Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Raistiwar Pratama

Suami dan ayah dua anak lelaki yang berbahagia di Depok. Bersekolah di Jakarta, lalu berkuliah selengkapnya

Mohammad Natsir: Sosok Mujahid Dakwah, Politikus, dan Negarawan

REP | 06 December 2012 | 14:10 Dibaca: 169   Komentar: 0   0

Berikut merupakan transkrip wawancara dengan salah seorang murid Mohammad Natsir. Beliau bernama Daud Gunawan. Waktu saya wawancarai, beliau merupakan Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung dari Partai Bulan Bintang. Beliau lahir semasa Pendudukan Jepang, tepat dua tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

***

Pada 1967. Itulah kali pertama saya bertemu Mohammad Natsir. Ketika itu kami membahas tentang kristenisasi. Pertemuan mencapai mufakat, maka dibentuklah Badan Pembangunan Muslimin Indonesia (BPMI) untuk menangkal deras arus kristenisasi. Mengapa saya terpilih? Oleh karena saya bertugas sebagai surveyor di Lembang, Bekasi, dan beberapa daerah di Jawa Barat lainnya. Pertemuan itu pula yang merupakan latar belakang pendirian Masyumi. Perlu ditegaskan di sini, sejarah perlu diluruskan. Bahwa Masyumi itu sengaja membubarkan diri, bukan partai terlarang. Memang Soekarno sempat berdiplomatis, namun pemerintah tidak berani menyatakan Masyumi sebagai partai terlarang, apalagi membubarkannya. Selain terutama membentengi ‘aqidah umat dari pengaruh unsur-unsur Kristen dan Yahudi serta nativisme, Dewan Da’wah (Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia) juga ingin membekali referensi da’i dan turut mengembangkan sarana keislaman di pelosok daerah, serta terutama mengirimkan da’i ke segala penjuru Indonesia. Itulah hingga 1999, apa yang menjadi pekerjaan Dewan Da’wah.

Bagi saya terutama, Pak Natsir merupakan sosok ulama yang sangat cerdas dan sangat cerdik. Beliau adalah mujahid da’wah, politikus, dan negarawan. Beliau paham kapan mesti menempatkan diri. Istiqamah. Sifat itulah yang erat melekat dalam diri beliau. Jelas dan tegas. Beliau mampu bersikap adil. Walaupun musuh sekalipun, kalau memang benar, dia benarkan. Berkali-kali beliau membantu Indonesia, bukan pemerintah, walau kadang-kadang dari balik teralis penjara. Kalau memang dia menggunakan baju politikus, dia tidak akan bantu pemerintah. Bantuan itu untuk Indonesia, bukan untuk pemerintah. Inilah yang saya sebut sebagai sosok beliau sebagai negarawan. Tawadhu’. Itulah sosok negarawan!

Saya berinteraksi dengan Pak Natsir selama hampir duapuluh lima tahun. Saya selalu datang ke Jakarta, mewakili Rusyad Nurdin, karena saya merupakan wakil Rusyad Nurdin dari pengurus Dewan Da’wah Jawa Barat. Selama itu pula saya berkecimpung dalam Dewan Da’wah hingga beliau wafat. Begitu banyak peristiwa berkesan selama interaksi saya dengan beliau. Interaksi langsung dengan beliau, bukan hanya melalui bacaan. Berikut beberapa di antaranya, sepanjang ingatan saya. Pada suatu kesempatan kami mengadakan pertemuan dengan organisasi kemasyarakatan se-Jawa Barat. Kami bertiga (Mawardi Noor, S. H, Rusyad Nurdin, dan saya) ditugaskan Mohammad Natsir. Jelang acara dimulai, tiba-tiba saya disuruh pulang karena sebagian peserta pertemuan tidak menghendaki kehadiran saya. Baru beberapa meter saya berjalan, Rusyad Nurdin memanggil saya kembali. Dia mengajak saya untuk bermalam. Keesokan paginya ternyata Mawardi Noer justru pulang ke Jakarta. Gagallah pertemuan tersebut. Beberapa waktu kemudian, saya bertemu Pak Natsir di Jalan Jawa, Jakarta. Pak Natsir menanyakan tentang hasil pertemuan tersebut. Saya menjawab: “Tidakkah Pak Mawardi Noer sudah melaporkan?”. Tanpa bermaksud menanggapi beliau hanya menjawab: “Jawab saja dengan ‘amal!”. Ternyata saya baru mengetahui belakangan bahwa saya dicurigai sebagai intel atau mata-mata pada 1974-an. Kecurigaan sebagian peserta dan juga sebagian anggota Dewan Da’wah ternyata memang tidak terbukti, hanya isapan jempol belaka. Wajar saja tuduhan tersebut mengemuka karena pemerintah amat represif, bahkan nyaris ketakutan atas potensi umat Islam. Bahaya ekstrem kanan, begitu kira-kira alasan pemerintah. Akan tetapi kemudian pada 1978, saya justru ditangkap, sehingga cairlah tuduhan intel itu. Itulah sosok ulama! Tidak pernah menuduh tanpa cukup bukti. Beliau justru menantang buktikan saja dengan perbuatan!

Satu peristiwa lagi. Terjadi ketika Rapat Nasional Dewan Dakwah di Jakarta. Setiap pengurus daerah mesti mengajukan konsep dan terobosan demi pengembangan da’wah di pelosok daerah. Saya dan Mursyadin Dahlan pun membuat konsep media, tepatnya majalah. Kami beri nama majalah itu, Media Da’wah. Kami memperhatikan bagaimana di daerah, terutama di Jawa Barat, begitu mudah ditemui Injil berbahasa Sunda. Itulah alasan kami berani menggagas media. Akan tetapi bagaiman reaksi beliau? Inilah kehebatan beliau. Pak Natsir tidak pernah katakan jangan begini, itu salah, tetapi beliau justru bilang: “Coba pikirkan lagi saudara Daud!” Beliau selalu mengajak kami berpikir dinamis. Jangan statis. Ketika kami kembali memaparkan gagasan kami bahwa Media Da’wah merupakan majalah yang berbahasa Sunda. Beliau lantas menjawab “Itu yang saya maksud!” Beliau tidak pernah menggurui, walau kami pun merasa tidaklah mengapa. Itu ‘kan wajar. Kami murid. Beliau guru. Akan tetapi, beliau tidaklah seperti itu. Itulah kekaguman kami kepada beliau.

Peristiwa lain lagi, masih terkait dengan Pak Natsir. Ah, betapa saya merindukan beliau. Setelah beberapa kali bertemu, beliau sudah akrab dengan saya. Sesudah melewati beberapa pembuktian tentunya. Maka dari itu, saya pun disuruh membuat program Kader Da’wah. Program pembinaan da’i, termasuk pengiriman da’i ke pelosok daerah. Saya pun menulis proposal, seperti layaknya pengajuan kegiatan. Setelah saya perlihatkan, beliau hanya berkata: “Coba pikirkan lagi, coba kaji lagi!” Ternyata kesalahan saya adalah saya menuliskan jumlah peserta lebih-kurang 50 orang. Kata lebih-kurang atau plus-minus itulah yang menjadi keberatan beliau. Lantas saya coret jumlah peserta menjadi 30 orang. Saya kurangi hingga duapuluh orang. Komentar beliau: “Selalu rencanakan dengan pasti! Masalah jumlah peserta yang datang berapa, kurang atau lebih, itu masalah lain”. Beliau tidak pernah menggunakan kata-kata kalau, barangkali, kira-kira. Beliau sangat matematis dan kongkret. Bila gagal merencanakan, maka merencanakan gagal.

Satu peristiwa lagi. Lagi membuktikan kenegarawanan beliau. Walau masih menjabat sebagai politikus. Amat jauh berbeda dari kondisi sekarang ya? Pernah ada seorang anggota Masyumi datang mengunjungi beliau. Maksudnya meminta proyek. Tanpa rasa marah, beliau hanya bilang: “Kalau Masyumi dimintai proyek, lebih baik saya mundur saja”. Akhlaq beliau adalah akhlaq Rasulullah. Maka dari itu, baik kawan maupun lawan selalu menghormati. Seperti Abu Jahl yang begitu membenci Rasulullah, namun ketika bertemu muka, hanya terdiam penuh hormat. Bahkan karena perilaku beliau, orang Katholik pun sangat mendukung Piagam Jakarta. Saya ingat namanya: Kasimo. Iya itu namanya! Itu karena akhlaq beliau. Saya kira inilah kesulitan penerapan syari’at Islam dewasa ini. Tidak ada keteladanan.

Satu lagi perilaku beliau yang mirip seperti perilaku Rasulullah. Beliau tidak pernah membeda-bedakan tamu. Siapa saja silakan datang. Semua tamu diperlakukan sama. Setara. Memuliakan tamu. Sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang hanya sebentar, seperti permohonan dana, yang langsung ditangani sekretaris beliau setelah beliau berikan pernyataan persetujuan. Ada pula yang lama, seperti masalah pengembangan da’wah, terutama di daerah. Pelayanan memang berbeda, namun semua diperlakukan sama.

Beliau tidak pernah memisahkan politik dan da’wah. Oleh karena keduanya memang tak terpisahkan. Tidak ada perbedaan antara da’wah dan politik. Perbedaannya hanya satu. Politik itu tujuannya konstitusi, lalu birokrasi. Da’wah lebih dinamis, bergerak lebih leluasa. Apa yang paling penting adalah mewarnai bukan diwarnai. Da’wah itu ‘kan amar ma’ruf nahi munkar? Tidak hanya di masjid, pesantren, dan majlis ta’lim tok, tetapi juga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Selalu melihat kesempatan. Tak pernah berdiam diri. Apa yang terpenting ialah perbuatan. Bergerak. Setidaknya ada keinginan. Ada niat. Masalah hasil itu serahkan kepada Allah. Sehingga kita semua pantas masuk sorga, amin! Hanya sebentar berada di neraka.

Dia politikus yang selalu melihat apa yang tersirat. Jelas, apa yang tersurat itu penting, tetapi apa yang tersirat lebih penting. Itulah sebabnya mengapa beliau tidak pernah pasif. Akan tetapi selalu aktif. Sekali lagi Masyumi itu membubarkan diri. Ini perlu dicatat. Perlu pelurusan sejarah. Konsep Masyumi itu membangun manusia, bukan membangun jalan. Kalau manusia sudah baik, maka dia pasti akan membangun jalan dengan sendirinya. Pikiran itu sudah ada sejak tahun dasawarsa 1940-an. Belakangan, Soekarno menggadopsinya menjadi membangun manusi yang utuh. Begitu pula Soeharto dengan menggunakan istilah SDM (sumber daya manusia). Itu semua sama saja. Generasi sekarang harus berani mengungkapkannya. Mengapa mesti malu? Sungkan? Ungkapkan saja. Ini salah satu contoh. Sekarang kita mengenal apa yang namanya ekonomi kreatif itu dari ide, dari rakyat, sebagaimana kata Mari Elka Pangestu. Itu ‘kan sama saja.

Negarawan memang banyak. Namun agak sulit mencari seorang yang tawadhu. Kesederhanaan dan keteladanan. Kita perhatikan sekarang bagaimana kader sekarang sulit bertemu dengan mentor. Berbeda dengan masa lalu, mentor mudah ditemui dan selalu ada keputusan. Sehingga selalu ada koordinasi. Tidak justru jalan sendiri-sendiri. Saling merasa diabaikan.

Begitu pula halnya dengan Pancasila. Pancasila harus dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Bukan sekadara botol kosong yang harus diisi. Bagi beliau dan kader Dewan Da’wah, Piagam Jakarta harus kembali, supaya ada payung hukum. Pancasila tidak perlu diperdebatkan, tetapi perlu dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Tidak ada persoalan, jangan disimpangkan.

Kebebasan beragama bukan berarti bebas menodai agama. Itu pula yang melatarbelakangi alasan mengapa beliau menulis surat kepada Paus tentang etika penyebaran agama. Masing-masing agama, silakan berkembang. Lakum dînukum waliyadîn.

Wibawa orangtua kita dulu adalah keteladanan. Bukan pangkat. Bukan jabatan. Selepas Pak Natsir wafar, kepemimpinan kolektif itu masih sulit, masih berkutat pada figur.

Ini satu peristiwa tentang bagaimana corak kepemimpinan beliau.. Pemilihan Umum Pertama semasa Soeharto berkuasa, memang hanya menyisakan satu partai Islam, yaitu Partai Persatuan Islam. Pada 1973, Pak Natsir menyatakan saya pilih Ka’bah (lambang PPP). Meskipun kader Dewan Da’wah sebagian besar menyatakan ‘golongan putih’. Beliau tetap tidak memaksakan kehendak. Oleh karena ini masalah mu’amalah, bukan ibadah. Lebih-lebih, Dewan Da’wah bukanlah partai politik. Bahkan saya tetap ‘golongan putih’ hingga 1999 kemarin. Akan tetapi, saya dan kader Dewan Da’wah lainnya, tetap menyebarkan pernyataan bahwa Pak Natsir memilih Ka’bah. Perbedaan pendapat itu boleh di dalam keluarga, tetapi jangan dibawa keluar. Apapun pendapat itu, hargai pendapat mereka yang tua. Mereka yang muda pun tidak perlu berteriak di luar. Tidak perlu di-expose. Perbedaan itu sah betul, begitu ucap beliau, tetapi tidak perlu dibawa keluar, saling menyerang, saling menjelekkan. Deliar Noer dan Sjafruddin Prawiranegara bersikap keras, tetapi tetap menghormati beliau, karena sebagai orangtua. Begitulah kami berbuat di Dewan Da’wah.

Satu ayat yang selalu saya ingat, karena seringnya beliau ucapkan. Terlampau seringnya saya mendengar, hingga saya lupa surat apa dan ayat berapa. Walladzîna jahadu lanahdiyanahum subulana. Sungguh-sungguhlah beramal, maka Allah akan membantu kita. Ayat itu tidak pernah ditinggalkan, sampai-sampai dipasang di atas pintu rumah. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita sungguh berjuang, agar pertolongan Allah datang.

Beberapa waktu sebelum beliau wafat, kita selalu memonitor kondisi beliau. Bahkan beberapa hari sebelum kepergiannya, beliau masih melakukan aktifitas seperti biasa. Meski tertatih, tetapi beliau sempat menelpon teman-temanya di luar negeri. Termasuk ketika dokter beragama Katholik, mencabut earphone yang memperdengarkan ayat-ayat Qur’an dari telinga pak Natsir. Entah ke mana dokter itu. Menghilang begitu saja. Mungkin mati. Kami berusaha mencarinya, tetapi tidak bertemu. Sebab beliau wafat karena sakit tua, sudah uzur. Delapanpuluh lima tahun seingat saya. Saya turut menyaksikan bagaimana ramainya masyarakat mengiringi iringan jenazah. Semua elemen masyarakat ikut mengantarkan/ ta’ziyah, termasuk pemerintah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Jangan Kacaukan Indonesiaku! …

Eki P. Sidik | 8 jam lalu

Jersey Baru, Semoga Ada Juga Prestasi Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Perpuskota Jogja Menjadi Wahana Wisata …

Iis Ernawati | 8 jam lalu

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 8 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: