Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Khus Indra

Pecinta Sastra dan Seni | Pengagum pemikiran Friedrich Nietzsche | Pengkritik ulung

Jokowi dan Standar Kepemimpinan Sekarang

OPINI | 06 May 2013 | 18:35 Dibaca: 1248   Komentar: 3   0

Jokowi, nama yang kurang atau tidak pernah terdengar ketika menjelang pemilu 2004 lalu. Nama ini juga terlalu asing pada saat itu, kecuali bagi warga Solo sendiri. Pada tahun 2004 silam, beliau baru menjabat sebagai walikota Solo. Dari seorang pengusaha kayu/mebel, beliau beralih ke ranah pemerintahan. Saat itu juga, semua mata mulai melirik dan mengawasi gerak-gerik pria kelahiran 21 juni 1961.

Ketika menjabat sebagai walikota, Pemuda solo ini mulai membangun kota kelahirannya dari mulai hal-hal kecil, seperti pasar-pasar yang kurang tertata rapi, serta mengenai pembangunan infrasturkturnya. Ibarat sosok jokowi memberikan air segar di tengah Oase. Pria yang terkenal dengan gaya¬†blusukan ini, mulai membuat gebrakan-gebrakan baru dengan menampilkan sisi kreativitas dari kota solo tersebut. Beberapa ide-ide brilian yang dicetus adalah dengan membuat solo sebagai city branding, membangun solo melalui seni budayanya sehingga lahirlah acara tahunan ‘Solo Batik Karnival’. Ide-ide kreatif mulai diimplementasikan sehingga membuat nama Solo semakin terkenal baik secara domestik maupun mancanegara.

Dia memimpin solo seperti benar-benar mendengarkan aspirasi warganya sendiri. Dia melakukan pendekatan persuasif untuk mengajak warganya membangun kota solo bersama. Dia blusukan, gemar berkeliling kampung dan desa untuk menemui warganya. Tetapi, hal itu bukan merupakan suatu perbuatan yang sia-sia. Dalam buku biografi yang ditulis oleh Alberthine Endah yang berjudul “Jokowi, Memimpin Kota, Menyentuh Jakarta’, Jokowi mengatakan,

“Tak ada sesuatu yang luar biasa yang saya buat, Saya hanya melakukan yang semestinya memang harus dilakukan.”

Kata yang cukup sederhana, dan tidak sulit untuk dicerna. Beliau menggambarkan bahwa pemimpin itu bukan sesuatu yang terlalu rumit, tetapi kalau seseorang memahami dengan benar bagaimana filosofis pemimpin, pasti akan melakukan sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan. Tidak ada yang istimewa, yang ada hanyalah kesederhanaan yang dibalut dengan kecintaan dan kesungguhan untuk menjalani suatu amanat. Apalagi untuk rakyat.

Ketika Jakarta Memanggil

Sejak memimpin solo dengan segudang prestasi yang telah diukirnya, beliau kemudian dilirik banyak pihak terutama kalangan politisi yang sangat gencar untuk mengajaknya bergabung. Tidak dipungkiri lagi, beliau sangat populer ketika pria yang menyukai genre musik rock memimpin solo. Pernah suatu kali ketika berkunkunjung ke solo dan ini kejadian nyata yang dialami oleh penulis. Ketika itu penulis sedang melakukan perjalan backpacking dan berencana berkeliling di kota Solo awal 2012 lalu. Suatu ketika, pada saat makan siang di pinggiran jalan Slamat Riyadi kota solo, Penulis bertanya kepada salah satu pelanggan yang kebetulan makan siang juga di pinggiran jalan itu,

Penulis : “Pak, di Solo kan ada dua keraton yaitu keraton Kasunan dan keraton Mangkunegara. Nah, kalau bapak sendiri ikut dan milih yang mana? Kasunan atau Mangkunegara?”

Bapak ¬†: “Wah dek, kalau bapak pilih Jokowi sajalah, Jokowi itu yang membangun kota Solo dari nol.”

Ini nyata. Dari percakapan ini, dapat dilihat bagaimana masyarakat butuh pemimpin seperti ini yang benar-benar berangkat dari nol dan membangun semua menjadi sebuah realita yang sejuk. Masyarakat merindukan tindakan nyata. Bukan janji.

Pertengahan 2012, DKI menggelar pemilihan gurbernur. Pria solo ini kembali melebarkan sayapnya. Beliau mencoba peruntungan menjadi Calon Gurbernur kota Metropolitan itu. Beliau mencoba tantangan baru. Pemilihan Gurbernur (Pilgub) digelar, jokowi berpasangan dengan basuki (bupati belitung kala itu). Setelah mengalami pergulatan yang cukup sengit dalam pilgub DKI 2012 kemarin, Hasil pun dibacakan. Dan yang keluar sebagai pemenang untuk memegang kursi jabatan nomor 1 di DKI adalah Jokowi dan Basuki. Pergulatan terhadap dirinya pun dimulai. Beliau harus bisa menyelesaikan setidaknya persoalan yang ada di jakarta.

Langkah demi langkah dia tapaki dengan hati-hati, karena dia sadar satu hal, yaitu setelah menjadi Gurbernur, segala pergerakannya mulai diawasi oleh seluruh media dan beliau menyadari itu. Hidupnya sungguh berat. Tidak boleh ada celah dari dirinya, karena media langsung akan memberitakan dirinya setiap momen. Berbagai masalah jakarta mulai beliau petakan. Blusukan, yang merupakan gaya khas Jokowi ketika memimpin di Solo, akhirnya beliau terapkan di Kota Jakarta. Setiap harinya, beliau turun langsung menemui warga dan menyimak seluruh masalah dengan jelas ketika berada di lapangan. Di samping itu, wakilnya, Basuki mengawasi dan membenahi kinerja dari birokrasi yang kacau di pemerintahan kota Jakarta.

Hampir setengah tahun sudah beliau menduduki kursi Gurbernur sejak dilantik pada tanggal 15 Oktober 2012. Kontribusinya untuk membangun jakarta sedikit demi sedikit memang belum kelihatan secara jeli. Tetapi, ada angin baru dan udara segar dalam kepemimpinannya. Ide-ide kreatif dituangkannya. Semua ini hanya untuk membuat kota yang terkenal paling macet di Indonesia ini menjadi ‘Jakarta Baru’. Terlepas dari semua itu, sosok Jokowi di beberapa kalangan sangat kontroversial, dan yang selalu ditanyakan dari hari ke hari adalah, “Tindakanya tersebut murni dari hati atau hanya sekadar untuk pencitraan?” Semua orang sebenarnya sudah bisa menjawab pertanyaan ini, karena semua pihak selalu mengawasi gerakan dia.

Kepemimpinan beliau di Jakarta, merupakan suatu panggilan dari masyarakat jakarta sendiri. Masyarakat Jakarta sendiri sudah pintar dalam memilih pemimpin dan mereka membutuhkan sosok seperti Jokowi yang benar-benar bisa menjalankan amanat yang ditugaskan sebagai orang nomor satu dalam kursi pemerintahan di Kota Jakarta. Jakarta yang memanggil beliau, karena dari hari ke hari Jakarta semakin kacau. Dan Jokowi pun sepertinya menjawab panggilan tersebut dengan berkata, “Jakarta, Semua ini perlu waktu, tidak secepat itu untuk merubahmu.”

Standar Kepemimpinan Sekarang

Semakin hari, kita semakin dekat dengan pemilu 2014. Calon-calon presiden mulai unjuk gigi dan sosok yang sudah memastikan dirinya dalam pencalonan semakin bergairah dalam memungut suara. kita telah memasuki tahun dimana kebohongan dan janji-janji akan diumbar kesana-kesini. Mari kita bersama mengawasi semua ini.

Seiring berjalannya waktu, Lembaga Survei yang ada di Indonesia pun semakin gencar melakukan simulasi untuk mencari siapa pemimpin sekarang yang mereka butuhkan untuk membangun negeri ini. Akhir-akhir ini, lembaga survei di Indonesia juga semakin gencar mengeluarkan hasil dari survei mereka sendiri. Untuk konteks pemimpin, Nama Jokowi hampir selalu menduduki peringkat nomor satu dalam hasil survei mereka. Meskipun jokowi tidak mencalonkan diri untuk maju sebagai Presiden di 2014. Tetapi masyarakat melihat bagaimana beliau bekerja dan memberikan udara baru. Masyarakat sudah bisa melihat sosok yang mana, yang baik untuk memimpin mereka ke depannya.

Hasil survei yang secara keseluruhan memilih jokowi sebagai sosok presiden yang tepat untuk saat ini, sebenarnya menghasilkan satu kesimpulan yaitu, Jokowi menjadi ukuran standar kepemimpinan sekarang ini. Jokowi juga dijadikan pembanding di antara pemimpin-pemimpin yang lain. Secara sadar atau tidak, ketika seseorang di kalangan bawah ditanya mengenai sosok pemimpin, secara otomatis, nama Jokowi akan keluar dari mulut mereka. Oleh sebab itu, tidak heran bila jokowi memenangkan pertarungan hasil survei dalam konteks Pemimpin untuk Indonesia di era sekarang ini. Jokowi telah memberikan jalan baru yang belum tentu semua pemimpin bisa membuka jalan tersebut.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 15 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 17 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 19 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 21 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: