Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Kupret El-kazhiem

Pelarian, Pengangguran, Soliter, Serabutan, Penduduk Bumi

Einstein: Saya Tidak Percaya Personal God

OPINI | 03 May 2013 | 17:43 Dibaca: 1219   Komentar: 7   3

Salah satu ungkapan Einstein yang paling sering muncul adalah “Sains tanpa agama itu lumpuh, agama tanpa sains itu buta.”

Akan tetapi, banyak ucapan Einstein yang sengaja dipenggal-penggal dan dijadikan dalih oleh kalangan ilmuan agama dan kreasionis yang menjadikannya sebagai landasan argumen pembenaran. Seperti misalnya dialog antara professor dan mahasiswanya mengenai “gelap itu tidak ada.”

Untuk memahami penggalan perkataan Einstein di paragraf awal, mari kita menyelami lagi perkataan Einstein lainnya tentang Personal God,

“Itu tentu saja sebuah kebohongan, apa yang Anda baca tentang keyakinan agama saya, sebuah kebohongan yang diulang-ulang secara sistematis. Saya tidak percaya kepada Tuhan yang berkepribadian (Personal God) dan saya tidak pernah menyangkal ini, tetapi saya telah mengungkapkannya secara jelas. Jika ada sesuatu dalam diri saya yang dapat di katakan religius maka itu adalah rasa takjub yang tak terbatas akan struktur dunia sejauh yang dapat di ungkapkan ilmu pengetahuan kita.”  - Albert Einstein, letter to an atheist (1954), Albert Einstein, The Human Side, 1954, disunting oleh Helen Dukas dan Banesh Hoffman, Princeton University Press.

‘Agama’ yang dimaksud Einstein sangat berbeda dengan agama pada umumnya dan juga merupakan sebuah kata metafora, sebagaimana yang ia maksud ialah “Pantheisme” bukan Theisme yang memercayai Tuhan personal.

Mari kita ingatkan diri kita tentang istilah. Seorang theist percaya kepada kecerdasan gaib yang mana selain pekerjaan utamanya menciptakan alam semesta, juga tetap hadir untuk mengawasi dan mempengaruhi nasib/takdir berikutnya dari ciptaannya tersebut. Dalam banyak sistem kepercayaan dan agama, Tuhan terlibat secara intim dengan urusan manusia. Dia menjawab doa, memaafkan atau menghukum pendosa, ikut campur di dunia dengan menunjukkan keajaiban-keajaiban, rewel akan perbuatan baik dan jahat, dan mengetahui kapan kita akan melakukannya–atau berpikir untuk melakukannya.

Seorang Deist, juga percaya kepada kecerdasan gaib, tapi yang aktifitasnya terbatas pada membangun alam semesta dan hukum yang mengaturnya saja. Tuhan seorang Deist tidak pernah ikut campur setelahnya dan tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap urusan manusia.

Adapun Pantheist tidak percaya kepada Tuhan yang gaib sama sekali, tapi menggunakan kata Tuhan sebagai sinonim dari Alam, atau Alam Semesta, atau hukum yang mengaturnya. Namun di lain hal, Deist berbeda dengan Theist; Tuhannya tidak menjawab doa, tidak tertarik kepada dosa dan pertaubatan, tidak membaca pikiran dan tidak ikut campur dengan mukjizat-mukjizatnya. Deist juga berbeda dengan Pantheist bahwa Tuhan Deist adalah semacam kecerdasan kosmik daripada sinonim metafora puitis Pantheist akan hukum alam semesta. Pantheism adalah Ateisme yang dipercantik. Deism adalah Theisme yang diperhalus.

Einstein juga pernah berkata: “Konsep Tuhan yang berkepribadian sangat aneh bagi saya dan bahkan terlihat naif”

“Sains tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa sains buta.” sehabis mengutipnya, mereka berusaha menarik Einstein ke dalam lingkaran agama-agama otoritas yang ada. Lihatlah Einstein itu saintis yang saleh, maka dari itu hidupnya lurus, kira-kira seperti itu.

Kalau Einstein memunculkan kata “Allah” dalam tulisan-tulisannya, kata ini diberi makna metaforis olehnya, bukan makna ontologis. Umumnya memang begitu: Kalau seorang saintis ateis memakai kata Allah, kata ini bermakna metaforis, tak bermakna literal. Kalau Einstein berkata-kata tentang Allah, bagi dia Allah adalah struktur kosmologis yang sangat mempesonanya, yang diatur hukum-hukum kosmologis. Einstein dengan tegas menolak untuk percaya pada suatu Allah personal yang diberitakan tiga agama monoteistik, Yahudi, Kristen dan Islam.

Apa yang dimaksud dengan “religius” oleh Einstein, sangat tak terduga dalam pikiran kaum agamawan, karena sang saintis ini menyatukan religiositas dengan nalar. Einstein menulis,

“Melalui hikmat dan pemahaman, manusia mendapatkan pembebasan yang berjangkauan luas dari segala belenggu pengharapan dan hasrat pribadi, dan dengan itu mereka memperoleh sikap dan perilaku pikiran yang penuh kerendahan hati terhadap keakbaran Nalar yang mewujud dalam kehidupan, dan yang, sedalam-dalamnya, dapat dimasuki manusia. Sikap dan perilaku akal budi yang rendah hati inilah yang tampak bagiku religius, dalam arti setinggi-tingginya kata ini…. Semakin jauh perkembangan evolusi spiritual manusia, semakin pasti bagiku bahwa jalan menuju religiositas yang murni tidak terletak pada ketakutan akan kehidupan atau ketakutan akan kematian dan iman yang membuta, melainkan pada usaha keras untuk mendapatkan pengetahuan rasional.”

Kalau Einstein menyatakan bahwa “Allah tidak sedang bermain dadu”, Allah dalam pernyataannya ini adalah hukum-hukum sains yang deterministik. Tentang determinisme saintifik, dalam jawabannya terhadap pertanyaan seorang anak apakah Einstein sebagai seorang saintis berdoa, Einstein menulis,

“Pengkajian saintifik didasarkan pada ide bahwa segala sesuatu yang sedang terjadi ditentukan oleh hukum-hukum Alam, dan dengan demikian determinisme ini juga berlaku bagi setiap tindakan manusia. Karena itulah, seorang saintis peneliti hampir-hampir tidak bisa percaya bahwa kejadian-kejadian dalam jagat raya ini dapat dipengaruhi oleh sebuah doa, yakni oleh suatu permintaan yang ditujukan kepada suatu Oknum Adikodrati.”

Lebih lanjut tentang determinisme saintifik, Einstein menulis,

“Aku tidak dapat membayangkan suatu Allah personal yang langsung mempengaruhi tindakan-tindakan orang per orangan, atau secara langsung duduk mengadili semua ciptaan yang telah dibuatnya sendiri. Aku tak dapat membayangkan semua ini kendatipun kausalitas mekanistik (/deterministik) dalam batas tertentu telah diragukan oleh sains modern [Dalam hal ini, yang Einstein maksudkan adalah mekanika Quantum yang telah menghancurkan determinisme saintifik].”

Begitu juga, kalau Einstein menyatakan “sains tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa sains buta” (Albert Einstein, 1941), dia tidak sedang membela agama-agama monoteistik atau menyamakan sains dan agama atau sebaliknya. Kalau Einstein menulis tentang Allah/agama, baginya Allah/agama adalah daya pesona yang muncul dari struktur kosmologis yang taat pada hukum-hukum sains, sejauh hukum-hukum ini sudah dapat dipahami. Dalam banyak segi, Allah dalam pandangan Einstein sejalan dengan Allah dalam pandangan Baruch de Spinoza, Allah sebagai hukum-hukum sains. Tulis Einstein,

“Aku percaya pada Allah Spinoza yang mewahyukan diri dalam harmoni dan keteraturan segala yang ada, bukan pada Allah yang sibuk mengurusi nasib dan tindakan manusia.”

Dus, dalam dunia sains, ada dua metafora tentang Allah, yakni Allah Baruch de Spinoza dan Allah Einstein, yakni hukum-hukum kosmologis yang menatastrukturkan jagat raya dengan sangat menakjubkan dan deterministik dan belum terpahami semuanya.

Kalaupun Einstein mempunyai visi tentang suatu agama masa depan, agama ini dirumuskannya demikian:

“Agama masa depan akan berupa suatu agama kosmik. Agama ini harus melampaui Allah personal dan menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik yang natural maupun yang spiritual, agama ini harus didasarkan pada suatu perasaan keagamaan yang muncul dari pengalaman bahwa segala sesuatu yang alamiah dan yang spiritual ada dalam suatu kesatuan yang bermakna. Buddhisme menjawab gambaran tentang agama yang demikian. Jika ada agama apapun yang dapat berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan saintifik modern, agama ini adalah Buddhisme.”

Sekalipun Einstein berbicara tentang hal-hal yang spiritual, sang saintis ini tidak percaya bahwa manusia memiliki roh yang akan meninggalkan tubuh ketika manusia mati. Tulisnya,

“Aku tidak dapat membayangkan suatu Allah yang memberi pahala dan yang menghukum objek-objek ciptaannya, yang memiliki tujuan-tujuan yang disusun berdasarkan model dari kita sendiri, suatu Allah, pendek kata, yang hanya merupakan suatu cerminan kelemahan moral manusia. Aku juga tidak dapat percaya bahwa kita orang per orangan akan bertahan, meninggalkan tubuh kita, setelah kematian, kendatipun jiwa-jiwa yang ringkih memegang pikiran-pikiran semacam itu karena rasa takut atau karena egotisme yang memalukan” (Albert Einstein, obituary dalam New York Times, April 19, 1955)


# http://io9.com/5954119/einsteins-i-dont-believe-in-god-letter-has-sold-on-ebay–and-youre-not-going-to-believe-the-price

# http://atheism.about.com/od/einsteingodreligion/tp/Einstein-on-a-Personal-God.htm

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Mencari Azan ke Kampung Segambut …

Rita Kunrat | 8 jam lalu

Wonderful Indonesia: Menelusuri Jejak …

Casmudi | 8 jam lalu

Memanfaatkan Halaman Rumah untuk Tanaman …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Jangan-jangan Jokowi (juga) Kurang Makan …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Susi yang Bikin Heran …

Mbah Mupeang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: