Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Solusi Bijak

Blogger and enthusiast for Tax, Family and Leadership

Mengulas Warisan Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara

OPINI | 03 May 2013 | 09:23 Dibaca: 841   Komentar: 0   0

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara

(Pic Courtesy by Wikipedia)

Tanggal 02 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di negara Indonesia yang biasanya identik dengan figur yang cukup vital di hari pendidikan nasional ini, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara dan tidak kebetulan bahwa tanggal lahir beliau kemudian menjadi dasar penentuan Hari Pendidikan Nasional. Meski beliau lebih identik dikenal sebagai Tokoh Pendidikan Nasional, warisan semboyan Ki Hajar Dewantara justru juga dapat diterapkan dalam nilai-nilai kepemimpinan. Mari kita mengulas lebih rinci nilai kepemimpinan yang dapat kita tangkap dari Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara adalah seorang cendekiawan Indonesia yang brilian, aktifis pergerakan kemerdekaan RI, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan negara kita. Jasa Ki Hajar Dewantara membawanya sebagai seorang Pahlawan Nasional dan buah peninggalan beliau yang sangat besar adalah pendirian Perguruan Taman Siswa & munculnya semboyan terkenal yang sudah menjadi legenda dalam dunia pendidikan di Indonesia. Warisan semboyan dari Ki Hajar Dewantara ini, mengandung 3 (tiga) frasa kalimat :

Ing Ngarso, Sung Tuladha (Di depan menjadi teladan) ;
Ing Madya, Mangun Karso (Di tengah ikut serta) ;
Tut Wuri, Handayani (Di belakang memberi dorongan)

Ad. 1. Ing Ngarso, Sung Tuladha mengajarkan sebagai seorang pemimpin, perlu adanya keteladanan untuk ditiru dan menjadi contoh yang benar. Keteladanan tidak berhenti terhadap waktu karena berlangsung 24 jam sehari dan 7 hari seminggu serta dilakukan bukan hanya di masyarakat, namun juga di rumah, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan terkait lainnya. Keteladanan itu berefek kepada tutur kata, sikap, gaya bahasa tubuh dan implikasi dalam relasi pemimpin itu kepada bawahan dan orang lain.

Tidak ada manusia yang dapat dikatakan 100% sempurna di dunia ini, hanya kalau memang rekan sekalian berada dalam lingkaran pemimpin, tentu tanggung jawab yang disandang akan jauh lebih berat daripada kalau sekedar menjadi bawahan. Akhlak dan nurani memegang peran penting yang sudah diajarkan dalam agama dan kepercayaan kita masing-masing. Keteladanan tidak dapat dibuat-buat karena orang lain cepat atau lambat akan merasakan dan mengetahuinya, maka bila kita sudah menjadi teladan, secara tidak langsung rekan sekalian sebenarnya sudah menjadi seorang panutan dan pemimpin.

Selanjutnya…

Find Us on Twitter : @solusi_bijak

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: