Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Budi Pasopati

berbagi ilmu dan pengalaman

Pusthun

OPINI | 14 June 2013 | 06:01 Dibaca: 1894   Komentar: 14   8

Ramai jadi perbicangan tentang Pusthun. Apa itu pusthun? Apakah hanya sekedar sosok wanita saja?. Padahal bicara tentang Pusthun, selalu terkait dengan 4 (empat) isyu sentral: wanita cantik, budaya patriakhi, taliban, dan keturunan bani Israil.

Tak dipungkiri, gosip seantero jagad, Pusthun memiliki wanita cantik. Paling tidak tercantik untuk wilayah Pakistan dan Afganistan. Paling tidak cantik jika diperbandingkan sosok wanita dari suku Hazara, Tajik atau Uzbek yang mendiami wilayah yang sama. Gosip seperti infotainment di televisi makin menjadi tatkala sosok itu sulit untuk ditemui. Seperti menemukan sosok Naga yang bersembunyi di balik goa tertutup. Hanya orang-orang yang beruntung dapat menjumpainya. Karena bagi suku Pusthun, wanita adalah harta yang harus dilindungi. Tidak mudah bagi orang asing, terutama pria dapat diperlihatkan. Haram hukumnya, menampakan wanita Pusthun kepada orang asing. Saking menghormati dan melindungi wanita, suku Pushtun akan sangat malu jika anggota keluarga mereka yang wanita terlihat orang.

Wanita bagi suku Pusthun sama senilai dengan harta lain yang harus dijaga marwahnya. Salah satu cerminan prinsip Pashtunwali (cara hidup Pasthun). Martabat pria dipertaruhkan untuk menjaga zar (emas), zamin (tanah) dan zan (wanita). Prinsip yang mendasari kehidupan terhormat dalam bentuk manawati (perlindungan). Harga diri dipertaruhkan dengan nyawa kepada siapapun yang melanggar perlindungan atas Pashtunwali. Pria pasthun akan bersedia mengeluarkan pedang dengan norma badal (keadilan atau pembalasan dendam).

Kecantikan wanita pusthun hanya dapat dibayangkan. Tidak dapat dimiliki. Wanita Pusthun hanya diperkenankan menikah dengan sesama suku. Baik dalam sub klan: Sarabani, Baitani, Gharghast, atau Karlanee. Orang asing hanya dapat “mengintipnya” itupun jika beruntung. Orang asing yang penasaran pada kecantikan wanita Pusthun, nampak saat acara Sibi Mela. Festifal di Pakistan dimana suku pusthun memamerkan kuda dan hewan ternak-ternak mereka kepada wisatawan. Jika beruntung orang asing dapat “mengintip” kecantikan wanita Pusthun di Sibi Mela. Di acara itu dilaksanakan juga acara pernikahan ala suku Pusthun. Seorang wisatawan mengisahkan, sosok wanita pusthun dengan melukiskan: “mereka bermata besar, hidung mancung. Kulitnya ada yang hitam ada yang lebih putih juga”. Sibi Mela adalah festival yang sudah berlangsung ratusan tahun di Sibi, wilayah Balochistan, 160 km dari lembah Quetta.

Dalam adat suku pusthun, wanita tidak bisa memilih calon suaminya. Keluarga yang telah menjodohkannya. Begitupun sebaliknya. Sampai hari pernikahan sekalipun, kedua mempelai tidak saling mengenal. “harga” wanita dipertukarkan dengan Mehr atau Sar yang diberikan oleh keluarga pengantin pria. Sar juga dianggap sebagai kehormatan. Semakin tinggi harga pengantin wanita, maka semakin dihargailah sang wanita ini di keluarga pengantin pria. Setelah berumahtangga, tabu hukumnya wanita Pasthun mengajukan gugat cerai kepada suaminya. Perempuan terancam dianiaya atau bahkan dibunuh apabila memohon cerai - terutama di wilayah pedesaan yang berbatasan dengan Afghanistan.

Seperti yang dialami oleh Ghazale Javed. seorang penyanyi terkenal dari Peshawar, Pakistan. Javed kabur ke Peshawar pada tahun 2009 untuk melarikan diri dari kota asalnya, Swat Valley, yang ketika itu didominasi Taliban. Dia kabur dikarenakan militer Taliban saat itu tengah melancarkan operasi sweeping khususnya terhadap para penyanyi dan penari. Tapi bukan karena hanya itu saja Javed akhirnya dibunuh. Javed menggugat cerai suaminya, karena ketahuan suaminya memiliki istri simpanan. Javed tewas ditembak pria-pria bersenjata saat keluar dari salon kecantikan di Peshawar, 1 Januari 1988.

Budaya partriaki dalam suku pusthun, menempatkan posisi pria sebagai penjaga kehormatan. Karena nama Nama Pushtun sendiri berasal dari Pashtunwali yakni nilai-nilai kehormatan (nang) yang dianut oleh orang-orang Pushtun. Bagi orang Pushtun, nang sangat penting artinya. Akar dari nang adalah rasa malu atau lazim disebut sharam. Mereka yang menyinggung kehormatan (nang)  berarti sudah siap untuk kehilangan nyawanya. Ada beberapa nang yang dijunjung tinggi orang Pushtun, misalnya; melmastia (keramah-tamahan pada tamu), badal (keadilan), dan nanawatai (penyelesaian masalah dengan maaf). Seorang pria harus menjaga kehormatan suku dan agamanya. Bagi kaum lelaki Pushtun, ada tiga hal lain yang tidak bisa diganggu gugat hak miliknya; zan (wanita), zir (harta), dan zamin (tanah). Pelanggaran terhadap tiga z ini bisa berbalas nyawa. Jika terjadi pelanggaran atas tanah, perempuan, atau emasnya, kehormatan mengharuskannya membalas. Lelaki tanpa kehormatan adalah lelaki tanpa bayangan, tanpa harta, tanpa martabat.

Sejarah menyebutkan bahwa suku pushtun ini sering dikarakteristikkan sebagai ras pejuang yang sangat terkenal di Asia pada abad pertengahan. Perjuangan suku pushtun terhadap imperialis kerajaan Inggris dan Rusia memegang peranan penting pada sekitar abad 19. Pejuang mujahiddin yang melawan pemerintahan Afghanistan yang pro Uni Soviet (sekarang Rusia) pada sekitar tahun 1980-an sebagian besar berasal dari suku pushtun. Mata dibalas mata seakan melengkapi rumus balas dendam turun temurun di antara suku Pashtun.

Budaya pejuang suku pusthun dapat dilihat pada prosesi pernikahan. Ada satu tradisi yang disebut Naksha Wisthal. Ini adalah salah satu permaian favorit Suku Pusthun. Para pria akan asyik membidik target menggunakan anak panah yang diberikan. Orang pertama yang berhasil mengenai sasaran akan diberi hadiah sorban.

Mayoritas pimpinan Taliban berasal dari suku Pusthun. Dalam hal perjuangan di Afganistan, hal yang diperjuangkan kelompok ini adalah hasrat untuk menaklukkan Afganistan (bersifat Pashtun-centric). Karena prinsip-prinsip perjuangan Taliban mengacu kepada Pashtunwali (The Way of the Pashtun). Jadi, membicarakan Pusthun tidak lepas dari Taliban.

Kecantikan wanita pusthun diyakini karena suku ini berasal dari turunan bani Israil. Suku Pusthun dianggap sebagai 10 suku yang hilang dari keturunan Israel. Khususnya keturunan dari suku Benjamin. Sebuah studi yang dilakukan oleh Navras Jaat Aafredi, mencoba menyelusuri silsilah hingga ke salah satu suku hilang Israel sejak sekitar 2.700 tahun yang lalu. Studi ini juga melakukan analisis genetika yang diambil dari Suku Afridi di India dimana Suku Pushtun berasal yaitu suku yang mewakili ras utama dari orang-orang Afghanistan.

Suku ini mayoritas beragama Islam. Namun menganggap diri sebagai anak-cucu Kish. Orang Pusthun bertradisi menyunat anak di usia delapan hari. Berpakaian model tzizit orang Israel, menyalakan lilin pada Jumat malam (malam Sabbat).

Lepas dari isyu central budaya patriakhi, taliban, atau keturunan bani Israil. Pasthun memang diakui memiliki wanita cantik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Unimog Promosi Gratis …

Agus Japloens | | 22 August 2014 | 01:11

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | | 22 August 2014 | 11:31

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Hati-hati Minum Jamu Pemberian Paranormal …

Mas Ukik | | 21 August 2014 | 20:15

Mau Ikutan Diskusi Bareng Anggota DPR Komisi …

Redaksi Kompas.com | | 21 August 2014 | 13:59


TRENDING ARTICLES

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 5 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 5 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 7 jam lalu

Pernyataan Politik Bermata Banyak …

Hendra Budiman | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: