Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Asteria Desi Kartika Sari

i am student of atma jaya yogyakarta, belajar di jurnalisme

Perempuan Jasa Punggung, Perempuan Perkasa

HL | 27 February 2013 | 00:01 Dibaca: 1237   Komentar: 0   21

13619179051753911239

Ilustrasi/ Admin (kompas.com)

Terlihat sosok-sosok perempuan yang sudah tidak muda lagi duduk di depan pintu masuk pasar Beringharjo saat saya melintas di depan pasar tersebut. Wagiyem (63), Genah (50), ya mereka adalah perempuan perkasa yang setiap harinya memberikan jasa “punggung” mereka kepada pengunjung pasar. Hanya dengan berbekal sebuah selendang bermotif lurik-lurik, mereka telah menjalani profesi sebagai buruh gendong selama bertahun-tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Setiap pagi Wagiyem dan Genah menuju pasar dengan bus dari Kulon Progo. Sampai di pasar masing-masing dari mereka mulai bersiap-siap di tempat untuk menunggu pelanggan. Biasanya mereka menunggu muatan barang dari mobil bak terbuka bermuatan barang-barang dagangan seperti buah-buahan, sayuran, dan lain-lain yang membutuhkan jasa untuk menaikkan atau menurunkan barang di pasar Beringharjo.

Begitu tercengangnya ketika mereka mulai bercerita tentang kesehariannya sebagai buruh gendong. Setiap harinya merika bisa menggendong barang hingga 40kg sampai 50 kg dengan upah yang kadang tidak sepadan dengan jasa yang mereka tawarkan. Semua ini murni hanya demi kehidupan sekeluarga.

Meskipun tantangan yang mereka hadapi cukup berat namun mereka tetap tak kenal lelah untuk tetap bekerja. Wagiyem ibu dari tiga anak ini mengatakan dia sangat mencintai profesi ini sebab pekerjaan ini juga bisa dijadikan hiburan. Pasalnya, Wagiyem merasa kesepian saat di rumah. Apalagi suaminya sudah meninggal empat tahun yang lalu. Jadi dengan pekerjaan sebagai buruh gendong ini dapat mengisi keseharian Wagiyem. Bahkan dengan pekerjaan ini juga dapat membantu orang lain. Hal serupa juga dikatakan ibu Genah.

Wagiyem dan Genah adalah dua orang dari sekitar 500 buruh gendong perempuan yang sudah menggantungkan nasipnya di pasar Beringharjo. Wagiyem mengaku, saat ini tidak terjadi lagi benturan antara buruh gendong yang lainya, karena masing masing dari mereka sudah memiliki pelanggan sendiri, berbeda dengan jaman dahulu yang pasti menemui benturan dengan buruh yang lain.

Wagiyem mengatakan, apabila dia tidak kuat mengangkat barang karena terlalu berat, teman-teman buruh lain selalu siap untuk membantu untuk meringankan pekerjaannya.
“Kami juga sering saling membantu antar buruh gendong apabila keberatan saat menggendong barang, hal itulah yang membuat saya merasa memiliki banyak temab”,tutur Wagiyem.Sebuah pekerjaan, sekecil apapun pekerjaan itu apabila dilakukan atas dasar kekeluargaan pasti akan membuat nyaman dalam menjalani profesi itu.

Pernah mendengar sebuah kaliamt “Beban berat kami bisa, bagaimana dengan anda?” sebuah kalimat yang merefleksikan buruh gendong itu sendiri. Kalimat tersebut memberikan makna buruh gendong yang perkasa dapat menggendong maupun memikul berat sebarat apapun tanpa ada rasa mengeluh. Bahkan perbedaan berat yang mereka gendong tidak mempengaruhi upah yang mereka terima.Mereka hanya bergantung dengan para pedagang maupun pembeli yang memakai jasa punggung mereka.

Memang sudah tidak ada pilihan banyak pekerjaan yak lebih layak bagi Wagiyem dan Genah. Mereka tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca maupun tulis. Hingga akhirnya mereka hanya mengandalkan tenaga dan kekuatan “punggung” mereka untuk menafkahi hidup mereka. Meskipun mereka tidak pernah sekolah, mereka tidak membiarkan ank-anak mereka senasip dengan orang tuanya. Wagiyem salah satunya, wagiyem rela untuk menafkahi anak-anaknya sampai ke jenjang SMA, hal ini dilakukan untuk kebaikan anak-anaknya.

Untunglah Tuhan masih menyayangi umatnya, meskipun hanya sebagai buruh gendong mereka tetap diberi rezeki yang lebih untuk membantu kehidupan mereka. Wagiyem dan Genah selain menjadi buruh gendong mereka juga sebagai petani dari sawah mereka sendiri. Oleh karena itu selagi belum musim panen mereka menghabiskan waktu dengan bekerja sebagai buruh gendong.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 3 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 4 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 4 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: