Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Iin Munawaroh

Saya suka menulis dan ingin menjadi penulis HEBAT

Dari UM ke Komikus International

REP | 05 May 2013 | 05:12 Dibaca: 401   Komentar: 1   1

Nama               : Ardian Syaf

Panggilan        : Aan

TTL                 : Tulungagung, 13 januari 1980

Alamat           : Ds. Tenggur RT I/RW I, Kc. Rejotangan, Kab. Tulungagung

Hobi                : Menggambar

Profesi             : Penciller

Riwayat Pendidikan

SDN Tenggur, Rejotangan, Tulungagung (1986 – 1992)

SMPN 1 Ngunut, Tulungagung (1992 – 1995)

SMAN 1 Ngunut, Tulungagung (1995 – 1998)

S1 Desain Komunikasi Visual UM (1998 – 2004)

Riwayat Pekerjaan

Dabelbrothers Publishing (April 2008 – December 2008)

Marvel Publishing (Maret 2009 – Mei 2009)

D.C. Comic Publishing (Juni 2009 – Sekarang)


Berjuang keras tanpa berputus asa adalah kunci kesuksesan pada banyak orang. Begitupula yang dialami oleh Ardian Syaf, S.Sn, seorang komikus (Penciller) jebolan UM ini. Sosoknya yang lowprofile namun gigih ini mengantarkannya pada sederetan nama komikus terkemuka di beberapa publisher terkenal di Amerika Serikat. Berikut ini profilnya

Bagaimana awalanya anda bisa tertarik dengan dunia komik?

Sejak kecil saya memang suka menggambar, apapun saya gambar walaupun hasilnya tidak bagus. Hasil gambar saya awalanya sama dengan teman-teman yang lain seumuran saya, namun saya terus berlatih sampai gambar saya menjadi lebih bagus daripada teman-teman saya. Karena gambar saya yang bagus, saat itu ayah saya meminta saya menggambarkan cover buku dan beberapa ilustrasi gambar dari cerita yang ayah buat. Kebetulan ayah saya adalah seorang penulis cerita anak pada saat itu. Sampai pada akhirnya ada suatu lomba TTS yang saya ikuti, hadiahnya adalah komik. Nah, dari situlah saya memiliki komik untuk pertama kalinya dan tertarik untuk menggambar komik.

Menggambar komik adalah hobi anda pada waktu kecil. Bagaimana prosesnya hingga hobi tersebut menjadi sebuah pekerjaan anda saat ini?

Saya tidak pernah lupa dengan hobi dan cita-cita saya pada waktu kecil yaitu menjadi seorang komikus. Saya terus memelihara mimpi itu sampai SMP, SMA, bahkan saat kuliah di UM. Dulu saat kuliah di DKV, saya dan teman-teman saya membuka studio komik di kontrakan kami di Perum Sigura-gura. Pada waktu itu memang sedang banyak sekali studio-studio komik di Malang. Nah saya memulai karier menggambar saya dari situ. Dari sekedar penggambar skets wajah di jalanan.

Setelah lulus dari UM tahun 2004 saya bekerja di UM Press sebagai Layouter.  Gajinya saat itu adalah 2.500 rupiah per lembarnya, tapi saya sangat senang. Pada saat itu, selain menjadi seorang layouter saya juga mulai menawarkan beberapa gaambar saya ke penerbit-penerbit lokal di Indonesia, namun saya belum beruntung. Karya saya di tolak saat itu.

Tahun 2005 untuk pertama kalinya saya memberanikan diri melamar pekerjaan di publisher luar negeri. Berbekal informasi dari teman saya, saya mencoba mengiripkan karya saya lewat website. Awalnya saya memilih tingkatan pekerjaan yang paling ringan yaitu pada bagian pewarnaan, tapi saya ditolak. Kemudian saya beranikan diri melamar bagian yang lebih tinggi yaitu bagian tinta, tetap saya ditolak.

Pada tahun 2006 akhirnya saya menikah, dan mulai putus asa untuk melamar pekerjaan lagi. Namun saat itu istri saya justru optimis dan mendukung saya untuk tetap berjuang. Akhirnya saya beranikan diri untuk melamar lagi pada bagian paling sulit dan paling tinggi yaitu penciller, diluar dugaan justru saya diterima di bagian tersebut.

Tahun 2007 saya mulai mendapatkan kontrak dengan bayaran. Karya pertama saya dimuat oleh Dabelbrothers Publishing yaitu The Dresden Files: Welcome to the Jungle #1-4 ; The Dresden Files: Storm Front #1-2 ; dan Take a chance, selama April 2008 – December 2008.

Selanjutnya saya Mendapat kontrak lebih besar dari  Marvel Publishing selama Maret 2009 – Mei 2009. Karya-karya saya di Marvel antara lain Nightcrawler One-Shot, dan Captain Britain and MI-13 #13-14.

Setelah selesai kontrak dengan marvel, saya justru mendapatkan kontrak lebih besar dan eksklusif dari D.C Comic dengan sederetan karya judul seperti JLA #34; Blackest Night: Batman #1-3; JLA Cry for Justice #1 and #5; JLA 80 Page Giant; Crepúsculon; Blackest Night: The Phantom Stranger #42; Superman / Batman #68-71; Titans #23; Green Lantern Corps #48; Green Lantern Corps #49-52; Brightest Day #0-25; Superman / Batman #74; Birds of Prey #7; Green Lantern #62; Green Lantern #63; Action Comics #900; Brightest Day Aftermath: The search for Swamp Thing #1-3; Flashpoint Emperor Aquaman #1; Flashpoint Emperor Aquaman #2-3; Batgirl #1 dan judul-judul lainnya.

Selama bekerja menjadi penciller tersebut adakah kesulitan yang anda alami?

Tentu saja ada, bekerja dengan orang luar negeri menuntut saya bekerja secara disiplin. Setiap hari saya harus menggambar minimal satu halaman A3 sesuai dengan script yang dikirimkan pihak D.C Comic kepada saya. Tuntutan kerja yang demikian tentu juga harus disikapi dengan beberapa ide menggambar yang selalu baru. Kadang ketika anak atau istri saya sakit mood menggambar saya jadi berkurang sehingga pekerjaan juga tidak cepat selesai.

Terkadang juga ketika saudara atau tetangga memiliki hajat, mau tidak mau saya harus meninggalkan aktivitas menggambar saya untuk acara-acara tersebut. Lama-kelamaan pekerjaan saya menjadi menumpuk dan akhirnya harus dilembur untuk menyelesaikannya sesuai kontrak.

Bagaimana anda menyikapi masalah-masalah tersebut?

Untuk menyikapi hal tersebut, saya seringkali mencari waktu yang tepat saat mood saya sedang bagus-bagusnya. Saya sering memilih waktu dini hari saat anak dan istri saya tidur untuk mengerjakan menggambar saya sehingga gambar-gambar yang tidak terselesaikan kemarin bisa diselesaikan pada saat itu juga.

Dalam waktu sebulan berapa halaman yang harus anda kerjakan?

Rata-rata dalam waktu satu bulan saya menyelesaikan 20 halaman, namun juga bisa lebih. Terkadang bisa sampai 40 halaman dalam waktu satu bulan.

Berapa bayaran yang anda terima dari pihak D.C Comic terkait dengan pekerjaan anda sebagaqi penciller Eksklusif?

Pihak D.C Comic membayar saya dengan harga yang sangat pantas. Mereka sangat menghargai karya orang lain sehingga untuk setiap lembarnya saya di bayar sebesar $300.

Setelah sukses anda sering diundang oleh beberapa media di dalam maupun di luar negeri. Media apa sajakah yang pernah mengundang anda?

Beberapa media yang pernah mengundang saya antara lain koran kompas, Jawa Pos, Nyata, Nova, Tempo, Hitam Putih-Trans 7. Saya juga beberapa kali diundang di Pusat Kebudayaan Amerika di Jakarta, Acara komik tahunan di singapura, Pusat Kebudayaan Perancis di Surabaya, dan di Amerika Serikat sendiri saya sudah beberapa kali diundang namun tidak saya datangi.

Adakah pesan-pesan untuk  teman-teman Mahasiswa UM yang ingin mengikuti jejak anda?

Yang pasti jangan pernah melupakan mimpi dan cita-cita anda. Teguhkan hati anda terhadap mimpi-mimpi itu dan terus bangkit berusaha untuk mencapainya. Satu hal yang saya yakini sampai hari ini, bahwa tidak ada sesutupun yang tidak mungkin terjadi bagi kita. Tetap semangat, berikhtiar, dan berdoa. Jika ada rejeki berlebih atau sengaja disediakan, jangan lupa untuk bersedekah, karena bersedekah dapat membantu mencapai cita-cita kita. (Iin)

13677054151414980486

Ardian Syaf

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Curhat Dinda dan Jihad Perempuan …

Faatima Seven | | 17 April 2014 | 23:11

Mulai Terkuak: Penulis Soal UN “Jokowi” …

Khoeri Abdul Muid | | 18 April 2014 | 11:32

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 5 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 7 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: