Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Nursodik El Hadee

Muda berkarya, tua bahagia dan istri sholeha, dan mati masuk syurga

Sebening Ceramah KH. Maman Imanulhaq

REP | 06 January 2013 | 00:58 Dibaca: 558   Komentar: 0   0

Bismillahirrahmanirrahim…

Gemerlap malam, beraroma lantunan sholawat terdengar dari pengeras suara Masjid di desa Jerakah-Semarang. Shiroh-shiroh nabawiyah terurai dalam kalimat-kalimat barjanzen menambah kerinduan kepada Rasulullah Muhammad SAW, Baginda yang selalu merahmati, memberkahi, serta memberikan janji pertolongan (syafa’at) kepada umatnya..

Jum’at Malam Sabtu, 14 Desember 2012, adalah sebuah momentum halaqah keilmuan bagi para mahasantri, dimana pada malam itu mahasantri CSS MoRA IAIN Walisongo dan masyarakat sekitar bagai terciprat spektrum cahaya yang disinyalir kata demi kata sang kyai Muda, energik. Itulah yang kira-kira tergambar dari sosok KH. Maman Imanulhaq ketika berkunjung mengisi ceramah di Pondok Pesantren Daarunnajah Jerakah, Semarang, Jawa Tengah. Kyai muada yang biasa disapa kang Maman ini telah membuat mahasantri tergugah semangat keilmuan untuk lebih peka terhadap budaya, tradisi, dan modernitas intelektual era sekarang ini.

Metode ceramahnya yang sedap, humoris berbobot serta diselingi syair sholawat muhasabah, membuat para jamaah dan Mahasantri teringatkan akan Dzat Ilahi Rabbi, daya dan kekuatan Laa ila ha Illa Allah, yang jika diuraikan Allahu Lillahi Lahu Huwa Allah,,, sebagaimana ungkap pengasuh pondok pesantren Al Mizan Sumedang. Beliau menyatakan lafadz Allah begitu luas bahkan jika lautan ini di keluarkan isinya takkan habis oleh lafadz tersebut. Tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan manusia terangkum jelas dalam pernyataan kang maman ketika menyampaikan bahwa setiap tangan dan jemari kita terkandung lafaz Allah Azza Wajala.

Ceramah Kyai tergolong muda ini, tak berhenti sampai disitu, materi pengajiannya yang memperlihatkan pandangan modernitas-tradisional Islam dan kearifan lokal. Pada ranah kearifan lokal Islam, kang Maman menjelaskan bagaimana local wisdom itu mendinamisasi masyarakat yang berkeadaban. Serta keteguhan nasionalisme para pejuang terdahulu, seperti Sukarno, Wahid Hasyim, M Cokrominoto dalam menggagas kesatuan Negara ini. Bagi Kang Maman, dunia Islam ini ibarat bermain bola. Ia bebas bergerak selama masih dalam batas-batas lapangan yang diteknikan. Mencari batas itulah tugas para mahasantri Intelektual saat ini. Sebagaimana yang diyakini Nabi Muhammad adalah penafsir pertama atas kondisi sosial yang merupakan Inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Bagian kedua, dalam ceramahnya menjelaskan tentang Islam dalam bingkai tradisi dan modernitas. Yang dimulai dengan uraian isu-isu hubungan Islam dan Barat dalam konteks kemanusiaan sejagad. Kang maman dengan cantiknya memaknai teks kitab suci untuk kepentingan isu-isu tersebut dan membacakan tradisi umat Islam agar lebih bermakna.

Sebagai Mujahid Intelektual Muda, kang Maman tak hanya memahami tradisi lokal dan budaya. Beliau juga memaparkan dalam ceramahnya terkait dengan demokrasi dan Politik . Berbagai pandangan-pendangan kritis nya, misalnya berbicara bagaimana bangsa barat mengaliansi agen-agen seperti Israel dalam menumpahbelantahkan umat Islam. Pembebasan demokrasi yang begitu kuat sehingga sekarang ini tak daya Bangsa kita bisa membantu Negara islam di pelosok palestina, Ghaza, Syuriah dll. Sebagai Ketua Lembaga Dakwah NU , dari sinilah kemudian Kang Maman mencari titik dialog dengan nuansa sosial realitas kekinian.

Begitulah seputar ceramah Kang Maman, Kyai Muda NU yang begitu luar biasa menerjang batu ekspedisi para pemikir barat, dengan tidak menghilangkan tradisi Islam. Ceramah tersebutlah yang menggugah saya,

Nursodik alumni santri Dar Al Tauhid Arjawinganun Cirebon , dengan asuhan KH. AR. Ibnu Ubaidillah dan Buya Husein Muhammad, segala rahmat dan berkah semoga selalu dalam napak jejak beliau. Aminnn.. Menulis. Tulisan ini adalah salah satu bentuk apresiatif saya terhadap sosok Kyai Muda , KH. Maman Imanulhaq yang begitu luwes mengungkapkan Islam, Tradisi Lokal dan Modernitas. Sebelumnya salam ta’dzim do’a dan bimbingannya untuk diri pribadi, kiranya ada sedikit kekurangan dalam penulisan ini ;

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berisik dan Tidak Tertib, WN Singapura …

Cucum Suminar | | 23 August 2014 | 12:01

Deng Xiaoping dan Diplomasi Tiongkok …

Aris Heru Utomo | | 23 August 2014 | 09:52

100 Hari yang Wajib Dilakukan Bung …

Rushans Novaly | | 23 August 2014 | 07:15

Cara Merawat “Suami” Kedua …

Mbak Avy | | 23 August 2014 | 10:09

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Kerusuhan 21 Agustus 2014 | Jangan Cuma …

Opa Jappy | 6 jam lalu

Hasil Dari Ahok dan KPK Obrak-abrik UJI KIR …

Thomson Cyrus | 6 jam lalu

Bantahan SBY “Recoki” Jokowi …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Ceritaku Tentang Tukang Becak dan Semangka …

Gitanyali Ratitia | 11 jam lalu

Bukti Relawan Jokowi-JK Mengharap Imbalan …

Mike Reyssent | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: