Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Nursodik El Hadee

Muda berkarya, tua bahagia dan istri sholeha, dan mati masuk syurga

Sebening Ceramah KH. Maman Imanulhaq

REP | 06 January 2013 | 00:58 Dibaca: 563   Komentar: 0   0

Bismillahirrahmanirrahim…

Gemerlap malam, beraroma lantunan sholawat terdengar dari pengeras suara Masjid di desa Jerakah-Semarang. Shiroh-shiroh nabawiyah terurai dalam kalimat-kalimat barjanzen menambah kerinduan kepada Rasulullah Muhammad SAW, Baginda yang selalu merahmati, memberkahi, serta memberikan janji pertolongan (syafa’at) kepada umatnya..

Jum’at Malam Sabtu, 14 Desember 2012, adalah sebuah momentum halaqah keilmuan bagi para mahasantri, dimana pada malam itu mahasantri CSS MoRA IAIN Walisongo dan masyarakat sekitar bagai terciprat spektrum cahaya yang disinyalir kata demi kata sang kyai Muda, energik. Itulah yang kira-kira tergambar dari sosok KH. Maman Imanulhaq ketika berkunjung mengisi ceramah di Pondok Pesantren Daarunnajah Jerakah, Semarang, Jawa Tengah. Kyai muada yang biasa disapa kang Maman ini telah membuat mahasantri tergugah semangat keilmuan untuk lebih peka terhadap budaya, tradisi, dan modernitas intelektual era sekarang ini.

Metode ceramahnya yang sedap, humoris berbobot serta diselingi syair sholawat muhasabah, membuat para jamaah dan Mahasantri teringatkan akan Dzat Ilahi Rabbi, daya dan kekuatan Laa ila ha Illa Allah, yang jika diuraikan Allahu Lillahi Lahu Huwa Allah,,, sebagaimana ungkap pengasuh pondok pesantren Al Mizan Sumedang. Beliau menyatakan lafadz Allah begitu luas bahkan jika lautan ini di keluarkan isinya takkan habis oleh lafadz tersebut. Tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan manusia terangkum jelas dalam pernyataan kang maman ketika menyampaikan bahwa setiap tangan dan jemari kita terkandung lafaz Allah Azza Wajala.

Ceramah Kyai tergolong muda ini, tak berhenti sampai disitu, materi pengajiannya yang memperlihatkan pandangan modernitas-tradisional Islam dan kearifan lokal. Pada ranah kearifan lokal Islam, kang Maman menjelaskan bagaimana local wisdom itu mendinamisasi masyarakat yang berkeadaban. Serta keteguhan nasionalisme para pejuang terdahulu, seperti Sukarno, Wahid Hasyim, M Cokrominoto dalam menggagas kesatuan Negara ini. Bagi Kang Maman, dunia Islam ini ibarat bermain bola. Ia bebas bergerak selama masih dalam batas-batas lapangan yang diteknikan. Mencari batas itulah tugas para mahasantri Intelektual saat ini. Sebagaimana yang diyakini Nabi Muhammad adalah penafsir pertama atas kondisi sosial yang merupakan Inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Bagian kedua, dalam ceramahnya menjelaskan tentang Islam dalam bingkai tradisi dan modernitas. Yang dimulai dengan uraian isu-isu hubungan Islam dan Barat dalam konteks kemanusiaan sejagad. Kang maman dengan cantiknya memaknai teks kitab suci untuk kepentingan isu-isu tersebut dan membacakan tradisi umat Islam agar lebih bermakna.

Sebagai Mujahid Intelektual Muda, kang Maman tak hanya memahami tradisi lokal dan budaya. Beliau juga memaparkan dalam ceramahnya terkait dengan demokrasi dan Politik . Berbagai pandangan-pendangan kritis nya, misalnya berbicara bagaimana bangsa barat mengaliansi agen-agen seperti Israel dalam menumpahbelantahkan umat Islam. Pembebasan demokrasi yang begitu kuat sehingga sekarang ini tak daya Bangsa kita bisa membantu Negara islam di pelosok palestina, Ghaza, Syuriah dll. Sebagai Ketua Lembaga Dakwah NU , dari sinilah kemudian Kang Maman mencari titik dialog dengan nuansa sosial realitas kekinian.

Begitulah seputar ceramah Kang Maman, Kyai Muda NU yang begitu luar biasa menerjang batu ekspedisi para pemikir barat, dengan tidak menghilangkan tradisi Islam. Ceramah tersebutlah yang menggugah saya,

Nursodik alumni santri Dar Al Tauhid Arjawinganun Cirebon , dengan asuhan KH. AR. Ibnu Ubaidillah dan Buya Husein Muhammad, segala rahmat dan berkah semoga selalu dalam napak jejak beliau. Aminnn.. Menulis. Tulisan ini adalah salah satu bentuk apresiatif saya terhadap sosok Kyai Muda , KH. Maman Imanulhaq yang begitu luwes mengungkapkan Islam, Tradisi Lokal dan Modernitas. Sebelumnya salam ta’dzim do’a dan bimbingannya untuk diri pribadi, kiranya ada sedikit kekurangan dalam penulisan ini ;

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: