Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Ken Hirai

Bukan writer, bukan trainer juga bukan public speaker, hanya seorang petualang yang sedang mencari jalan selengkapnya

Kisah Sukses Pahlawan Devisa From Zero to Hero Part-1

REP | 29 December 2012 | 16:38 Dibaca: 1685   Komentar: 0   15

Tulisan ini merupakan kisah nyata dari perjalanan panjang seorang TKI yang kini sukses menjadi seorang pengusaha di Riyadh, Arab Saudi. Pak Maizun begitu biasa saya menyapa adalah salah satu sosok yang selama ini saya cari untuk menggali pengalaman hidupnya yang penuh warna. Dan malam itu, bertepatan dengan kunjungan dinas Mensos Dr. Salim Segaf Al-Jufrie ke Riyadh, Arab Saudi, Pak Maizun bertutur panjang lebar tentang kisah hidupnya selama menjadi TKI di Arab Saudi hingga sukses menjadi seorang pengusaha.

Kisahnya diawali dengan beban hidupnya yang hari demi hari semakin berat ketika masih tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Sampai akhirnya Pak Maizun memutuskan untuk mengubah nasib dengan menjadi TKI. Sebelum berangkat Pak Maizun banyak mencari informasi tentang PJTKI, syarat, proses serta prosedur penempatan TKI di luar negeri. Banyak rintangan dan cobaan yang harus dihadapi, hingga akhirnya Pak Maizun memilih PJTKI yang sedikit calon TKI-nya. Alasannya sederhana, dengan memilih PJTKI yang calon TKI-nya sedikit maka Pak Maizun bisa segera diberangkatkan.

Dalam penantian sebelum diberangkatkan, tak henti-hentinya beliau selalu memanjatkan do’a, memohon kepada Allah SWT agar diberikan majikan yang baik hati dan pemurah. Do’a khusus tersebut selalu beliau panjatkan kepada Sang Maha Pengasih, karena sebelumnya banyak cerita kegagalan para TKI yang bernasib kurang beruntung. Menurut informasi dari teman-temannya yang telah berpengalaman menjadi TKI, sebagian besar kegagalan para TKI tersebut lebih banyak disebabkan oleh sikap majikan yang tidak kooperatif dan bersikap diktator. Karenanya, tak ingin gagal seperti TKI yang lain, Pak Maizun selalu berusaha mendekatkan diri pada Allah dan memohon agar diberikan majikan yang baik hati dan pemurah. Tak berapa lama kemudian, Pak Maizun pun siap diberangkatkan. Dengan tekad dan semangat kuat untuk mengubah nasib di negeri asing, Pak Maizun pun mengawali langkah kakinya dengan membaca basmallah sebagai tanda dirinya sudah siap lahir batin dan selanjutnya hanya bisa bertawakkal dan berserah diri pada Sang Maha Pencipta.

Setibanya di bandara King Khalid Riyadh, Arab Saudi, Pak Maizun langsung dijemput oleh majikannya. Ternyata majikannya adalah seorang perwira tinggi militer di kerajaan Arab Saudi. Kesan pertama yang didapatnya sangat baik dan ramah. Bahkan Pak Maizun diperlakukan layaknya seorang tamu. Dalam hati, Pak Maizun hanya bisa bergumam, mungkinkah Allah telah mengabulkan do’a-do’anya selama ini. Dalam dialog pertama dengan majikannya tersebut, yang ditanyakan adalah tentang kondisi keluarga dan tentang Indonesia secara umum. Benar-benar dialog pertama yang sangat berkesan. Dan Pak Maizun pun berharap, semoga Allah benar-benar mengabulkan do’anya selama ini agar dipertemukan dengan majikan baik hati dan pemurah.

Hari demi hari sebagai sopir rumahan dijalaninya dengan penuh semangat dan keikhlasan. Tugas yang diberikan oleh majikannya sangatlah ringan karena hanya melakukan antar jemput sekolah. Karena memiliki banyak waktu luang, Pak Maizun pun ditawari untuk kerja sambilan sebagai penjaga toko. Pagi hari setelah mengantar anak majikan ke sekolah, Pak Maizun langsung membuka toko. Siang harinya setelah menjemput anak majikan dari sekolah, Pak Maizun pun kembali ke toko. Berkat ketekunan dan kejujurannya, toko yang dikelola oleh Pak Maizun pun berkembang pesat. Dan Sang Majikan pun memberikan kepercayaan penuh kepada Pak Maizun untuk mengelola toko tersebut termasuk jenis barang yang diperjualbelikan.

Bertahun-tahun Pak Maizun setia menjalani profesi gandanya, sebagai sopir dan penjaga toko. Hingga akhirnya, Pak Maizun mempunyai ide untuk menjalankan bisnis sendiri. Ide tersebut lahir karena banyaknya permintaan dari pelanggannya tentang produk Indonesia. Kebetulan sebelum berangkat ke Riyadh, Pak Maizun pernah punya pengalaman bekerja di pabrik tempe di Pekalongan. Sebagai langkah awal, Pak Maizun pun memproduksi tempe dalam skala kecil. Ternyata produknya sangat diminati oleh para pelanggannya. Hingga akhirnya, Pak Maizun memberanikan diri menghadap majikannya untuk menyampaikan rencana bisnisnya.

Sayang, niat baik Pak Maizun tidak mendapat restu dari majikan. Alasan majikan pun sangat sederhana, karena majikan ingin menghabiskan masa tuanya hanya untuk beribadah dan lebih mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Bagi majikan yang hidupnya sangat sederhana tersebut, harta yang dimilikinya sudah cukup untuk menghidupi keluarganya, sehingga tidak ingin sisa hidupnya disibukkan dengan urusan bisnis. Namun demikian, majikan pun tak kuasa melarang Pak Maizun untuk berbisnis sendiri. Sehingga majikan pun menyarankan kepada Pak Maizun untuk pindah ke majikan lain jika tekadnya untuk berbisnis sudah bulat.

B E R S A M B U N G…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 18 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 20 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 21 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 22 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: