Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Fitri Haryanti Harsono Saidil Anwar

Bachelor of Humanities. Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Minat dalam penulisan digital media selengkapnya

Kecakapan Jokowi Berkisah di Kompasiana MODIS

HL | 08 February 2013 | 16:56 Dibaca: 3045   Komentar: 0   18

1360314035372614640

Kompasiana MODIS Bareng Jokowi

Kompasiana Monthly Discussion (MODIS) kali ini menghadirkan narasumber  orang nomor satu DKI Jakarta, Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi. Acara yang dihelat Kompasiana kemarin, Kamis (7/2) di Ballroom Gedung Kompas Gramedia Unit VI lantai 7, Palmerah Barat, Jakarta disambut Kompasianer (sebutan blogger Kompasiana) dengan antusiasme luar biasa.

Para peserta diskusi khusus untuk Kompasianer saja. Kapasitas 100 Kompasianer pun memenuhi ballroom. Beberapa pers/media terlihat sibuk mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan untuk menyambut Jokowi. Tema diskusi yang diangkat terkait “Gebrakan Jokowi dalam 100 Hari Pertama Memimpin Jakarta”.

Menanti kedatangan Jokowi

Jadwal acara mulai diskusi sebelumnya pukul 10.00 WIB, namun update terbaru dimulai pukul 11.30 WIB. Jam baru saja menunjukkan pukul 10.30 WIB, saya sudah tiba di tempat acara. Terlihat beberapa Kompasianer yang tiba lebih dulu. Setelah registrasi ulang, saya memuaskan rasa haus untuk menghilangkan pupus yang sedari tadi ditahan.

Di meja telah tersedia kopi dan teh. Saya memilih minum kopi, padahal sebelum berangkat pagi tadi, secangkir cappuccino telah menyesap di kerongkongan. Sembari minum, saya berkenalan dan mengobrol dengan para Kompasianer lain, tersebutlah Pak M Ariffin, Mas Dwiki, Mas Herry, Pak Dian Kelana, Mas Haryadi, Mas Irpanuddin, hingga Pak Thamrin.

Menjelang pukul 11.30 WIB, para Kompasianer mulai ramai berdatangan dan memasuki ballroom. Iskandar Zulkarnaen, selaku MC memberikan informasi agar seluruh Kompasianer memasuki ballroom sebab Jokowi segera tiba. Tepat pukul 11.30 WIB, Jokowi hadir di dalam ballroom.

Kehangatan sosok Jokowi yang biasa kita simak di berita media massa maupun televisi terpuaskan tatkala beliau langsung menyapa para Kompasianer. Senyum salam dan sapa sontak dibalas dengan saling berjabat tangan dengan para Kompasianer. Tak ktinggalan, saya ikut berjabat tangan dengan beliau. Sorotan kamera pun menghiasi kedatangan Jokowi.

Bukan hanya sorotan kamera dari media pers saja, tapi hampir sebagian besar para Kompasianer ikut mendokumentasikan sosok Jokowi. Seluruh Kompasianer bak menyemut dan terpesona dengan Jokowi. Para Kompasianer yang duduk di kursi belakang pun langsung tertarik magnet sosok Jokowi.

Acara langsung dibuka oleh Iskandar Zulkarnaen, selaku MC dengan memanggil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo; Managing Editor Kompas.com, Pepih Nugraha, selaku moderator diskusi; dan Direktur Kompas.com, Taufik H Mihardja ke atas panggung. Sambutan terima kasih atas kedatangan Jokowi dan para Kompasianer oleh Taufik H Mihardja disambut tepuk tangan.

1360315878250095587

Sambutan Direktur Kompas.com, Taufik H Mihardja

Sesi diskusi pun dipandu oleh Pepih Nugraha. Jokowi dalam sambutannya mengatakan sering tiap malam membuka blog Kompasiana dan takjub sebab artikel-artikel terkait sosok dan kinerjanya begitu ramai diperbincangkan. Ya, gaya kepemimpinan Jokowi menjadi sorotan berita dan trending topic di website Kompasiana ini.

1360315806756119981

Sambutan hangat Jokowi

Diskusi penuh aura menyenangkan

Tak perlu berlama-lama sambutan, sesi tanya jawab pun segera dibuka. Tunjuk tangan antusiasme para Kompasianer sangat terlihat sebab hampir seluruhnya ingin bertanya dan mengutarakan suara terkait kinerja Jokowi. Pepih Nugraha, selaku moderator memiliki kewajiban dengan memilih siapa saja yang bertanya. Sesi pertama dibuka dengan 5 orang penanya.

Isu-isu terkait banjir dan kemacetan masih hangat ditanyakan. Menanggapi hal tersebut, Jokowi dengan tenang menjawabnya. Baginya yang baru 3 bulan memulai kinerjanya, dihadapkan dengan permasalahan banjir  yang klasik dan kerap mendera merupakan suatu berkah. Bagaimana tidak? Gaya kepemimpinan yang langsung terjun ke lapangan membuat ia menangkap dan memahami kenapa terjadi banjir.

Permasalahan banjir mulai terungkap satu persatu, mulai dari drainase yang tidak lancar juga gorong-gorong yang tertutup. Ukuran gorong-gorong saat ini sudah tak sesuai sehingga harus diperbaiki dengan ukuran lebih besar agar air bisa mengalir lancar. Bila tak diselesaikan dari sekarang bisa menjadi masalah besar di masa mendatang.

Perbaikan pun harus dilakukan dari hulu ke hilir. Percuma saja kalau perbaikan dalam mengatasi banjir hanya dilakukan di hulu atau hilir  saja Keduanya harus sama-sama dikerjakan. Untuk itu, Jokowi harus bertemu dengan Gubernur Jawa Barat maupun para pejabat lain saling berintegrasi.

Selain itu, Jokowi juga menyayangkan budaya masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Bukan hanya sampah plastik dan makanan saja, bahkan kasur dan lemari ikut dibuang ke sungai. Satu hari saja sudah berton-ton sampah yang dibuang di sungai, sekitar satu pertiga dari jumlah sampah di DKI Jakarta.

Melihat jenis sampah seperti itu dan banyaknya jumlah sampah yang marak dibuang ke sungai, otomatis air tidak mengalir lancar dan selokan-selokan apa tidak mampet, pasti mampet kan. Budaya masyarakat seperti ini menjadi penggerak Jokowi untuk hadir di masyarakat. Ia hadir ke lapangan ikut membersihkan sampah di kali-kali kecil.

Blusukan Jokowi

Saya diberi kesempatan sebagai penanya. Tak ragu-ragu, saya mengajukan 2 pertanyaan kepada Jokowi, yaitu:

1. Saya: Bapak berpasangan dengan Pak Ahok sebagai eksekutif. Kinerja Bapak blusukan untuk melihat       langsung aspirasi warga hampir tiap hari dilakukan menjadi sorotan berita.

Lalu, ke manakah peran DPRD sebagai legislatif yang menampung aspirasi rakyat? Apakah tidak terjadi benturan dalam hal ini?

Jokowi: Kinerja saya yang blusukan itu tidak semata-mata spontanitas. Sebelumnya, saya sudah survei, apakah ada permasalahan yang harus diselesaikan dan dirasa penting di kampung-kampung. Dalam hal ini, saya harus menguasai medan sebelum datang blusukan ke sana.

Terkait benturan dengan peran DPRD, itu tidak juga kok. Kami punya cara dan jalan masing-masing yang berbeda dalam melaksanakan kerja yang diemban. Selain itu, saya benar-benar ingin mendengar suara dari masyarakat. Pokoknya, berasal dari sumber pertama (masyarakat), bukan dari “katanya” saja.

2. Saya: Bagaimana pendapat Bapak mengenai peran pers/media yang selalu meliput kegiatan Bapak sehari-hari? Sementara ada pro dan kontra, seperti “Pak Jokowi, jangan sering-sering masuk televisi atau sebagai pencitraan saja.”

Padahal kegiatan Bapak itu bisa menjadi energi positif untuk pejabat publik lainnya, “Jangan ABS (Asal Bapak Senang) duduk di belakang meja saja.”

Jokowi: Setiap melakukan tugas, saya tidak pernah memberitahukan siapapun ke mana akan pergi. Semua serba rahasia. Saya tidak pernah mau diberitakan. Wong, setiap mulai kerja dan keluar dari rumah dinas, sudah bergerombol sekitar 15-an wartawan yang ngikutin saya.

Ya, saya tidak pernah mengajak atau meminta diberitakan. Kalau sudah seperti itu, ya saya tidak bisa menolak. Lagi pula, kita punya tugas masing-masing. Wartawan kan tugasnya meliput, ya sudah tugas mereka.

Mengangkat karakter ibu kota Jakarta

Jakarta sebagai ibu kota negara sungguh padat akan kendaraan dan riwuh pembangunan gedung-gedung . Salah satu permasalahan dan harapan warga Jakarta ingin menghirup udara yang sejuk. Langkah-langkah menyejukkan Jakarta dinilai penting.

Program kinerja Jokowi dengan membeli lahan-lahan yang ada secara cepat. Kalau tidak dibeli sekarang, nanti dibeli oleh para pengembang industri lain. Nanti takutnya lahan tersebut dijadikan area pembangunan gedung-gedung. Yang kami rencanakan justru lahan itu nanti dipakai sebagai ruang publik. Artinya, ada ruang terbuka hijau di dalam kota.

Ciri khas Jakarta juga harus dibangkitkan karakter kotanya. Jokowi suka bertanya kepada para budayawan Betawi untuk saling berintegrasi akan budaya Betawi. Salah satu rencana yang sudah terealisasikan, yaitu pakaian Betawi sudah dipakai untuk para PNS pada hari tertentu.

Program selanjutnya, membangun masjid raya yang berkarakter Betawi. Setiap bangunan memiliki karakter Betawi. Identitas ini perlu diperlihatkan dan diangkat. Selama ini kan kurang bahkan belum terlihat. Kita harus punya ibu kota yang berkarakter.

Misalnya, saat kita mendengar kota Paris sebagai ibu kota negara Prancis. Kita langsung bisa membayangkan segala macam mode dan fesyen. Begitu pula, tatkala orang akan bertandang ke Jakarta, pemikiran apa yang muncul mendengar kota Jakarta. Bukan masalah macet atau banjir saja.

Pemikiran karakter Jakarta ini perlu dibangun sedemikian rupa. Membangun sebuah city branding yang punya potensi nilai budaya Betawinya. Ya, lanskap taman saja, diusahakan jangan tanaman-tanaman impor yang muncul. Kita kan punya tanaman dalam negeri sendiri yang tak kalah bagus dari tanaman impor.

Kejenakaan Jokowi

Berbagai pertanyaan yang dijawab Jokowi kerap menimbulkan suasana diskusi yang hidup, tidak membosankan, santai, dan menyenangkan. Tepuk tangan dan komentar para Kompasianer selalu membahana riuh. Jawaban yang singkat, padat, dan jelas menjadi ciri khas Jokowi.

Hal-hal jenaka nan lucu sehingga membuat gelak tawa para peserta diskusi menjadi hiburan sekaligus kisah yang menarik untuk disimak. Simak saja penuturan saat Jokowi blusukan ke kampung-kampung.

Jokowi sering berjalan kaki ke kampung-kampung yang letaknya cukup jauh. Tak perlu diragukan, para wartawan dengan setia mengikuti Jokowi.

Saya kadang-kadang sengaja lari juga lhhoo. Saya sih tidak masalah, kan tidak membawa apa-apa. Nah, para wartawan itu meliput berita bawa segala kamera yang cukup berat. Sesampainya ditujuan, saya tagih. Mau tanya apa kalian, yaa para wartawan itu ngos-ngosan nanyanya,” tutur Jokowi.

Jokowi pun mendengar komentar bahwa mengikuti ke manapun Jokowi bertugas bisa membuat berat badan turun. “Kalau saya kan enteng dan ringan, hehehe…” lanjutnya.

Saat ditanya tentang aspirasi masyarakat dengan gaya khas jenakanya, Jokowi berkata, “Ya, saya memahami dan banyak mendengarkan permasalahan warga. Melalui itu, saya jadi bisa langsung menerapkan program-program apa saja yang dilaksanakan.

Bolehlah, kalau saya diadu sama para pejabat lainnya. Bukannya bagaimana apanya, tapi baru saya saja ya seorang pemimpin yang berani keluar masuk gorong-gorong.”

Tatkala berbicara mengenai pemikiran karakter ibu kota Jakarta, Jokowi mengungkapkan apa yang dibayangkan saat mendengar Jakarta. Dengan spontanitas, para Kompasianer menjawab, “Ktemu Pak Jokowi.” Jokowi sambil tertawa pun menyambutnya, “Ya, bolehlah kalau mau ktemu saya.”

Singkat dan berkesan

Hampir 1 jam, diskusi bareng Jokowi berlangsung. Sayangnya, sesi pertanyaan terbatas sebab Jokowi sudah ditunggu Presiden SBY di Bandara Halim Perdanakusuma. Sesi diskusi ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari Kompasiana dan Kompas.com kepada Jokowi.

1360315704721088174

Penyerahan kenang-kenangan

1360315973155798263

Kenang-kenangan dari Kompasiana dan Kompas.com

Foto bersama Jokowi tak sampai dirasakan seluruh para Kompasianer. Seusai acara, sambil jalan keluar, Jokowi langsung diwawancarai para wartawan. Satu diskusi yang singkat dan berkesan.

1360316055143624754

Usai acara, Jokowi langsung diwawancarai para wartawan

Komentar Jokowi terkait apakah akan maju di Pilpres 2014 mendatang, “Sekarang ini, saya hanya ingin bekerja saja sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dan membenahi permasalahan yang ada di Jakarta.”

Diskusi sebagai ajang kopdar (kopi darat)

Acara santap siang menjadi penutup dari rangkaian seluruh acara Kompasiana MODIS bareng Jokowi. Satu hal penting, diskusi ini sangat bagus dan bisa dikatakan sebagai ajang kopdar (kopi darat) bagi para Kompasianer.

1360316147399650940

Penulis bersama Bu Elisa Koraag

13603162181007594669

Penulis bersama Mas Herry

13603163211610596138

Penulis bersama Pak Dian Kelana

13603163911943103643

Penulis bersama Pak M Ariffin dan Mas Irpanuddin

Satu ikatan bagi para Kompasianer untuk berbagi informasi, wawasan, dan pengetahuan. Pun saling menumbuhkan rasa kecintaan dalam lingkup dunia tulis menulis dan jurnalistik.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bila Gagal Lulus UN …

Sayidah Rohmah | | 16 April 2014 | 10:34

Nujuman Jusuf Kalla di Arena Pilpres …

Yusran Darmawan | | 16 April 2014 | 10:32

Mengapa Pembunuhan Kennedy Tak Pernah …

Mas Isharyanto | | 16 April 2014 | 06:25

Menilik Macan Putih, Pahlawan Superhero …

Rokhmah Nurhayati S... | | 15 April 2014 | 21:51

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 10 jam lalu

Yess, Jokowi Berani Menantang 10 Partai …

Galaxi2014 | 11 jam lalu

Inikah Pemimpin yang Kalian Inginkan? …

Mike Reyssent | 11 jam lalu

The Jakarta Post, The Washington Post dan …

Ira Oemar | 19 jam lalu

Nama Jokowi Muncul di Soal UN, Pencitraan? …

Pical Gadi | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: