Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Fachrudin Alfian

"Hidup apa adanya, yang penting bahagia dan bermanfaat bagi sesama."

Taufiq Kemas dan Empat Pilar Kebangsaan

OPINI | 10 June 2013 | 00:04 Dibaca: 612   Komentar: 2   0

Bangsa indonesia hari ini telah kehilangan salah satu putera terbaiknya, negarawan yang juga sebagai sosok yang selalu mempertegas tentang pentingnya empat pilar berbangsa dan bernegara yaitu “H. Muhammad Taufiq Kiemas”. Politikus senior itu telah berpulang ke rahmatullah kemarin sekitar pukul 19.05 waktu singapura atau 18.05 WIB di rumah sakait General Hospital singapura. Kabar itu tentunya membuat banyak pihak terkejut karena sebelumnya Taufiq Kiemas sempat menghadiri acara hari lahir pancasila sekaligus peresmian situs bersejarah Bung Karno di Ende,Flores,NTT. Tapi karena memang faktor kesehatan yang tidak stabil, akhirya TK mengalami kelelahan setelah menghadiri acara tersebut dan langsung dibawa oleh sang istri “Megawati Soekarno Putri” ke singapura untuk dirawat pada salah satu rumah sakit disana.

Setelah beberapa hari dirawat disana,akhirnya kemarin (08/06/13) Bpk.Taufiq Kiemas menghembuskan nafas yang terakhir dengan di dampingi oleh istri dan putra-putrinya tercinta. Selesai sudah tugas dan amanah yang dibebankan selama ini kepadanya sebagai ketua MPR-RI yang selalu konsisten menyuarakan gagasan-gagasannya tentang pentingnya memahami dan mempraktikan kearifan bangsa yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa ini. Salah satunya adalah dengan pengenalan atau sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara (Pancasila,UUD,NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) kepada para masyarakat.

Taufiq Kiemas bisa dikatakan sebagai pejuang empat pilar kebangsaan. Sejak menjabat sebagai ketua MPR-RI beliau selalu merealisasikan agar emapat pilar kebangsaan tersebut bisa mendarah dan mendaging dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Maka dari itu,MPR-RI di bawah kepemimpinannya selalu berpindah-pindah tempat dari satu lokasi ke lokasi yang lain bahkan sampai ke daerah-daerah pelosok seperti papua hanya untuk sekedar memberikan pemahaman tentang arti pentingnya empat pilar tersebut bagi kehidupan mereka.

Saya lebih apresiasif sekali ketika nilai-nilai dari empat pilar tersebut sudah mulai masuk dalam pikiran para anak muda. Target MPR-RI tak hanya dalam ruang lingkup masyarakat saja, tapi sudah mulai masuk ke dalam ruang lingkup akademik, yaitu kampus. Kampus sebagai sebuah lahan pengembangan intelektual tentu menjadi sebuah sasaran yang tepat untuk penggodokan nilai-nilai empat pilar kebangsaan ini terhadap para civitas akademiknya. Hal ini dirasa perlu mengingat kehidupan mahasiswa zaman sekarang yang hanya berkutat pada kepentingan materi semata, sifat hedonisme dan acuh tak acuh terhadap persoalan bangsa ini kerap menjadi sebuah penyakit yang sulit dihilangkan dari diri mahasiswa saat ini. Diharapkan dengan pengenalan empat pilar kebangsaan terhadap mahasiswa sedikit demi sedikit dapat memberikan rasa kepedulian terhadap bangsa dalam diri mahasiswa itu sendiri.

Menurut Taufiq Kiemas empat pilar kebangsaan itu merupakan sebuah prasyarat minimal bagi bangsa ini untuk bisa berdiri kokoh dan meraih kemajuan berlandaskan karakter kepribadian bangsa indonesia. Ia juga menjelaskan, setiap warga negara indonesia harus memiliki keyakinan bahwa prinsip-prinsip moral keindonesiaan itu akan memandu tercapainya perikehidupan bangsa yang merdeka,bersatu,berdaulat adil dan makmur.

Perumusan tentang 4 pilar kebangsaan sempat terjadi kemandekan selama 2 tahun di MPR. Hal ini terjadi karena adanya pengkotak-kotakan ideologi pancasila. Antara pihak yang satu dengan yang lainnya masih berselisih paham apakah ideologi pancasila patut di terapkan di dalam asas berbangsa dan bernegara. Untungnya dengan hadirnya Taufiq Kiemas sebagai orang nomor satu di MPR-RI berhasil mengarahkan empat pilar kebangsaan itu pada konteks sejarah yang obyektif melalui pendekatan yang obyektif dan mengakomodasi semua golongan, khususnya golongan para anak muda. Pak Taufiq pernah berpesan “Anak muda harus mendukung empat pilar kebangsaan itu ujarnya.

Kini setelah Taufiq Kiemas telah tiada, apakah gagasan-gagasannya tentang pentinganya 4 pilar kebangsaan masih akan terus berlanjut? Apakah pengorbanannya selama ini untuk selalu menghidupkan nilai-nilai pancasila akan selalu terukir dalam setiap memori anak bangsa? Tentunya kita berharap, MPR-RI pasca kepergian Taufieq Kiemas tetap konsisten menyuarakan dan mencanangkan empat pilar kebangsaan kepada seluruh elemen bangsa ini. Mungkin PR selanjutnya untuk MPR adalah bagaimana bisa melanjutkan pemikiran-pemikiran Taufiq Kiemas tentang bagaimana seharusanya bisa melakukan penyadaran,pengembangan, dan pemberdayaan masyarakat yang menyangkut empat pilar tersebut.

Hal itu diperlukan agar kedepannya semua elemen baik itu dari tingkatan pusat maupun daerah dan segenap warga negara bisa memahami dan melaksanakan nilai-nilai empat pilar tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selamat jalan pak Taufiq, semoga ada penerusmu yang siap untuk menjalankan apa yang sudah kau korbankan dan cita-citakan untuk terus menghidupkan warisan para pendiri bangsa ini. Yaitu memegang teguh nilai-nilai yang sudah terkandung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Galah Asin/Gobak Sodor, Permainan Anak-anak …

Bowo Bagus | | 15 September 2014 | 14:47

Punya Masalah Layanan BPJS hingga Keuangan? …

Ilyani Sudardjat | | 15 September 2014 | 11:44

Prostitusi dan Dominasi Turis Arab di …

Sahroha Lumbanraja | | 15 September 2014 | 13:02

Siapa Peduli Kesalahan Prasasti ASEAN di …

Syaripudin Zuhri | | 15 September 2014 | 11:54

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Buat Keju Sendiri Yuk …

Fidiawati | 7 jam lalu

Jokowi dan UU Pilkada Potret Kenegarawanan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Ahok Emang Cerdas Kwadrat …

Ifani | 9 jam lalu

Memahami Cinta, Pernikahan dan Kebahagiaan …

Cahyadi Takariawan | 10 jam lalu

Koalisi Pembodohan …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengapa Saya Memilih “Bike to …

Happy Indriyono | 8 jam lalu

Festival Film Bandung, SCTV, dan Deddy …

Panjaitan Johanes | 8 jam lalu

Masyarakat Ekonomi Asean 2015 …

R_syah | 8 jam lalu

Blusukan = Berunding dan Berdamai …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Ultah Ke-30, Pangeran Harry Merasa Masih …

Darren Wennars | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: