Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Erri Subakti

"Menulis untuk Menulis."

Semut Menggigit Gajah Menjerit: Damar Juniarto yang Kukenal

OPINI | 20 February 2013 | 18:49 Dibaca: 1563   Komentar: 60   17

Saya mengenal Damar sudah sejak 18 tahun yang lalu. Sejak awal saya sudah langsung tau pemikirannya ‘melompati’ kondisi sosial yang ada. Dan ia menuangkan gagasan-gagasannya lewat tulisan-tulisannya.

Pada 2 dekade ke belakang belum ada itu yang namanya blog, jadi ia hanya menulis essay lalu di-print dan di-copy untuk dibaca siapa saja yang mau membaca tulisannya. Dan dari tulisan-tulisan Damar itu sebenarnya saya ‘mencuri ilmu’ menulisnya.

Damar adalah orang yang tidak pernah puas dengan bacaan yang ia baca. Saking tidak puasnya dengan majalah kampus saat itu, ia pun membuat majalah independen yang menghebohkan kampus kala itu.

Sudah lazim di masa-masa itu kondisi kampus sangat kental dengan budaya senioritas, “pasal 1: senior selalu benar, dan jika senior salah lihat pasal 1”

Dan Damar menggebrak iklim kemahasiswaan di kampus dengan majalah-majalah independennya yang menggugat budaya senioritas itu. Kontan banyak senior yang marah dan ‘kebakaran jenggot’ kala itu…

Saat itu saya sendiri menjadi distributor majalah-majalah independen-nya Damar. Ini karena mobilitas saya yang lebih sering “beredar” dari satu kelompok mahasiswa ke kelompok mahasiswa lainnya. Bahkan saya distribusikan ke kampus-kampus besar lainnya di Jakarta.

Beruntungnya saya gak kena pukul senior-senior waktu itu.. soalnya saya anak nongkrong sana sini.. sama senior ayuk.. sama anak-anak hedon ayuk.. sama anak café ayuk.. sama anak-anak rohis ayuk… (meski ngaji gak tamat :) ), dan sama aktivis ayuk.. ‘bergulat dengan buku’ di perpus? Siapa takut…

Dan kini Damar, ayah satu orang putri ini, yang belum sebulan lalu ditinggal oleh ibunda tercintanya, kembali menghebohkan dunia kepenulisan. Gak tanggung-tanggung, yang merasa terusik oleh tulisannya adalah ‘penulis no1 Indonesia’ (menurut saya).

Damar yang saya kenal memang orang yang tanpa tedeng aling-aling dengan gebrakan ide atau tulisannya. Jika dia angap itu hal yang benar.. dia tetap maju…

Dalam sudut pandang saya, saya tidak melihat adanya perseteruan di sini. Saya hanya melihat tulisan Damar adalah ‘gigitan’ semut kecil… sakit.. but it doesnt’ kill you… sakit tapi tidak menjadikan ’sang gajah yang berbadan besar’ menjadi kempos seketika.

Gigitan semut selayaknya sebuah gigitan kecil.. hanya menghentikan langkah kita sejenak..  supaya kita tak terlalu cepat berlari… ia bisa berfungsi sebagai ‘rem’ agar lari kita tidak babarblas seperti “bola liar” di luar kendali.

(ES)

1361360928537536212

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Antara Jokowi dan Realisasi MEA 2016: Tak …

Auda Zaschkya | | 06 May 2015 | 02:03

Awas, Digital Eye Strain Mungkin Mengancam …

Giri Lumakto | | 05 May 2015 | 22:23

[JNE MALANG] Kompasiana Blogshop & …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:10

Kontroversi Peluncuran Beasiswa Chan – …

Ronny Noor | | 06 May 2015 | 07:14

Daftar Kegiatan Kompasiana Mei 2015 …

Kompasiana | | 03 May 2015 | 00:40


TRENDING ARTICLES

Sultan Yogya Sampaikan Sabda Raja, Netizen …

Hasto Suprayogo | 2 jam lalu

Jokowi Melawan Tatanan Dunia yang Mapan …

Rudi Hartono | 4 jam lalu

Gibran Marketer of The Year 2015: MarkPlus …

Dr. Nugroho, Msi Sb... | 4 jam lalu

Artis Pamer Harta …

Ifani | 4 jam lalu

Menpora akan Membentuk Federasi Baru …

Otto Von Bismarck | 4 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: