Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

M. Rasyid Nur

M. Rasyid Nur, pendidik yang bertekad "Ingin terus belajar dan belajar terus". Silakan juga diklik: selengkapnya

Surat Untuk Jokowi via Megawati

OPINI | 17 February 2013 | 05:30 Dibaca: 3811   Komentar: 65   9

GUBERNUR DKI, Pak Jokowi yang saya hormati,
Maaf, di hari libur begini saya menulis surat. Pun surat ini saya sampaikan melalui Ibu Megawati, sang Ketua Umum PDI-P yang adalah partai pendukung Anda. Saya agak ragu memang menulis surat ini. Saya malah tak yakin kalau surat ini sempat dibaca. Tapi mana tahu, ada staf atau pegawai Anda membacanya, Pak Gubernur. Kalau tidak pun, rakyat DKI yang kurang lebih 10 juta itu tentu akan ada yang membacanya karena surat ini kan terbuka. Jika pun tak disampaikan ke gubernurnya, tak apalah asal masyarakatnya sudah membaca.

Ada kerisauan saya membaca berita tentang Anda beberapa hari ini. Saya merasa terbawa perasaan juga membaca tulisan-tulisan itu. Aneh, memang, mengapa saya ikut-ikutan emosian. Mungkin karena sedari awal, ketika Anda menyatakan merasa dikroyok banyak partai politik saat mencalonkan diri menjadi gubernur DKI tempo hari saya memang ikut-ikutan simpati. Tentu saja simpati itu karena saya membaca berita lain tentang kesuksesan Anda menjadi Wali Kota Solo. Sebanyak warga Ibu Kota yang mendukung Anda, saya pun terbawa pula ikut bersimpati atas pencalonan Anda. Tapi bukan karena saya kader atau simpatisan PDI. Saya hanya suka sosok Jokowi.

Nah beberapa hari ini berita-berita mulai ada yang ’sirik’ kepada Anda, menurut saya. Ada berita, katanya para PNS di DKI akan mogok kerja gara-gara gaya Anda memimpin Jakarta terasa tak sesuai dengan mereka. Katanya Anda terlalu asyik dengan rakyat. Anda suka aneh-aneh. Anda selalu minta para pegawai melayan rakyat. Padahal selama ini yang orang tahu para pegawai itu yang mendapat pelayanan dari rakyat. Nah, lho bagaimana itu bisa diterima para pegawai Anda. Ingat, lho mereka ramai sekali. Saya dengar salah seorang pejabat teras Anda sudah minta mundur karena tak kuat mengikuti cepatnya langkah Anda.

Kerisauan saya yang sesungguhnya bukanlah karena kekhawatiran itu. Saya malah tidak percaya dengan berita atau isu mogok para pegawai itu. Saya yakin mereka pasti takut kalau mogok. Jangan-jangan malah diberhentikan gubernur dari kepegawaiannya. Terus mau makan apa anak-isteri mereka? Lagian menjadi pegawai kan jauh lebih enak dari pada menjadi tukang ojek atau supir opelet. Mendingan menjadi gepeng sakalian biar bisa minta-minta. Apa mereka mau?

Justeru yang saya risaukan adalah berita yang menempatkan Anda jauh di atas Megawati sebagai calon presiden pilihan rakyat untuk tahun 2014 nanti. Tapi itu berdasarkan survey, katanya. Aburizal Bakri dan Surya Paloh tidak ada apa-apanya dengan elektalibilitas Anda. Malah Megawati sendiri Anda ungguli. Inilah yang saya takutkan. Megawati itu pendendam. Apakah dia bisa terima nama Anda ditempatkan di atas popularitas Megawati sendiri? Ini bisa celaka.

Ya, beberapa kemungkinan dapat saja terjadi sebagai akibat hasil survey yang terakhir itu. Misalnya Megawati meminta Anda menjadi wakilnya pada bursa calon presiden di Pemilu tahun depan itu. Megawati ingin menjadikan Anda sebagai bagian penguat dirinya yang menurut hasil survey juga masih kuat. Megawati mungkin berpikir, gabungan Megawati dengan Jokowi akan melahirkan pasangan capres sejati. Hah, ini harus diwaspadai, Pak Jokowi.

Saya tidak percaya keputusan ini. Bukan pada kemungkinan keputusan Megawatinya tapi tak percaya pada kemungkinan hasilnya. Maksud saya pasangan Anda tidak akan terpilih juga karena faktor Megawati. Anda tahu, wanita tangan besi itu tidak pernah menang dalam pemilu langsung. Bahkan ketika dia masih incumbent saja dia tidak terpilih. Sudah berapa kali dia diusung PDI, toh tidak pernah menang. Jadi, saat berpasangan dengan Anda pun dia tidak akan terpilih.

Boleh jadi skenario kedua. Sebagai kader PDI, boleh jadi Megawati mengusung Anda menjadi RI-1 agar nama PDI lebih naik lagi. Anda dipersilakan mencari pasangan sendiri yang sesuai. Mau pakai Ahok lagi atau siapa, Megawati mempersilakan saja. Nah, saya tetap berpikir ini harus ditolak. Mendingan Anda menyelesaikan tanggung jawab Anda sebagai Gubernur DKI. Jika saja Anda sukses memenuhi janji-janji kampanye Anda tempo hari, dan kehebatan Anda sebagai gubernur kembali mendunia seperti ketika menjadi wali kota dulu, maka jalan menuju RI-1 akan lebih mudah ke depannya. Hanya perlu kesabaran.

Ah, surat saya ini terlalu panjang dan juga terlalu mencampuri jauh urusan tugas dan tanggung jawab Anda. Maafkan saya. Saya hanya percaya, begitu banyak rakyat (Indonesia, bukan hanya DKI) yang menyukai Anda, itu bukan karena partai PDI. Tapi lebih karena sosok Anda sendiri. Jadi, faktor Megawati akan berpengaruh atau tidak terhadap karier politik Anda, itu tergantung Anda sendiri. Sekian dan terima kasih.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 10 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 11 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 12 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: