Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Abanggeutanyo

Pengamat sosial ini lahir pada 1 Nopember 1965, di RI. Sekarang menetap (kembali) di garis selengkapnya

Tutup Buku Margaret Thatcher Penuh Kontroversi

REP | 18 April 2013 | 01:24 Dibaca: 592   Komentar: 7   1

13662219782135662877

Gambar ilustrasi. Tutup buku Margaret Thatcher. Sumber : http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/146352.jpg

Rabu siang (17/4) suasana London terasa seperti berselimut awan mendung. Penyebabnya, karena sebagian warga dan pemerintah Inggris berduka dan sedang mengikuti prosesi pemakaman Margaret Thatcher. Wanita besi (the iron lady) yang dilahirkan 87 tahun lalu (13 Oktober 1925) dengan nama “Margaret Hilda Roberts akan dimakamkan dalam sebuah prosesi benar-benar bermartabad untuk kelas bangsawan Inggris.

Pemakaman ini disebut “bermartabad” dalam pandangan masyarakat Inggris karena prosesi pemakaman yang memerlukan waktu 9 hari -sejak kematiannya pada 8 April lalu- dihadiri oleh Ratu Elizabeth. Kehadiran ratu ini adalah kali yang ke dua sejak kematian Winston Churchill mantan PM pada 1965 lalu.

Selain itu, tak kurang 2300 undangan dari 170 negara mulai politikus hingga artis terkenal (penyanyi Shirley Bassey dan komposer Andrew Lloyd Webber) diundang untuk memberi penghormatan kepada sang wanita besi yang ternyata merasa kesepian dan amat ringkih menjelang kematiannya di salah satu hotel terkenl (Ritz Hotel) di pusat kota London.

Sebanyak 11 Perdana Menteri hadir dalam acara pemberian penghormatan terakhir untuk Margaret. Belum lagi sejumlah mantan pemimpin dunia lainnya serta diplomat ulung pada masanya seperti Henry Kissinger, hadir untuk terkahir kalinya menghormati Margaret Thatcher.

Pemakaman mantan PM Inggris terlama dan wanita pertama menjadi PM di Inggris itu juga menyebabkan penghentian dengar pendapat antara PM Inggris David Cameron dengan parlemen Inggris.

Sekitar 700 tentara dari angkatan laut dan udara mengambil bagian dalam pengawalan penarikan peti jenazah di atas kereta peluncur meriam yang ditarik oleh enam kuda hitam milik Royal Horse Artillery, melintasi route dari dedung Parlemen (Palace of Westminster) ke Gereja St Clement Danes untuk disemayamkan dan selanjutnya di bawa ke Katedral St Paul.

Kurang lebih 4000-an polisi berjaga mengantisipasi aneka kemungkinan dan memberi keamanan kepada warga yang memberi penghormatan kepada salah satu legenda pemimpin dunia paling disegani abad 20.

Pemerintah Inggris tidak menyetujui keinginan Margaret Thatcher yang memilih dikremasi apabila ia meninggal dunia dan menitipkan harapannya tersebut pada beberapa keluarga terdekatnya selama ia sakit terkulai layu di salah satu suite di Ritz Hotel sejak 4 bulan terakhir.

Pemerintah Inggris mempertimbangkan alasan kemanusiaan dan budaya Inggris saja sehingga tidak memenuhi harapan  Margaret yang pernah dijuluki “wanita besi” pertama sekali oleh jurnalis Rusia pada tahun 1975.

Menurut sejumlah informasi, biaya prosesi hingga pemakaman sang legenda pemimpin Inggris ini mencapai $ 15.000.000 (lima belas juta dolar AS) atau setara dengan 10 juta pound. Bayangkan berapa nilainya jika dirupiahkan dalam uang kita, sangat fantastis, bukan?

Selain itu, tak kurang sembilan gelar dalam bangsawan Inggris diterimanya sejak pertama sekali tampil sebagai politikus di parlemen Inggris pada 1959.

Margaret Thatcher memang milik Inggris dan dunia. Ia telah menorehkan sejarah hebat meskipun harus mengorbankan beberapa hal yang membuat sebagaian warga Inggris dan saingan politiknya tak berkutik dan merasa dirugikan akibat sejumlah kebijakan konservatifnya yang dinilai merugikan, misalnya prvatisasi BUMN dan sejumlah kebijakan fiskal yang tak populis lainnya.

Salah satu sejarah paling terkenal adalah ketika ia memutuskan tentaranya merebut kembali pulau Falkland (Malvinas nama yang diberikan Argentina) yang letaknya 3000 ribuan mil dari perairan Inggris. Argentina takluk dalam perang selama dua bulan pada 1982 lalu.

Akan tetapi kisah Margaret memang tak semulus dan seindah yang kita bayangkan. Sejumlah politkus di Parlemen Inggris memprotes pembatalan dengar pendapat yang telah disusun agendanya untuk didengar pada hari ini. Sejumlah anggota parlemen menolak keputusan PM menunda dengar pendapat tersebut.

Protes di parlemen pun menyeruak. Salah satu anggota parlemen membandingkannya dengan matan PM Churchill yang dianggap lebih nasionalis. “Churchill dalam kurun 100 tahun yang berhak dimakamkan secara kenegaraan karena mempersatukan negeri, sedangkan Margaret Thatcher menceraiberaikannya,” kata John Healey dari Partai Buruh.

Selain itu, sejumlah warga yang melihat lintasan kereta pengangkut jenazah Margaret meneriakkan “hhuuuuuuuuu..” saat melintas di hadapan mereka.

Sejumlah warga lainnya menyesali kebijakan ekonomi dan finansial pada masa kepemimpinannya yang membuat resesi ekonomi dan tingkat pengangguran tertinggi dalam masa pemerintah Inggris sebelum dia.

Hendry Page, salah satu pensiunan guru yang tergabung dalam kelompok Chelsea Pensioners,  menyampaikan protesnya di depan katedral bersungut-sungut mengatakan “Lebih dari 10 juta Pon uang kita habis hanya untuk memakamkan Tory..”  (Tory adalah julukan mengejek untuk koloni yang mempertahankan sistem monarki Inggris.).

Dari Argentina, dikabarkan rakyat Argentina menyambut tepuk tangan tentang kematian Margaret. Sebagian wargaArgentina menyesali mengapa Margaret tidak diadili akibat kejahatannya dalam perang dengan Argentina. (Sumber : http://internasional.kompas.com).

Lebih mengherankan lagi adalah kebijakan presiden AS, Barrack Obama hanya mengirimkan mantan luar negeri era Ronald Reagen (Gorge Shultz) yang tak kalah renta untuk menghadiri undangan tersebut mewakili pemerintah AS. Entah karena sedang terkonsentrasi dengan peristiwa Boston, yang jelas PM Netanyahu yang juga mengirimkan kepala Polisi nasionalnya ke Boston (untuk membantu investigasi) ternyata hadir dalam acara untuk Margaret. Sikap pemerintah AS kali ini menimbulkan tanda tanta besar di kalangan parlemen Inggris.

Dubes Argentina untuk Inggris menolak hadir undangan pemakaman tersebut. Entah karena masalah jumlah undangan terbatas ataukah karena solidaritas  dan isue nasionalisme rakyat Argentina pada umumnya, tak diketahui secara pasti apa penyebabnya.

Menurut informasi dari beberapa aneka media yang berhasil penulis rangkum, sang wanita besi itu diakhir hayatnya merasa terasing dan sangat ringkih hingga dipindahkan dari rumah tempat peristirahatannya di Grantham sejak 2002, hingga dipindahkan ke Ritz Hotel setelah natal 2012 lalu hingga menutup mata selamanya di atas tempat tidur di salah satu hotel berbintang paling top di pusat kota London.

Demikian rekan pembaca budiman akhir kisah perjalanan panjang legenda wanita besi milik dunia. Dalam perjalanan karier hingga matinya ada saja yang pro dan kontra. Banyak orang memujanya, tapi banyak warga Inggris lainnya mencelanya.

Kematiannya seperti kehidupannya memicu kontroversi. Semoga ia pergi dengan tenang. Semoga kita dapat mengambil sisi positifnya dari sejarah yang telah dibuatnya.

Selamat jalan Margaret Thatcher…. Semoga tenang dan abadi di sisi Nya..

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: