis Ta’lim Muslimat NU memiliki 897 Majlis Ta’lim Muslimat NU. Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU mengelola Panti Asuhan Darul Yatama yang membina dan mengasuh 40 anak yatim dan membiayai beberapa anak asuk yang ditempatkan di beberapa pondok pesantren. Selain itu, Muslimat NU Kabupaten Tegal juga memiliki unit usaha Koperasi Annisa Muslimat NU. Masa kepemimpinan periode kedua Umi Azizah difokuskan pada penguatan ekonomi organisasi. Hal tersebut, salah satunya direalisasikan dengan membangun Gedung Serba Guna yang selain berfungsi sebagai gedung pertemuan juga akan dijadikan balai latihan kerja kader-kader Muslimat NU. Pembangunan gedung serba guna yang memakan biaya tidak sedikit tersebut kini sudah sekitar 70%. Semua itu digerakkan oleh kekuatan perempuan-perempuan Kabupaten Tegal yang tergabung dalam Muslimat NU.

Kemampuannya menjadikan organisasi Muslimat NU sebagai organisasi yang mandiri, ternyata diimbangi juga dengan kemampuan dalam mendidik anak-anak walaupun tanpa suami. Dalam posisinya sebagai single parent beliau mampu seorang diri menghidupi dan mendidik 6 orang anak yang ditinggalkan suaminya. Semua anak-anak Umi Azizah dididik di pesantren. Anak sulungnya telah menamatkan pendidikan S1 di Universitas Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Dari anak pertamanya ini, Umi Azizah telah memiliki 1 orang cucu. Anak kedua menamatkan pendidikan S1 dari Universitas Panca Sakti (UPS) dan telah beristri. Anak pertama dan kedua ini sejak lulus SD sudah masuk di Pondok Pesantren Al Muayyad Solo (SMP), Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak (SMA), dan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Anak ketiga telah menamatkan pendidikan S2 dari Universitas Indonesia (UI) dan kini tengah menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Semasa mengenyam pendidikan S1 di Universitas Islam Negeri (UIN ) Jakarta, anak ketiga Umi Azizah juga masuk di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah. Anak keempat Umi Azizah baru saja menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri. Anak kelima menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu. Anak keenam Umi Azizah, yang merupakan satu-satunya anak perempuan, baru saja masuk di Madrasah Aliyah (MA) NU Banat Kudus.

Tak pernah ada keinginan sedikit pun dari Umi Azizah untuk maju menjadi Calon Bupati, Calon Wakil Bupati, Calon Legislatif atau jabatan lain di pemerintahan. Baginya pengabdian untuk masyarakat dapat dilakukan dengan banyak cara, termasuk tanpa harus menduduki jabatan tertentu.  Saat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru berdiri, ia terlibat aktif hanya sebagai juru kampanye (jurkam) terutama menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 1999. Tawaran untuk aktif menduduki jabatan struktural di partai atau menjadi caleg ia tampik karena ia tetap ingin mengabdi dan berjuang untuk masyarakat tanpa harus terlibat dalam aktivitas politik. Kini karena beliau dianggap kader yang mumpuni dan mampu mengemban amanah para Kyai untuk maju sebagai Calon Wakil Bupati Kabupaten Tegal mendampingi Ki Enthus Susmono, maka tidak ada alasan lain baginya selainsam’an watha’atan (mendengar dan taat) dengan dawuh para kyai yang selalu menjadi panutan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 11 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | 8 jam lalu

Hargai Penulis dengan Membeli Karyanya …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Kompilasi Buku, Haruskah Ada Ijin dari …

Cucum Suminar | 9 jam lalu

“Kematian Allah” untuk Kehendak …

Ps Riswanto Halawa | 9 jam lalu

Masyarakat Pedesaan Pikir-Pikir Beli Elpiji …

Akhmad Alwan A | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: