Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Kiki Amaliapra

mahasiswi jurnalistik UPN VETERAN YOGYAKARTA

Rudi “Tukang Becak Suuuperr”

REP | 03 May 2013 | 18:48 Dibaca: 968   Komentar: 1   0

Tukang becak, pekerjaan yang sering disepelekan orang. Tak sedikit orang sering merendahkan orang dengan profesi ini, ibarat kata hanya memandang sebelah mata. Namun tak banyak yang tahu bahwa untuk  menjadi tukang becak itu bukanlah hal yang mudah, tak hanya bermodal otot saja, mereka juga harus modal pengetahuan pula serta kemampuan berinteraksi dengan baik.

Yogyakarta adalah kota yang selalu terkenal  melestarikan budaya dengan baik, salah satunya adalah mempertahankan becak sebagai alat transportasi tradisional. Penanganan transportasi becak di kota budaya Yogyakarta sudah dianggap lebih baik dari kota-kota lainnya. Karena banyaknya kunjungan turis, baik domestik maupun mancanegara, saat ini pun becak semakin hari semakin diminati sebagai transportasi terlaris bagi para turis yang memang sengaja ingin melihat keindahan corak budaya di kota pelajar ini. Para tukang becak akan siap sedia mengantarkan turis kemana pun mereka pergi. Layaknya seorang “ TOUR GUIDE” , mereka menjelaskan semua seluk beluk serta  corak kebudayaan di kota Jogja ini. Kemampuan berbahasa dan berkomunikasi menjadi faktor yang kian penting bagi mereka dalam menjalankan profesinya. Sehingga  tuntutan untuk para tukang becak agar berwawasan luas menjadi suatu keharusan, meskipun latar belakang pendidikan mereka minim (rendah).

Wawasan rendah tak menyurutkan niat dari Rudi menjadi seorang tukang becak dengan kualitas selayak orang berdasi. Rudi, ucap perkenalan lelaki pengayuh becak ini ketika kami akan menjadi calon penumpangnya. Dari pembawaan diri serta cara berinteraksinya ketika merayu kami untuk menjadi penumpangnya, kami merasa ada sesuatu yang unik dari diri seorang Rudi. Hingga kami akhirnya memilih untuk menaikki becak bergambar kucing betina ini. Kami mencoba memulai pembicaraan ringan dengannya hingga akhirnya ia mulai bercerita tentang pengalaman hidupnya. Rudi merupakan tukang becak dengan riwayat kehidupan yang menarik. Berbagai pekerjaan pernah dijajakinya hingga pada akhirnya, kini ia menjatuhkan pilihan pada profesi ini. Rudi lahir pada tanggal 29 Mei 1960 di Yogyakarta, sehingga dari kecil dirinya memang telah mengenal secara lekat kota dengan ciri khas batik ini. Ia tinggal bersama istri dan keempat anaknya di daerah Bantul, Yogyakarta. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, istri Rudi juga berupaya untuk bekerja dengan berjualan sembako di pasar Bantul.

Nostalgia mulai kami rasakan ketika bapak dari empat orang anak ini membuka cerita hidupnya dimasa lalu. Rudi merupakan salah satu lulusan SMA di Jogja. Setelah lulus SMA dirinya pun mulai memilih untuk melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan Teknik Sipil di Universitas Diponegoro, Semarang. Namun sayangnya, baru memasuki awal kehidupannya di bangku kuliah ini, dirinya memutuskan untuk berhenti karena faktor ekonomi keluarganya yang memang tidak memadai untuk tetap membiayai dirinya, sehingga jelaslah bahwa dirinya belum sama sekali merasakan bagaimana mengenyam menjadi seorang mahasiswa. Perasaan kecewa jelas nampak pada dirinya, namun Rudi tak pernah menyerah dan putus asa, karena memang kedua kata tersebut tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Semangat serta sifat ulet yang terlihat pada dirinya akhirnya membawanya untuk mencoba berbagai pekerjaan yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.

Kisah awal hidupnya membuat kami semakin ingin mengenal sosok lelaki berkulit sawo matang ini. Setengah perjalanan telah kami lalui, namun Rudi tanpa lelah mengayuh, justru semakin bersemangat menceritakan kisahnya pada kami. Berlanjut dari kisah sebelumnya, ia mulai kembali bercerita. Dengan perasaan kecewa yang amat dalam karena cobaan hidupnya, ia memulai merintis pengalamannya dengan mengikuti pembelajaran menjadi pengusaha muda yang berkontribusi pada pembuatan properti sarang burung wallet. Hari-harinya diisi dengan kegigihannya dalam memperdalam pengetahuannya tentang usaha properti ini. Enam tahun mulai berlalu, Rudi merasa bahwa dirinya mulai lelah dengan pekerjaan ini. Penghasilan dari pekerjaan ini sebenarnya cukup untuk kebutuhan dirinya, namun entah mengapa dirinya merasa bosan dan tidak betah sehingga dirinya memutuskan untuk mengakhiri karirnya dalam usaha properti ini. Dia tidak merasa menyesal keluar dari pekerjaan ini, karena menurut dirinya, sudah cukup banyak ilmu yang ia raih dalam bidang properti ini. Penghasilan bukan semata-mata orientasi yang ingin diraihnya, namun dirinya lebih menghargai bertambahnya ilmu dan wawasan pengetahuannya dari pembelajaran menjadi pengusaha muda properti tersebut.

Singkat cerita, setelah ia berhenti bekerja, ia kemudian tidak bermalas-malasan saja selayaknya seorang pengangguran. Namun dirinya kini mulai mencari kembali pekerjaan yang ingin digelutinya. Tukang bangunan, merupakan pilihan profesi selanjutnya yang ia pilih. Menjadi tukang bangunan juga tak menyurutkan semangatnya untuk mengasah keahliannya dan kemampuannya. Tukang bangunan pun mulai ditinggalkannya dan beralih menjadi seorang sales. Bentuk fisik dirinya, dengan tubuh tinggi dan senyum manisnya, membuat dirinya berani dengan lantang mengambil profesi ini, karena dengan begitu dirinya merasa setidaknya modal awal telah dimilikinya. Dia hanya tinggal melatih kemampuan bicaranya agar dapat merayu dan mempersuasi orang-orang agar tertarik untuk menjadi konsumennya. Dan akhirnya sama seperti hal sebelumnya. Pekerjaan-pekerjaan tersebut mulai dilupakannya. “Meski saya melupakan pekerjaan-pekerjaan tersebut, namun satu hal, saya tidak akan pernah melupakan berbagai ilmu yang saya dapat dari berbagai pengalaman kerja saya karena itu adalah modal masa depan saya,” Terangnya pada kami yang masih setia mendengar kisahnya.

Berbagai pengetahuan dan wawasan dari pengalaman pekerjaannya tersebut, membuat dirinya merasa menjadi pribadi yang tak kalah hebat dengan orang berdasi dan berpangkat karena meski dia harus berhenti untuk tidak melanjutkan pendidikannya, itu tidak berarti pula dia harus berhenti untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuannya. Hingga akhirnya profesi menjadi tukang becak inilah yang kemudian diambilnya.

Rudi mengambil area Malioboro sebagai tempatnya untuk mengais rejekinya. Jadwal dirinya mengayuh pedal becaknya dimulai dari pukul 15.00 hingga tengah malam sekitar pukul 24.00. Namun kadang kala, karena ingin memberikan pelayanan terbaik untuk para penumpangnya dirinya rela menambah jam kerjanya untuk sekedarnya membuat para penumpang maupun pelanggannya tersenyum manis ketika turun dari becaknya. Rudi memilih tidak mengikuti paguyuban tukang becak seperti halnya tukang becak lainnya. “Saya berhubungan baik dengan para tukang becak lainnya, baik yang termasuk dalam anggota paguyuban maupun tidak seperti saya, tidak ada diskriminasi dalam dan persaingan dalam pekerjaan kami ini, “ Ungkap Rudi. “Bahkan bila ada sesama tukang becak yang sama sekali belum mendapat hasil, kami akan mengalah untuk memberikannya penumpang, sehingga keegoisan dan rasa individual tidak akan pernah ada dalam lingkup kami, “ Tambah Rudi seraya menjelaskan.

Karena lokasi serta lingkungan dalam menjalankan profesi ini sangat dekat dengan area pariwisata, maka tak jarang dirinya akan sangat sering berjumpa dengan para turis asing yang merupakan devisa bagi negara kita. Intensitas yang cukup sering bertemu dirinya dengan para turis asing memungkinkan para penumpang becaknya tak hanya merupakan warga lokal namun juga warga dalam lingkup Internasional. Menyadari hal tersebut menjadi faktor yang cukup signifikan bagi profesinya , Rudi berusaha kembali mengingat segala bekal pengetahuannya mengenai pelajaran bahasa Inggris ketika dia masih di bangku SMA dulu. Sedikit demi sedikit dia mulai mengingat dan melatih kemampuannya dalam memperdalam pelajaran berbahasa ini karena jelas akan sangat berpengaruh terhadap kemampuannya menarik pelanggan.

Latihan dan belajar secara pasif dan otodidak menjadi kegiatan yang mengirinya ketika dia bekerja di daerah pariwisata tersebut. Ejaan serta artikulasi yang masih sering rancu karena perbedaan bahasa ini membuat para wisatawan terkadang memunculkan adanya salah persepsi. Karena hal itulah, lelaki asli Jogja ini semakin giat mempelajari berbagai bahasa. Untuk menambah kemampuannya berbahasa Inggris dirinya juga mengikuti pembelajaran yang diadakan oleh Institut Kristen Indonesia yang terletak di daerah Kota Baru. Pembelajaran ini memang sengaja diadakan untuk melatih kemampuan berbahasa seluruh para tukang becak yang ada di Yogyakarta. Tidak ada biaya sama sekali  yang dibebankan pada para tukang becak bila ingin mengikuti pelatihan ini. Dalam seminggu akan ada 2 kali pertemuan dengan kapasitas setiap kelasnya adalah 18 orang. Kapasitas yang cenderung sedikit ini memang diatur untuk menjaga keefektivan dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Meski pelatihan tersbut berada dalam lingkup Institut Kristen, namun institut ini tidak mengharuskan tukang becak dengan agama yang sama yang bisa mengikuti pelatihan ini. Justru didalam pelatihan ini tidak ada sama sekali perbedaan, semua agama dianggap sama.

Pengetahuan dan kemampuan berbahasa yang semakin  terasah serta semangat dirinya yang memang tak pernah padam, membuatnya semakin ahli dalam hal berbahasa. Pengalamannya bertemu turis mancanegara yang tak lain adalah penumpangnya, juga memberikan keuntungan besar bagi dirinya sebagai tukang becak. Wawasan luas serta pemahaman penuh dirinya dalam mengenali segala seluk beluk kota yang berjulukan Kota Pelajar ini juga menjadikan dirinya seakan-akan menjadi “TOUR GUIDE” bagi para penjajanya. Dan karena hal itu dirinya telah memiliki sejumlah turis mancanegara yang menjadi pelanggan setianya. Pelanggannya merupakan turis-turis dari Swedia, Holand, Belanda, dan Perancis. Kepuasan jelas terlihat dari para turis yang menjadi pelanggannya karena kemampuan Rudi yang memang sudah cukup diakui dalam memberikan pelayanan terbaik. Dengan pengalamannya tersebut, akhirnya hingga saat ini Rudi dapat dikatakan sebagai seorang ahli bahasa karena kemampuannya yang dapat memahami 4 bahasa sekaligus yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa perancis, dan terakhir bahasa Belanda. “ Hallo, Puspus Balibu? (Halo, apa kabar), “ Ucap Rudi sembari tersenyum memperagakan kemampuan bahasa Perancisnya untuk menarik perhatian para penumpangnya.

Dalam segi ekonomi kehidupan Rudi dapat dikatakan cukup namun kadang kala juga tidak cukup. Penghasilan perharinya dari ayuhan roda becaknya sekitar Rp.150.000 – Rp.250.000.  Untuk tarif lokal dan untuk turis juga berbeda. Bila biasanya untuk tarif lokal sekitar Rp.20.000, namun untuk para turis biasanya dipatok harga sekitar Rp.50.000 per jamnya. Namun berbeda dengan penumpang yang sudah menjadi pelangganya (baik warga lokal maupun turis), Rudi tidak pernah berani untuk mematok harga bagi para pelanggan setianya, justru pelangganya tersebut yang mengerti dan memberikan harga yang lebih besar dari target Rudi sebelumnya. Kecenderungan karakter para turis memang unik, mereka akan lebih senang memberi cuma-cuma (bonus), daripada harus diminta sehingga hal inilah yang menjadi “surprise” bagi para tukang becak termasuk Rudi ketika melayani para turis mancanegara. Berbeda dengan para turis atau orang luar negeri yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, mereka bahkan cenderung lebih pelit daripada warga lokal yang ada. Bahkan dirinya pernah mendapatkan Rp.30.000 setelah seharian bekerja. “ Kadang kala jika saya sedang tidak merasa mood atau sedang ada masalah, saya memilih untuk tidak narik, soalnya juga pasti gak dapat apa-apa , “ papar Rudi secara jelas.

Pengalaman paling takjub yang pernah didapatkan Rudi adalah ketika dirinya mendapatkan pendapatan yang benar-benar sangat fantastis jumlahnya bagi seorang tukang becak. “Selama saya menjadi tukang becak, saya pernah mendapat penghasilan sebesar 17 juta dalam sehari. Itu fakta, “ Tutur lelaki ini dengan bangga pada kami yang merasa tak percaya. Penghasilan tersebut ia dapatkan dari para pelangganya. Salah satu pelanggannya adalah seorang turis dari Perancis bernama Thoms Sheggr. Pencapaian penghasilan yang rata-rata cukup tinggi itu biasanya ia dapatkan ketika masa liburan dari bulan Juni hingga bulan September.

Dari berbagai penghasilan selama dirinya menjadi tukang becak, Rudi dapat menyekolahkan ke-empat anaknya. Anak pertama Rudi, telah memasuki semester 8 yang merupakan tahap akhir pendidikan di bangku perkuliahan. Anak pertama Rudi merupakan mahasiswa Teknik Sipil di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta dengan jalur PMDK. Kemudian anak keduanya, telah terdaftar sebagai mahasiswa Akademi Militer semester 1 yang berlokasi di Magelang. Setelah itu anak ketiga Rudi masih mengenyam bangku SMA dan anak ke-empatnya juga masih duduk di bangku TK. “Alhamdulilah dari jerih payah saya , ke-empat anak saya dapat merasakan bangku sekolah,” Tuturnya. Rudi selalu berusaha untuk memantau perkembangan pendidikan seluruh anaknya sehingga dia dapat melihat perkembangan dari ke-empat anaknya. “Saya tidak ingin mereka merasakan kesusahan seperti saya dulu, jadi meski harus sakit dan mengalami kepahitan saya akan selalu berjuang untuk anak-anak saya, “ papar lelaki berbadan tinggi ini dengan rasa harunya.  Selain menjadi tukang becak dirinya juga menyibukkan dirinya dengan ternak sapi dan kambing yang ia pelihara dirumahnya. Jika memang ada tidak ada kesibukan dirinya pun tak menolak untuk bekerja menjadi sopir di rentalan mobil.

Segala kisah yang telah dilalui dalam kehidupan Rudi membuat dirinya saat menghargai arti kehidupan yang sebenarnya. Segala kesusahan dan kesedihan yang pernah dialami dijadikannya sebagai motivator bagi dirinya agar selalu senantiasa mawas diri dan tak pernah mengenal kata menyerah. Kepahitan yang pernah ia alami, tak akan pernah menurun pada ke-empat anaknya, karena dirinya akan sekuat mungkin berusaha untuk membahagiakan keluarganya dan melihat ke-empat anaknya menjadi orang-orang yang sukses dikemudian hari. Sakit, pahit, sedih itu wajar namun inti dari segala hal itu adalah hikmah. Hikmah atas segala proses itu merupakan ilmu bagi pribadi kita, karena sesungguhnya seseorang yang bijak adalah seseorang yang bisa memberikan warisan ilmu dan bukan warisan harta begitu motto hidup dari Rudi sang Tukang Becak Super .

Becak –becak diharapkan akan menjadi sebuah ciri khas dari kota Yogyakarta. Becak yang sebelumnya hanya menjalankan fungsinya sebagai tukang angkut kini akan mengalami transformasi peran dengan menajdi alat trasnportasi yang dapat memenuhi kebutuhan wisata. saat hanya ada di objek wisata dan untuk memenuhi kebutuhan wisata.

Para tukang becak sendiri pada dasarnya adalah salah satu sumber daya yang layak dilibatkan kerja samanya dalam pemberdayaan di bidang kebudayaan dan ekonomi di kota Yogyakarta. Kerjasama ini akan merujuk pada relevansi mereka dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam berkinerja sebagai tukang becak. Representasi tersebut dapat dimulai dengan wujud fisik becak-becak dapat dipercantik dengan instrumen artistik khas Jogja seperti batik, wayang, dan sebagainya. Dalam proses implementasi pencapaian kerja sama ini, kesadaran mulai bermunculan dari beberapa pengelola pihak hotel untuk ikut terjun dalam usaha pemberdayaan ini, sehingga usaha ini tidak hanya terkait dengan tukang becak saja. Keikutsertaan dari segala pihak jelas akan berimbas positif untuk memperlancarkan segala orientasi dari kinerja tersebut.  Hubungan beberapa pihak seperti pihak pengelola Bakpia Pathok, Dinas Pariwisata dan pihak pengelola hotel dengan para tukang becak merupakan salah satu sikap peduli akan pentingnya menghargai mereka karena mereka sebenarnya adalah bagian dari wisata kebudayaan Yogyakarta. Ketiga pihak pengelola tersebut berusaha menjalin kerjasama sebaik mungkin dengan harapan mendapat timbal balik yang saling menguntungkan denga para tukang becak. Selain dari pihaknya membantu tapi dilain hal dia juga akan terbantu.

Di satu hal, ada satu sisi yang pantas kita sorot dari para tukang becak ini. Dengan latar belakang pendidikan mereka yang minim, namun ternyata mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan orang-orang yang berpendidikan. Kemampuan mereka dalam berbahasa serta berkomunikasi dengan para penumpangnya yang kebanyakan adalah turis, nampak begitu baik . Keharusan bagi mereka untuk dapat berbahasa inggris atau bahkan dengan bahasa lain menjadi hal yang tak sulit untuk diwujudkan oleh mereka. Pengalaman mereka berhadapan dengan turis, menjadi pembelajaran hdiupbertahap bagi mereka. Para turis menjadi acuan bagi mereka untuk mempertajam kemampuan mereka dalam berbahasa. Yang awalnya hanya memahami beberapa kalimat, kini mereka dapat memahami secara keseluruhan. Cara otodidak para tukang becak inilah yang menarik untuk diulas lebih dalam. Tidak dapat dipungkiri bahwa tukang becak merupakan motor penggerak roda pariwisata Malioboro. Oleh karena itu kualitas pelayanan yang mereka berikan terhadap wisatawan menjadi sangat signifikan dan dijadikan salah satu tolak ukur penilaian wisatawan terhadap Malioboro. Hal ini akan memberikan pengaruh pada banyak pihak, baik bagi tukang becak maupun pada wisata Yogyakarta dan Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 5 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 17 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 18 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 19 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: