Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Nunung Nuraida

teacher, English, novel, x-files, Rayhan http://nunungnuraida.wordpress.com

Wahyudin, Si Pemulung Ganteng

REP | 11 March 2013 | 21:37 Dibaca: 7624   Komentar: 23   15

1363086839254662619

wahyudin (foto diambil via acara hitam putih)

Biasanya, kalau ada pemulung ganteng, pastinya hanya ada di sinetron-sinetron Indonesia yang terkadang suka ga nyambung antara penokohan dan peran. Di benak kita, seakan sudah tertanam bahwa yang namanya pemulung itu ya kotor, dekil, gak terawat, dan bisa dibilang memiliki tampang yang biasa-biasa saja. Tapi tentu saja, cakep atau tidaknya wajah seseorang itu sangat relatif. Masalah selera saja.

Tapi ternyata, pemulung ganteng itu benar ada. Fakta. Bukan hanya sekedar kisah sinetron besutan clan Punjabi. Namanya Wahyudin, biasa dipanggil Wahyu. Dia sendiri pun tidak pernah merasa dirinya ganteng, tapi memang banyak orang yang melihatnya akan bilang dia ganteng! Nah, karena profesinya yang tidak lazim buat cowok ganteng kayak dia, maka muncullah sebutan “si pemulung ganteng!

Mungkin karena kelangkaannya itu juga, [baca: pemulung ganteng], dua hari berturut-turut ini, sosok Wahyu hadir di televisi. Yang pertama muncul kemarin di Hitam Putih dan hari ini diundang di Show Imah, keduanya merupakan program favorit Trans 7.

Wahyudin memang seorang pemulung. Tapi ia juga seorang mahasiswa. Kecerdasan dan kepercayaan dirinya sangat jelas terlihat di setiap ia merespon pertanyaan yang diajukan host. Dengan banyak mimpi di hidupnya, ia mampu menjadi sosok yang berani, percaya diri dan tidak menyerah pada kehidupan. Memulung sejak usia SD, banyak sudah rasa, kisah dan pengalaman yang ia dapatkan. Benarkah Wahyu tidak pernah merasa malu atau minder dengan aktifitasnya itu? Tidak juga. Sempat satu waktu ia menitikkan air mata ketika melihat seorang pelajar yang diantar oleh mobil jemputan ke rumahnya, sementara ia sedang mengais-ngais sampah di tempat sampahnya. Merasakan nasib yang sangat jauh berbeda dengan anak tersebut.

Namun, tentu kesedihan itu tak pernah ia pupuk. Pada akhirnya ia bisa bersyukur dengan keadaannya saat ini dimana ia diberikan kesempatan untuk menjalani hidup yang keras dan menjadikannya sosok yang kuat, tegar dan percaya diri.

Keinginan belajarnya juga tak pernah putus. Bagaimana ia memiliki uang untuk kuliah? Sebenarnya ia tidak memilikinya, bahkan ia hanya bisa menargetkan untuk bisa kuliah tahun 2013 ini. Namun, siapa sangka justru di tahun inilah ia akan segera menyelesaikan kuliahnya. Hal itu berawal ketika ia tidak sekolah dan hanya beraktifitas memulung saja. Berasa jadi orang bodoh tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, akhirnya ia berniat untuk menyantuni anak anak yatim di sekitar komplek rumahnya.

Mulailah ia mendata semua anak yatim. Setelah berhasil mendapatkan datanya, ia pun mulai mencanangkan program santunannya. Ia meminta sang ibu yang berjualan gorengan, untuk memperbanyak stok jualannya. Gorengan yang biasanya dijual seharga 500 rupiah per potong, kini ia naikkan menjadi 750 rupiah, dengan alokasi dana 250 rupiah untuk disumbangkan ke anak yatim. Ternyata aksinya ini banyak mendapatkan orang-orang di sekitar kompleknya. Tak sedikit yang membeli 3 potong dan membayar 20 ribu rupiah tanpa dikembalikan sisanya.

Akhirnya, target 7 juta untuk santunan, rencana setiap anak yatim bisa mendapat 50 ribu rupiah, melonjak menjadi hampir 3 kali lipatnya! Ia pun menambahkan jumlah santunan per anaknya menjadi 100 ribu rupiah. Maka, niat yang tulus akan berbuah besar. Maksud hati ingin membantu anak yatim, ternyata memberikan berkah tidak hanya untuk anak yatim tersebut, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Ada pihak yang tertarik dengan sepak terjangnya dan menawarkan untuk membantu biaya kuliahnya. Bak mendapat durian runtuh, Wahyu pun segera mendaftar kuliah yang sudah tutup pendaftarannya. Ia pun memaksa petugas registrasi untuk memberikan kesempatan padanya dengan terus berucap bahwa ia seorang pemulung yang ingin kuliah.

Ternyata cita-cita Wahyu tidak hanya sampai disitu saja. Ia berniat melanjutkan kuliahnya ke jenjang S2 dengan konsentrasi di Pajak. Apa yang telah berhasil dilakukan oleh seorang pemulung seperti Wahyu ini tidak terlepas dari niat dan tekad yang kuat serta kerja  keras. Ia terbiasa mencatatkan apa yang ingin ia capai dan berapa dana yang dibutuhkan. Sehingga ia bisa menyisihkan sebagai uangnya untuk mencapai tujuannya tersebut.

Kebiasaannya ini berawal ketika ia berhasil membelikan ibunya sebuah televisi dari hasil tabungannya. Harga TV saat itu berkisar 1 juta rupiah. Maka ia butuh 3000 rupiah per harinya untuk bisa terkumpul uang sebanyak 1 juta itu selama kurun waktu 1 tahun. Tentu hal ini sangat membanggakan bagi seorang anak SMP saat itu, apalagi uangnya didapat dari kerja kerasnya memulung.

Tentu kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang semoga saja bisa mengikuti jejak langkah kesuksesan yang diperoleh oleh seorang pemulung seperti Wahyu. Pemulung ganteng yang juga bekerja sebagai penyiar radio muslim dan mengajarkan anak-anak berbahasa Inggris!

Sahabat muda, apa yang sudah bisa anda berikan kepada sesama?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | 8 jam lalu

Jangan Jadikan NKRI Menjadi Dua Kubu [II] …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Clean, Good “Goverment” …

Mark Mamangkey Tjos... | 8 jam lalu

Mengagumi “Samosir” Setelah …

Dv Gultom | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: