Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Ipet Fitri

- Pensiunan BUMN - S1 - Berkeluarga

Capres di Cerca, Farhat Abas Cabut

OPINI | 28 January 2013 | 06:41 Dibaca: 3543   Komentar: 0   0

Apa kata Farhat Abas diacara hitam putih ” boleh saja mengkritisi presiden, tetapi bila kritik itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka akan ada reaksi perlawanan dari masyarakat ” dan Farhat Abas juga bertkeinginan untuk menjadi presiden, alasannya karena keterpanggilan ingin membawa Indonesia ini menjadi maju dan bersih dengan dilandasi prinsip-prinsip kebenaran, kesejahteraan dan berkeadilan.

Farhat Abas adalah salah satu calon termuda dari banyak pihak yang telah menyatakan diri untuk maju dalam bursa pemilihan presiden yang akan datang. Farhat Abaspun yakin dengan kemampuannya untuk memimpin bangsa ini dan berani bertarung dengan calon-calon lain yang berusia tidak muda lagi namun telah sarat pengalaman.

Mungkin karena semangat muda dan berani bertarung itu yang mendorong Farhat berkomentar menilai tentang banyak hal yang kadangkala menyerempet pihak lain, dan Farhatpun termakan oleh ucapannya sendiri, komentar-komentar Farhat dinilai masyarakat tidak sesuai kenyataan, Farhatpun menuai cerca dan kecaman dimana-mana, ada lima puluh ribu lebih cercaan dan komentar-komentar itu, kata Farhat Abas, Semua cercaan dan makian itu memang menggalaukan perasaan, tetapi itulah bukti bahwa Farhat Abas dikenal secara luas, sebab kalau ngga dikenal tentu tidak akan ada tanggapan. Bang Haji Rhoma Irama yang juga akan maju di pemilihan presiden yang akan datang, ditantang oleh Farhat Abas dengan berkata ” mudah sekali mengalahkan Bang Haji itu, karena Farhat jauh lebih muda sedangkan bang Haji sudah kelewat usia “, lalu apa tanggapan bang Haji ” Siapa itu Farhat Abas ? saya ngga kenal, jadi ngga perlu ditanggapi” ternyata bang Haji ngga kenal Farhat, sehingga ngga perlu ditanggapi.

Tidaklah mudah untuk maju dalam bursa pemilihan presiden yang akan datang, harus ada dukungan dari partai politik, dengan kondisi sekarang ini dimana para ketua umum parpol juga birahi memandang jabatan RI 1 yang menjanjikan itu, maka dukungan parpol kepada Farhat untuk nyapres adalah keniscayaan.

Menanggapi berbagai cercaan dengan ucapan adalah kesia-siaan, perlu tindakan nyata, tetapi tanpa jabatan politik, maka tindakan nyata itu akan sulit terwujutkan, Jabatan Presiden yang diinginkan seperti fatamorgana yang memabukan, lalu peluang yang memungkinkan ada pada pemilihan kepala daerah, sebab dalam pemilihan kepala daerah banyak parpol berkoalisi mendukung calon yang bukan berasal dari kadernya, Itulah pilihan Farhat sekarang ini, melalui pemilihan bupati dikabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara itu, Farhat ikut bertarung disana dan sudah ada dua parpol besar yang akan mengusung, begitu kata Farhat, nyapres dicela, pilih cabut alias calon bupati.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 18 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 20 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 21 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 22 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: