Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Azizul Mendra

a business and technology enthusiast

Uje dalam Otobiografi Saya

REP | 26 April 2013 | 12:53 Dibaca: 349   Komentar: 0   0

Pagi ini saya online di facebook ternyata berita wafatnya Ust. Jeffy Albuchory sudah menjadi viral di media sosial dan media mainstream. Saya turut berduka cita dengan atas wafatnya beliau dan sekilas kembali mengingat kembali kebaikan serta memori yang pernah.

Saya tidak begitu familiar dengan Uje secara pribadi. Namun, kehadiran beliau pada beberapa program acara televisi beberapa tahun belakangan memang menjadi hal positive yang menarik orang-orang yang peduli dengan syiarnya agama islam. Dulu, hanya sedikit tokoh-tokoh agama dan ulama yang disiarkan televisi. Namun, beberapa tahun belakangan semakin banyak. Bagi saya, itu adalah hal yang bagus agar masyarakat memiliki panutan baik yang banyak di media. Tidak seperti dulu, yang muncul di media hanyalah tokoh militer, politisi, artis, pejabat, dll. Yang umumnya berisi tentang berita buruk atas kinerja mereka. Jadi, semakin banyak panutan yang baik di media maka diharapkan masyarakat dapat memilah dan memilih siapa yang akan mereka jadikan panutan dalam hidup mereka masing-masing. Apakah artis, politisi, pejabat, atau siapa ?

Tentang Uje, kabarnya almarhum ketika mudanya adalah public figure yang populer. Saya masih kanak-kanak ketika itu. Munculnya Uje pada generasi kakak saya yang ketika itu memang masih remaja. Setelah lama menghilang maka Uje tiba-tiba muncul lagi sebagai tokoh agama. Hal inilah yang saya yakini membuat beliau semakin populer.

Ternyata, menghilangnya Uje bisa jadi karena masalah pribadi beliau yang kelam. Beliau terkait masalah narkoba. Begitu informasi yang saya tau baik ketika talkshow yang menghadirkan beliau atau melalui informasi yang saya dapatkan pada media. Namun, yang menjadi kekaguman saya pada almarhum adalah dalam kondisi seperti itu, mereka tetap kuat membangun rumah tangga. Dalam satu kesempatan talkshow di televisi Uje pernah becerita tentang pengorbanan istrinya yang luar biasa sabar ketika menghadapi almarhum sedang sakau. Seingat saya, Uje bercerita bahwa di kamarnya, istrinya menangis dan tidak henti-hentinya berdoa atas kesembuhan almarhum dari kecanduan berat terhadap obat-obatan. Tiap malam pada shalat malamnya sang istri berdoa agar suaminya keluar dari masalah yang lazim dialami oleh public figure itu. Saya pikir, Uje benar-benar dapat istri yang luar biasa selain sang ibu yang juga luar biasa membantu Uje untuk kembali sembuh.

Bertahun-tahun Uje dalam keadaan demikian. Atas perjuangan orang-orang terdekat almarhum, maka akhirnya Uje bisa sembuh dari kecanduan. Ia mulai mendalami agama lagi dan dibimbing oleh ibunda yang juga ustadzah, begitu yang saya tau. Demikian sedikit kisah masa lalu Uje yang saya tau. Dan saya bercerita bagaimana saya punya kesempatan mendengar tausiah dari almarhum secara langsung ketika di Jakarta dalam perantauan setahun yang lalu. Mau tahu ceritanya ? Sip. Silakan siapkan secangkir kopi dan camilan untuk membaca otobiografi saya dan testimonial saya untuk almarhum. Hehe…

Kala itu saya baru mendarat di Jakarta. Kira-kira minggu kedua saya berada di Jakarta. Minggu pertama saya di Jakarta kos di kawasan Manggarai, sebuah kawasan yang banyak pemukiman kumuh, preman, dan sering tawuran. Padahal, di sana ada namanya jalan pegangsaan. Tau sejarah jalan pegangsaan ? di kawasan itu naskah proklamasi di ketik oleh Sayuti Melik. Memang, Manggarai itu dekat dengan kawasan Cikini, Tugu Proklamasi, dan kawasan-kawasan bersejarah lainnya di Jakarta. Namun, sekarang ada kawasan disekitar itu kalau saya tidak salah ada yang telah diubah namanya. Cukup mengingat sejarah. Saya akan lanjurkan cerita tentang saya kembali, ya. Hehe…

Minggu pertama di Manggarai saya sangat menikmati. Saya kos bersama adik kelas yang lebih dulu merantau ke Jakarta. Sama-sama mencari kerja ketika itu. Ya, tiap hari kami kunjungan ke tempat kolega, teman-teman, dan tidak lupa mencari kerja serta membaca lowongan kerja yang tersedia. Ini pertama kali saya serius mencari kerja di Jakarta. Dua tahun sebelumnya juga pernah ke Jakarta. Namun tidak seserius tahun 2012 keinginan mencari kerja karena ketika 2010 saya masih ingin sekolah s2 di luar negeri atau menjadi pengusaha. Pilihannya hanya dua itu saja. Mencari kerja hanya iseng dan memenuhi arahan orang tua saja, kalaupun ada panggilan kerja, saya kadang tidak hadir. Hehe..

Satu minggu pertama di Manggarai berjalan mulus. Kami mencari pekerjaan melaui situs online seperti jobsdb.com, jobstreet.com, kompaskarier.com dan sebagainya. Memang, sebelum berangkat ke Jakarta saya sudah apply hampir 70 lowongan kerja secara online. Haha… Bayangkan bila itu semua dikirim melalui pos, tentu saja sudah banyak uang yang dihabiskan sementara saya harus super irit di Jakarta karena tidak tahu nasib menanggur entah berapa lama. Pada suatu ketika, saya pulang dari tempat teman dan sampai di kos pada malam hari. Say abaca lowongan kerja di iklan baris detik.com. Ada posisi editor dengan persyaratan yang seperti lowongan kerja biasa namun saat itu ditambah pula bisa berbahasa inggris. Saya lamar saja dan penuh keyakinan bahwa saya bisa lulus pada posisi tersebut. Setelah menulis surat lamaran itu, maka saya tidur dan pagi besoknya saya beri tahu adik junior bahwa saya sudah lamar kerja dipengumuman yang ada di detik.com dan tidak tahu apakah adik kelas tersebut melamar posisi yang sama atau tidak namun saya sudah memberi tahu informasi bahwa lowongan kerja di detik.com juga ada dan, memang, saya ingat bahwa beliau juga sudah memeriksa lowongan kerja di sana.

Siangnya, menjelang shalat zuhur saya punya firasat bahwa saya akan segera mendapatkan pekerjaan. Benar ternyata. setelah shalat zuhur saya dihubungi oleh perusahaan yang malam sebelumnya saya apply. Saya dibuatkan jadwal interview dua bahasa Indonesia dan inggris serta ujian tulis bahasa inggris dua hari berikutnya. Setelah ujian selesai. Maka saya yakin sekali bahwa saya akan lulus. Ujian tulis dan interview bahasa selesai dengan baik. Interview terakhir dengan Direktur itu yang paling seru. Beliau bahas seputar kenaikan BBM yang ketika itu akan di demo besar-besaran di Jakarta. Wah… Saya pikir. Ini adalah tema yang saya suka. Saya adalah orang yang sangat mendukung kebijakan BBM naik. Saya jelaskan sebab-sebab kenapa BBM naik, kebodohan dari politisi yang membodohi, dan sebagainya. Kami saling berbantahan. Namun satu pendapat/ sanggahan dari Direktur (saya sekarang) tersebut, maka dua bahkan tiga argumen yang saya jelaskan tentang itu. Beliau mantan jurnalis bertahun-tahun. Cara saya menjelaskan cukup dipahami dengan baik. Sampai akhirnya kepada pertanyaan untuk mengurangi “panasnya” interview saya ditanya,

“Apa rencana kamu dalam 5 (lima) tahun ke depan?”

Saya jawab, “Saya hanya ingin memiliki karir yang bagus (meskipun di perusahaan yang saya bangun sendiri) dan hidup yang bahagia bersama anak dan istri saya”.

Direktur saya tersenyum ketika saya menjawab itu. Barangkali beliau berpikir saya pantas untuk bergabung dalam tim yang telah beliau buat. Hehe… Sebelum pulang, saya bertanya tentang gaji yang akan saya dapatkan.

“Kita punya range gaji untuk fresh graduate dan pengalaman. Maka kamu saya beri untuk yang pengalaman. Kapan kamu bisa masuk kerja ? tanya beliau.

“saya bisa kapanpun. Saya tidak terikat dengan kantor manapun di sini.” Jawab saya. Hehe…

Memang, ketika interview beliau bilang “kamu kan dari Padang, kenapa tidak buka usaha nasi Padang saja di Jakarta?”

“Perantau minang yang buka nasi padang di Jakarta itu perantau yang umumnya tidak memiliki sekolah yang tinggi namun mereka memiliki jiwa entrepreneur yang tinggi. Karena saya memiliki ilmu yang cukup, maka jenis usaha saya barangkali bukan yang demikian. Hehe…” begitu lebih kurang saya jawab. Haha…

Buktinya, saya sekarang juga punya usaha sendiri dan bukan rumah makan Padang. Hehe…

Interview selesai. Saya yakin betul bahwa saya bisa lulus. Sorenya selepas ashar sambil tidur-tiduran di masjid kawasan Kemdiknas, (waktu itu bidang kebudayaan belum masuk, jadi masih kemdiknas. Hehe….) saya dapat telpon bahwa saya bergabung awal bulan Maret. Ketika itu saya berada di penghujung Februari. Hehe…

Nah, Kisah Uje dalam otobiografi saya adalah ketika saya memilih pindah kos di sekitar Kantor, Pejaten Barat, Pasar Minggu. Saya pindah karena jarak antara Manggarai yang sebenarnya lebih kurang 4 km bisa ditempuh kira-kira 1-1.5 jam perjalanan dengan angkutan umum karena jalur tersebut adalah jalur macetnya Jakarta. Lagi pula saya tidak memiliki kendaraan pribadi dan memang lebih suka naik angkutan umum.

Ini minggu kedua di Jakarta. Saya sudah pindah kos. Adik kelas tersebut tetap kos di Manggarai. Namun kami pada satu kali kesempatan bertemu untuk membeli modem di kawasan mangga dua. Saya datang lebih duluan dan shalat jumat di sekitar kawasan Mangga dua. Khatib jumatnya adalah salah satu anggota FPI (Front Pembela Islam). Beliau berpesan bahwa kalau tidak salah malam minggu (sabtu malam) akan ada acara tabligh akbar bersama anggota FPI dan Ustadz Uje juga hadir di kawasan Manggarai dalam memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Di masjid tersebut feeling bahwa saya akan mengalami kehilangan sandal sudah ada. Ternyata, benar. Hahaha… Saya ke Mangga dua dengan sandal pemberian dari pengurus masjid. Sandal itu sudah hampir putus pula. Tapi dengan itu saya tetap bisa ke Mangga dua. Hehe..

Melompat langsung ke cerita acara Maulid Nabi Muhammad SAW, pada saat itu sekitar 10 tokoh agama dari habib FPI dan Uje mengisi acara. Saya pikir kalau FPI tidak ada di Jakarta, maka hilanglah syiar islam itu di kampung betawi ini. Memang, banyak isu miring tentang FPI. Entah itu fitnah atau benar saya juga tidak tahu. Tapi hanya FPI dan majelis-majelis sejenisnya lah yang menghidupkan syiar islam di Jakarta. Mereka bergiliran dari kampung ke kampung mengisi acara. Di Jakarta, syiar islam tersebut saya pikir lebih kuat daripada di daerah-daerah. Bila ada acara tabligh akbar ini, maka jamaah yang hadir sangat banyak. Bisa mencapai ribuan. Dari berbagai majelis sekitar Jakarta datang meramaikan. Memang, kadang mereka ada yang mengganggu perjalanan yang menggunakan jalan umum karena saking ramainya jamaah yang hadir. Tapi ada pula berbagi tugas sesama jemaah dalam menertibkan arus lalu lintas.

Seberapapun image FPI buruknya di televisi, tapi masyarakat Betawi rasanya tidak satupun yang menggusur mereka. Ini menandakan bahwa masyarakat betawi pun menerima mereka dan bergabung dengan mereka. Bila FPI seperti yang diceritakan di televisi, maka saya yakin masyarakat Betawi lah yang lebih dulu mengusir mereka. Televisi memang kadang-kadang menjadi musuh untuk kebaikan itu sendiri. Tapi itu hanya untuk redaksi televisi yang tidak cukup adil dalam memberitakan. Hehe…

Beberapa habib dan tokoh agama yang mengisi acara tersebut saling bergantian mengisi tausiah. Uje juga mendapat giliran. Saya merasakan sendiri bagaimana rasanya ditengah ibu-ibu dan remaja perempuan yang mengidolakan Uje. Hampir setiap isi tausiah Uje di iringi histeris ibu-ibu dan remaja perempuan. Saya pikir dalam hati bahwa luar biasa sekali ini kalau ada tokoh agama yang begini. Masyarakat akhirnya mendapatkan seseorang panutan yang semoga bisa membawa mereka kepada kebaikan.

Uje juga bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Ia mengaitkan hal tersebut agar para jamaah yang hadir tidak mengikuti hal yang serupa. Oiya, tempat panggung para tokoh agama itu mengisi acara adalah kawasan pemukiman kumuh. Bila siang hari Anda ke sana, maka bau tidak sedap adalah hal yang biasa. Namun, pada kesempatan itu bau yang tidak sedap itu tidak ada barangkali masyarakat bersama-sama sudah membersihkannya. Uje juga bercerita bahwa masayrakat Manggarai yang dulunya dia kenal memang memiliki image yang buruk. Uje juga bercerita bahwa sebelum ia masuk di televisi, ia sering mengisi pengajian di salah satu mushala di kawasan Manggarai. Tapi tentu saja almarhum belum di idolakan seperti sekarang. Hehe..

Saya juga banyak belajar dari Uje. Dari masa lalunya yang kelam, dari caranya membangun rumah tangga, dan dari hal-hal kebaikan yang bisa saya pelajari. Beginilah. Kalau orang baik, maka kebaikanlah yang banyak yang dikenang orang. Walaupun ada keburukan sebagai manusia yang disebar, namun Allah sudah tentu mengampuni almarhum.

Hal yang serupa saya pernah saya alami ketika di kampung almarhum Gusdur, Jombang, Jawa Timur. Ketika itu saya masih di Kediri. Menjelang 100 hari wafatnya Gusdur, tempat pemakamannya selalu ramai. Pada puncaknya, bahkan saya yakin ratusan ribu orang hadir ke komplek pemakaman di kawasan pesantren Tebu Ireng tersebut. Saya berpikir apakah ketika saya meninggal suatu hari akan didatangi oleh orang lain yang datang untuk mendoakan seperti itu ? Bukan ingin dikultuskan, namun saya memahami hal tersebut sebagai sesuatu penghormatan atas kebaikan seseorang yang dikenang oleh manusia. Barangkali bagi yang memusuhi Gusdur tentu tidak demikian tindakakan mereka, tapi saya yakin bahwa musuh Gusdur tersebut ketika mati pun tidak dikenang orang kebaikannya oleh orang lain seperti orang lain mengenang kebaikan Gusdur kepada mereka.

Semoga saja. Setiap orang akan mati, namun tidak semua orang yang mempersiapkan kematian dengan baik. Memohon ampunlah dalam setiap waktu yang kita miliki. Dalam diampun dianjurkan tidak hanya berpikir, tapi juga berdzikir. Orang-orang yang selalu mengingat Allah akan selalu sejuk dipandang. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang demikian. Aamiin yra. Selamat Jalan Uje, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan mengganti dengan surga yang dirindukan oleh semua orang. Uje, istrirahatlah dalam damai (rest in peace). Semoga banyak penggantimu yang bermunculan agar masyarakat kita tidak kehilangan panutan mereka di media massa. Agar media massa tidak di isi oleh koruptor, politisi busuk, dsb. Saja. Media harus di isi pula oleh orang-orang yang mengajak kepada kebaikan. Bukankah itu harapan kita semua ? Semoga Allah menjaga agamaNya tetap hidup di tengah-tengah kami. Aamiin yra.

Azizul Mendra,

Kepala Peneliti untuk bidang Corporate Communication, Binokular, Jakarta.

email : azizul.mendra@yahoo.co.id

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: