Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Ahsa

pembaca buku

Kang Jalal: Masalah Mazhab sampai Ijazah

OPINI | 01 March 2013 | 11:38 Dibaca: 969   Komentar: 1   2

Salam wa rahmah…

136211254932708397

Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih karya Jalaluddin Rakhmat

Kemarin sore saya sempat menelusuri catatan yang ada dalam dunia maya berkaitan dengan Kang Jalal (Ustadz Jalaluddin Rakhmat). Sangat beragam. Ada yang memuji, mendukung dan mengapresiasi pemikiran, bahkan ada yang menyatakan sesat dan tidak jujur dalam menyampaikan hadis-hadis.

Semua pernyataan di atas sudah banyak terjawab dalam diskusi dan ceramah Kang Jalal yang dapat diunduh pada situs: www.almunawwarah.com/ dan yang terbaru dijawab oleh Muhammad Babul Ulum dalam buku Kesesatan Sunni Syiah yang diterbitkan Aksara Pustaka (Jakarta, 2013).

Selain dari masalah keislaman dan mazhab Syiah, ada cerita yang beredar tentang Kang Jalal adalah gelar akademis doktor dan professor. Dalam blog dan situs disebutkan bahwa Kang Jalal tidak memiliki ijazah doktor. Yang menyebutkan demikian adalah situs http://www.lppimakassar.com/2012/07/menyoal-gelar-akademik-jalaluddin.html dan http://sosbud.kompasiana.com/2012/05/04/gelar-dr-jalaluddin-rakhmat-palsu/ .

Kemudian mendapat tanggapan dari pengurus IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) Makassar dalam situs http://www.fajar.co.id/read-20120521000554-tanggapan-tentang-ijazah-jalaluddin-rakhmat .

Muncul lagi berita yang hampir sama dari situs http://uin-alauddin.ac.id/uin-2655-kang-jalal-belum-memiliki-kualifikasi-s3-.html .

Dalam situs yang terakhir ini bersumberkan dari seorang Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Azyumardi Azra. Poin yang disebutkan adalah (1) Kang Jalal belum memiliki kualifikasi S3; (2) Kang Jalal tidak memberikan berkas (ijazah) doktor dan professor sehingga dikesankan tidak memilikinya; (2) berdasarkan informasi dari seorang teman yang pernah kuliah di Australia bahwa Kang Jalal tidak pernah tamat di Australia dan tidak sampai menghasilkan disertasi; (4) Kang Jalal tidak menempuh S3 di UIN Jakarta karena merasa tidak enak apalagi sudah tidak mengajar di Pasca UIN Jakarta karena tidak memiliki kualifikasi S3.

Berbagai berita itu saya ragukan kebenarannya karena tidak ada yang berani konfirmasi langsung kepada Kang Jalal atau universitas yang meluluskannya di Australia. Kebetulan saya bagian dari jamaah Kang Jalal, saya coba beranikan untuk tanya langsung kebenarannya.

Melalui sebuah e-mail, guru saya: Al-Ustadz Jalaluddin Rakhmat menjawab:

Salam (pertama) alasan bahwa saya tidak pernah menyerahkan ijazah dan transkrip tidak bisa dijadikan bukti saya tidak memilikinya, karena saya tidak pernah diminta untuk menyerahkannya.  Saya sudah bertugas di UIN sebelum ia (Azyumardi Azra) menjadi rektor. Tidak pernah sekalipun saya diminta untuk menyerahkan ijazah dan sebagainya. Kesaksian dari seorang teman juga bergantung kepada siapa teman itu. Kenapa kesaksiannya tidak berdasarkan pernyataan Universitas tempat saya belajar di Australia.

Kedua, saya pernah bercerita kepadanya di UIN Padang bahwa saya bermaksud untuk mengambil program by research di UIN Jakarta (bukan ia yang menawarkan “mengapa harus jauh-jauh” dan sebagainya. Pertemuannya sambil makan di restoran bukan di bandara :)  Tetapi waktu itu dia mengatakan bahwa di UIN Jakarta tidak ada program s3 by research). Ketika saya mendaftar ke UIN Makassar, saya harus membayar agak mahal, maka saya memutuskan untuk pindah ke Jakarta, yang katanya membayarnya persemester. Setelah itu, saya dapat penjelasan dari UIN, melalui Syamsuddinketua IJABI sekarang bahwa pembayaran bisa diatur.

Alhamdulillah, bahkan sampai sekarang utang saya ke Pasca UIN Makassar belum selesai. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil program S3 itu di Makassar. Sampai sekarang. Alhamdulillah, berkat masalah ijazah itu saya tahu kawan dan lawan.

Nah… siapa yang bertanggung jawab dengan kabar palsu tersebut? Budaya tabayyun seharusnya digalakan umat Islam. Kalau sekadar dengar dari orang, apalagi yang tidak suka, bukannya informasi yang benar malah yang keluar yang bernuansa fitnah dan ditambah-tambahi dengan wadul bin bohong.

Bandung, 1 Maret 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 8 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: