Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Ariel Noah, Simbol Pelecehan Wanita yang Didewakan

OPINI | 10 May 2013 | 07:08 Dibaca: 7646   Komentar: 261   23

Belum juga reda pemberitaan seputar wanita-wanita cantik yang mengelilingi Ahmad Fathonah, kita dikejutkan kembali oleh kabar heboh terkait foto Mesra Ariel Noah dengan Devi Liu, seorang model majalah pria dewasa. Di sini saya tidak mau membahas tentang sejauh mana hubungan mereka, serta apakah foto tersebut nyata 100% ataukah hasil editan. Yang menggelitik benak saya justru komentar dari Devi Liu yang mengatakan , “Iya itu foto lucu-lucuan saja. Niatnya mau bikin iri teman-temannya Devi, bisa foto bareng Ariel.”

Sekilas saja, pernyataan Devi di atas menunjukkan betapa ia merasa bangga bisa berfoto mesra dengan pria macam Ariel Noah. Tak ada kata penyesalan, bahkan mungkin ia tidak sadar bahwa sejatinya perbuatan tersebut telah merendahkan ‘derajat kewanitaannya’. Layak untuk ditanyakan kepada seorang Devi Liu,kalau sekadar berfoto mesra saja ia merasa bangga luar biasa, jangan-jangan ketika Ariel bersedia ‘berbuat lebih jauh’ terhadapnya, maka justru semakin banggalah ia. Namun yang lebih layak kita cemaskan adalah satu kekhawatiran, apakah tindakan seorang Devi Liu tersebut merupakan cermin dari moralitas kebanyakan kaum wanita muda negeri ini?

Untuk menjawabnya, mungkin perlu bagi kita flashback ke belakang. Dulu ketika Ariel bebas dari hotel prodeo  gara-gara kasus video pornonya dengan Luna Maya dan Cut Tari, ratusan penggemar menyambutnya gegap gempita. Ariel disambut bak pahlawan, seolah ia adalah pejuang kemanusiaan yang ditahan penguasa lalim dan setelah penguasa lalim tersebut tumbang, kebebasan sang pejuang disambut pendukungnya dengan suka cita. Tak cuma sampai di situ. Sejumlah stasiun TV ramai-ramai mengekspose bebasnya Ariel dari jeruji besi sebagai tema yang diobral buat mendongkrak rating. Luar biasa! Seorang penjahat moral, simbol pelaku pelecehan wanita malah diapresiasi setinggi langit.

Awalnya saya pun merasa geram bukan kepalang. Ah, bagaimana mungkin seorang yang jelas-jelas terbukti melakukan tindakan mesum dan bahkan tanpa rasa malu merekam adegan mesumnya tersebut, malah semakin melejit karirnya? Kenapa tidak ada sanksi sosial bagi manusia macam itu? Tapi sejurus kemudian saya tersadar. Ternyata meroketnya kebintangan seorang Ariel pasca bebas dari jeruji besi tak dapat dilepaskan dari sifat ‘pemaaf’ kaum wanita negeri ini.Tengoklah, betapa jutaan remaja putri di tanah air dapat dengan mudah melupakan tindakan Ariel yang telah melecehkan derajat kaum wanita. Bahkan selanjutnya mereka dengan senang hati menjadi fans berat Ariel hingga hobi teriak histeris ketika menyaksikan idolanya beraksi di atas panggung. Ya, harus diakui. Sifat pemaaf dari kaum wanita di negeri inilah yang membuat karir Ariel tidak meredup, bahkan kian meroket. Coba kalau seluruh kaum Hawa di negeri ini memboikot Ariel. Tentu karir sang bintang bakal hancur dengan sendirinya.

Bila memang demikian realitanya, sungguh ironi sekali. Di saat para pejuang hak-hak perempuan semakin lantang berteriak, “hentikan pelecehan terhadap wanita!” Di saat hari Kartini semakin meriah diperingati, ternyata makin banyak pula wanita yang semakin gemar merendahkan derajatnya sendiri. Demi popularitas, demi kegemilangan karir mereka rela mengobral ‘kewanitaannya’. Barangkali tak berlebihan bila saya katakan, fenomena Ariel ini adalah cermin moralitas bangsa, terutama kaum wanitanya yang kian mentolerir berbagai bentuk ‘pelecehan halus’ terhadap harkat dan martabatnya sendiri. Akhirul kalam, saya ingin mengajak kepada kaum Hawa yang masih memiliki kesadaran tinggi untuk membela derajat kewanitaannya. Stop mendewakan Ariel, karena sejatinya ia adalah simbol pelecehan wanita yang bersembunyi di balik jubah keartisan! Kalau terhadap Fathonah saja anda dapat menghakimi secara tegas, kenapa tidak dengan Ariel???????


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 4 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Filosofi Kodok …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Mirip Penyambutan Raja yang Dicintai …

Dr. Nugroho, Msi Sb... | 7 jam lalu

Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami …

Nelvianti Virgo | 7 jam lalu

Fenomena Rokok pada Anak Usia Dini …

Dian Wisnu Al Afdho... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: