Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Gatot Swandito

Yang kutahu, aku tidak tahu apa-apa

Plintiran “Himbauan” Jokowi, Peringatan Bagi Ahok

OPINI | 09 August 2013 | 17:10 Dibaca: 3140   Komentar: 103   19

Banyak yang memuji gaya komunikasi low context Ahok. Tidak kurang dari budayawan Betawi, Ridwan Saidi pun mengaguminya. Menurutnya, ketegasan yang ditunjukkan Ahok perlu ada dalam diri setiap pemimpin. Kalau hanya kompromi, seorang pemimpin akan mudah disetir kepentingan orang-orang yang tak mau peraturan ditegakkan.

Ridwan pun membandingkan kegalakan Ahok yang menurutnya lebih menarik ketimbang galaknya Ali Sadikin.

“Enggak ada yang kayak ini. Pasangan Jokowi-Ahok enggak ada bandingannya. Orang bilang (Ahok) kaya Ali Sadikin. Ali Sadikin galak karena membela judi, enggak menarik, enggak membela hukum dia (seperti Ahok),” kata Ridwan dijumpai di rumahnya di Bintaro, Jakarta, Selasa (6/8/2013).

Mengenai sikap Ahok yang dinilai sejumlah kalangan keras dan arogan, Ridwan mengatakan, “Pemerintah kemarin-kemarin kompromistis. Kalau Pak ini (Ahok), tegas dia menegakkan hukum. Patut didukung Jokowi-Ahok, lepas dari ekspresi dia (Ahok).”

Ditambahkannya lagi, orang yang risih dengan gaya bicara Ahok adalah orang-orang yang hidup dan bergaul dalam komunitas yang tidak pluralistis.

“(Gaya bicara seperti) Itu sudah biasa kok. Itu asyik saja buat saya ngedenger-nya,” aku Ridwan.

Namun, warga Jakarta bukan saja Ridwan Saidi yang mau mengerti dan menerima gaya bicara Ahok. Sebagian lagi, seperti Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana yang mengatakan Ahok bersikap arogan.

“Saya memberi apresiasi kepada Pak Jokowi yang begitu perhatian terhadap PKL Tanah Abang. Ini menjadi bukti kalau Pak Jokowi lebih mengerti terhadap persoalan PKL ketimbang Ahok, yang hanya bisa berbicara di media dengan pernyataan-pernyataannya yang arogan,” tegas Lulung dalam pernyataan persnya, Rabu (7/8/2013).

Demikian juga dengan staf Ahli Mendagri Reydonnyzar Moenek, yang meminta Ahok belajar lagi tentang aturan dan tata kelola birokrasi. “Dalam pengamatan kami, Ahok tidak bekerja dengan sistem, dan Ahok arogan, tidak tahu aturan. Urusi persoalan kinerja Anda,” cetusnya.

Lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan sangat perlu, apalagi mengingat tidak semua media menyajikan pernyataan secara utuh, ada yang memenggalnya untuk membentuk opini tertentu, bahkan ada juga yang memelintirnya dengan beragam cara, termasuk dengan menyisipkan kebohongan.

Himbauan Jokowi kepada masyarakat Jakarta untuk merayakan malam takbiran di masjid-masjid setempa dipelintir menjadi larangan konvoi keliling Ibu Kota di malam takbiran.

Menariknya, yang termakan plintiran media bukan hanya rakyat kebanyakan, tetapi juga ulama-ulama MUI, seperti Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnaen. Demikian juga dengan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam yang mengatakan pernyataan Jokowi itu tidak relevan, ahistoris, dan tidak memahami utuh masalah sosial keagamaan.

“Bahwa larangan takbir keliling tidak relevan, ahistoris, dan tidak memahami utuh masalah sosial keagamaan. Bisa jadi lalai, perlu diingatkan. Semoga tidak punya agenda lain,” katanya.

Doktor hukum Islam ini mengingatkan, bagi umat Islam yang ingin melakukan takbir keliling tentu harus tetap menjaga ketertiban, keamanan, dan kekhidmatan.

“Takbir Keliling adalah bagian dari syiar yang dianjurkan,” katanya.

Kalau tokoh ulama saja mudah menjadi korban pelintiran media, tentu saja yang dimaknai oleh rakyat lebih lagi. Sebagaimana pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” rakyat kebanyakan himbauan Jokowi agar masyarakat takbiran di masjid-masjid saja dan tidak usah keliling, tidak usah konvoi dimaknai sebagai larangan bertakbir.

Bila Jokowi yang dikenal dengan gayanya yang santun saja bisa menimbulkan kontroversi akibat plitiran media (Terkait Himbauan Jokowi Media Tunjuka Kredibelitasnya), lantas bagaimana dengan Ahok yang kerap dinilai dinilai ini.

Bercermin dari plintiran media tersebut, dan jelas bermuatan politis menginat yang menghimbau tidak dilakukannya konvioi takbiran bukan hanya Jokowi tetapi juga ormas NU dan Muhammadiyah, sebaiknya Ahok lebih mawas diri lagi. Paling tidak Ahok mengurangi pernyataan-pernyataannya yang tidak terkait dengan subtansi masalah, seperti menceritakan keberaniannya saat menghadapi pendemo yang mendatanginya (Lebay, Ahok Malah Merajam Dirinya Sendiri).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 3 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 4 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 9 jam lalu

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | 9 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: