Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Ahmed

Muslim | SMALSA 2003 | ANTI-JIL | Author | Blogger | FH UNS 2004 | selengkapnya

Johan Budi & Fahri Hamzah Berakar Sama di Tarbiyah, Berdamailah…

REP | 17 May 2013 | 11:23 Dibaca: 9831   Komentar: 33   5

Johan Budi

Johan Budi

Anda mencari biodata atau biografi tentang Johan Budi SP di Google tapi tidak menemukan jejaknya? Apakah jangan-jangan Johan Budi seorang agen, intelijen, atau spion yang punya koneksi kuat dengan orang-orang kuat negeri ini sehingga bisa meminta mereka menghapuskan jejak-jejaknya dari dunia maya?

Saya rasa itu hal yang biasa. Barangkali kita belum maksimal dalam mencari tahu suatu informasi melalui Google. Atau justru kita terlalu diperbudak oleh Google sehingga hanya karena Google tidak mampu menemukan jejak latar belakang Johan Budi, lantas kita menyerah begitu saja? Tentu saja tidak. Kita manusia yang diberikan anugerah Allah SWT berupa otak yang potensial. Otak kita jauh memiliki potensi lebih hebat dibanding Google. Kecuali jika Anda berpikir sebaliknya. Maka tinggal katakan saja ’sayonara’ untuk otak kita.

Sulitnya penemuan jejak Johan Budi di Google memicu sebagian orang untuk menebak-nebak dan menduga-duga. Berdasarkan pantauan saya di linimasa dan dunia maya secara umum, tak sedikit yang memelesetkan inisial JB dengan sebutan yang buruk. Setidaknya menurut saya. Ada yang memelesetkan Johan Budi dengan Johan Blo’on, Johan Bodoh, Johan Bisu, Johan Belagu, Johan Babak Belur, dan lain-lain. Lebih mirisnya, sebutan itu keluar dari saudara-saudara saya yang secara dzohir agamis. Lebih parah, ada beberapa orang yang sampai menyebut Johab Budi sebagai agen intelijen.

Saya tidak persoalkan tentang apakah dia agen intelijen atau tidaknya. Itu di luar kemampuan saya. Tapi yang saya persoalkan, ada yang menyebut Johan sebagai agen hanya berdasarkan terkaan dan perkiraannya karena jejak Johan tidak terdeteksi oleh Google. Bagi saya, ini pernyataan paling ‘maksa’ yang saya baca. Takutnya, hal itu bisa menimbulkan fitnah di masyarakat. Perlu diingatkan kepadanya untuk tabayun terlebih dahulu. He3x.

Johan Budi menjadi trending topic pembicaraan di kalangan masyarakat setelah salah seorang petinggi Partai nasional dan juga anggota DPR RI, Fahri Hamzah, ‘menantangnya’. Berawal dari kasus dugaan korupsi daging yang menyeret nama LHI, entah mengapa sampai menjadi perseteruan antara Johan Budi dan Fahri Hamzah yang mencapai puncaknya di debat Indonesia Lawyer Club (ILC) TV ONE.

Saya ingin cerita sedikit tentang Johan Budi dari informasi yang saya peroleh dari seorang jurnalis cukup senior, mas Hanibal Wijayanta. Harapan saya, setelah kita sedikit tahu tentang ‘track record’ Johan Budi, kita bisa lebih adil dalam menilai sosoknya.

Pertama, ada yg mempertanyakan ke mana Jurubicara KPK yang alot, ulet dan dingin ini pd tahun 1998 dimana pergolakan reformasi mencapai puncaknya pada bulan Mei. Ratusan ribu mahasiswa turun ke jalan menuntut reformasi dan diakhirinya orde baru. Sebagian orang kemudian mempertanyakan dimana Johan Budi pada saat itu seolah perannya tidak ada dalam reformasi. Pada tahun 1998, Johan Budi saat itu sudah menjadi wartawan di FORUM Keadilan. Karena sudah menjadi wartawan, partisipasinya dalam reformasi tentunya tidak dalam wujud demonstrasi, tetapi pada pemberitaan.

Sebelum menjadi wartawan di FORUM Keadilan, Johan Budi bekerja di sebuah perusahaan petrokimia, sesuai dengan jurusannya saat kuliah di UI. Ya, Johan Budi ‘anak’ alumni Teknik Gas & Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Silakan dikroscek ke almamaternya kalau kiranya ingin di-tabayun-kan.

Johan memulai karier sebagai wartawan, 2 setelah mas Hanibal di FORUM Keadilan. Johan kemudian pindah ke Tempo sebelum mas Hanibal. Saat mas Hanibal bergabung di Tempo tahun 2000, ia diamanahi untuk memimpin Tempo Interaktif sebagai embrio Tempo News Room. Sementara Johan Budi diamanahi sebagai Kepala Biro Jakarta di Majalah Tempo.

Selanjutnya saat Koran Tempo dibentuk, mas Hanibal dipercaya menjadi Redaktur Bidang Nasional, sementara Johan Budi menggantikan mas Hanibal sebagai Kepala Tempo News Room.

Kemudian saat mas Hanibal mendapat tugas belajar ke Australia pada tahun 2003, Johan Budi lah yang mengantikan mas Hanibal sebagai Redaktur Bidang Nasional. Namun tak lama setelah mas Hanibal pulang dari Australia, ternyata Johan sudah bergabung ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tentang hijrahnya Johan Budi ke KPK ini, ada pembicaraan menarik antara Johan dengan salah seorang rekannya yang kini menjadi editor di Tempo. Mereka berbicara tentang independensi jurnalis & komitmen pemberantasan korupsi. Pada saat itu, Johan menyebut beberapa kalimat menarik.

Menulis pemberantasan korupsi itu jg jihad. Tapi kalau harus memilih, saya memilih berjihad atas korupsi secara langsung di KPK. Bentuk & cara bisa lain, tapi tujuannya sama,” kata editor Tempo itu mengulang kembali pesan pembicaraannya dengan Johan Budi beberapa tahun silam.

Johan Budi & Halaqoh Tarbiyah

Saat menjadi staf redaksi mas Hanibal di Forum Keadilan, Johan Budi pernah bercerita kalau saat kuliah dia sering ikut liqo (halaqoh) & kajian-kajian di Jamaah Tarbiyah. Namun karena kesibukannya sebagai wartawan, Johan Budi kemudian mengaku agak jarang “ngaji” di Tarbiyah.

Selama bergaul dg mas Hanibal, menurut mas Hanibal, Johan Budi tergolong wartawan yang memiliki keberpihakan pemberitaan kepada Islam, terutama Jamaah Tarbiyah.

Di Tempo yang punya budaya sekuler kuat, Johan Budi merupakan salah satu wartawan yang tidak pernah lupa shalat lima waktu.

Yang jelas Johan sering makmum sama aku. Malah waktu awal-awal di Forum Keadilan dulu jidatnya masih item loh,” kata mas Hanibal melalui pesan di status Facebook-nya.

Sifat-sifat & proses Tarbiyah Johan Budi itupun diamini salah seorang rekannya di FT UI yang sekarang sudah menjadi Guru Besar di UI, Prof. Dr. Misri Gozan.

Menurut seorang Editor di Tempo, Johan Budi ia kategorikan sebagai orang yang bijak dan hati-hati.

Johan orang yang prudent. Kami bekerja satu tim di Forum Keadilan dan Tempo hingga ia memutuskan berjihad melawan korupsi melalui KPK,” kata editor Tempo, Niniel Wda di akun Facebook-nya.

Ia banyak bercerita di masa di UI dan jamaahnya. Termasuk menemukan istrinya di jamaah itu,” tambahnya.

Sedangkan kata temannya yang lain di Tempo yang sekarang sudah menjadi CEO PT. Skyworx, Betley Heru Susanto, Johan Budi dianggap wartawan yang tulisannya dilandasi kemampuan riset yang dalam.

Dan menurut mas Hanibal, gaya Johan Budi yang alot, ulet, dan dingin saat mewawancarai narasumber, dianggapnya cukup tepat dengan posisinya sekarang sebagai juru bicara KPK. Mas Hanibal mengakui bahwa Johan adalah wartawan yang cukup kritis, dengan gaya wawancara yang alot, & dengan tulisan yang cukup baik.

Demikianlah kiranya diantara Johan Budi & Fahri Hamzah boleh dibilang punya titik persinggungan pada akar yang sama, Tarbiyah. Jika ada personal friksi, bukankah ishlah lebih baik sesama Muslim?

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Ma’idah: 8)

Sumber Bacaan:

Liqo’ biasanya diartikan dengan sebuah kegiatan pengajian atau pengkajian agama Islam secara terbatas dalam kelompok-kelompok kecil yang berisi beberapa orang.

Jamaah Tarbiyah merupakan sebutan untuk kelompok atau komunitas muslim yang berdiri kisaran tahun 1980an dan kemudian membidani lahir dan berdirinya Partai Keadilan pasca reformasi sebelum kemudian berganti menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Ayat al Quran ini dijadikan sebagai pedoman keadilan di Universitas Harvard. Baca: Universitas Harvard Jadikan Al Quran Pedoman Keadilan

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Tukang Ojek yang Membawa Perdamaian di Kota …

Uwais Azufri | | 27 August 2014 | 14:30

Artis Cantik Penginjak Bendera ISIS …

Den Hard | | 27 August 2014 | 12:26

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 10 jam lalu

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: