Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Solusi Bijak

Blogger and enthusiast for Tax, Family and Leadership

RA Kartini, Wanita dan Kepemimpinan

OPINI | 22 April 2013 | 11:28 Dibaca: 1263   Komentar: 0   0

RA Kartini

RA Kartini

(Pic Courtesy by Wikipedia)

Tanggal 21 April kemarin, kita semua telah merayakan hari emansipasi kaum wanita yang merupakan buah pejuangan dari Raden Ayu Kartini. Komunitas Puteri dan Ibu di Indonesia layak berterima kasih kepada ningrat kelahiran Jepara, Jawa Tengah, yang dilahirkan 21 April 1879 ini, yang sudah disahkan sebagai Pahlawan Nasional dan Tokoh Pelopor kebangkitan perempuan. Istilah “konco wingking” yang menyatakan perempuan tidak sama dengan kaum pria sekarang tidak berlaku lagi, plus sudah semakin hilang manakala Ibu Megawati menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Presiden RI. Bagaimana dengan para wanita jaman sekarang?

Kunci keberuntungan RA Kartini dalam menembus batas perbedaan kaum pria dan wanita saat itu terletak pada kebebasan untuk mengenyam pendidikan Belanda di ELS (Europese Lagere School) dan sekaligus kesempatan belajar bahasa Belanda walau setelah usia 12 tahun, RA Kartini harus tinggal di rumah karena tradisi dipingit. Bahasa Belanda ini kemudian membawa RA Kartini untuk berkorespondensi, bertukar pikiran dan menyerap pengetahuan terkini pada waktu itu melalui buku, koran dan majalah Eropa. Dan tercetuslah ketertarikan RA Kartini pada kemajuan berpikir perempuan Eropa yang didorong kondisi perempuan pribumi saat itu yang berada pada status sosial yang rendah.

Dalam dunia modern dengan fokus kepada kompetensi dan performance, gender sudah bukan merupakan faktor pembeda dominan, meski secara physical, pria dan wanita memang berbeda secara natur dan biologis. Dahulu pekerjaan yang di dominasi kaum pria sekarang dapat dikerjakan oleh kaum wanita dengan sangat baik mulai, dinas ketentaraan, sopir Taxi / Trans Jakarta, driver alat berat pertambangan, mandor pertambangan dan masih banyak lagi. Lalu apa yang sebenarnya harus diperhatikan oleh kaum wanita dewasa ini untuk memelihara apa yang sudah diwariskan oleh RA Kartini?

Kepemimpinan Wanita wajib memiliki visi dan misi
Siapapun yang menjadi pemimpin, tidak peduli kepada status sosial atau gender / jenis kelamin, seorang pemimpin wajib mengetahui ke arah mana dia akan mambawa komunitasnya berjalan. Visi dan misi yang jelas wajib dimiliki dalam kepemimpinan wanita pula.

Pemimpin Wanita yang kuat adalah Wanita yang memahami posisi dirinya
Emansipasi bukan diartikan pertukaran fungsi karena seorang pemimpin wanita yang memahami posisi dirinya sebagai wanita jangan diartikan sebagai sebuah kelemahan melainkan kekuatan & kecerdasan dalam menempatkan diri di rumah, dunia kerja, tempat ibadah, dan lingkungan masyarakat sekitar. Peran sebagai perempuan tidak dapat digantikan oleh kaum pria, maka secara tidak langsung pemimpin perempuan sudah memiliki ekstra posisi yang tidak dapat digantikan.

Kepemimpinan Wanita harus diraih dan dicapai
Banyak dari kaum wanita berada dalam posisi pasif dikarenakan keraguan, kebimbangan, kebingungan akan arah tujuan hidup. Mereka memilih “menunggu” takdir / nasib datang. Kaum wanita di jaman sekarang harus pro aktif, bervisi misi jelas, berani mengambil risiko & membuat keputusan. Wanita dapat menjadi pemimpin bila dididik dengan cara berbeda dan tidak melulu menganggap diri mereka sebagai wanita melainkan bagian dari sesama manusia.

Poin Selanjutnya…

Seri Keluarga Solusi Bijak :
http://www.solusibijak.com/blog-keluarga

Seri Kepemimpinan Solusi Bijak :
http://solusibijak.com/kepemimpinan

Seri Perpajakan Solusi Bijak :
http://solusibijak.com/blog-pajak

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 9 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 9 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 9 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 10 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: