Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Pm Susbandono

Berpikir kritis, berkata jujur, bertindak praktis

Basuki

REP | 23 November 2012 | 07:53 Dibaca: 1438   Komentar: 0   11

1353631961320540517Sebuah kosa kata sederhana yang sering didengar. Biasa digunakan sebagai nama seseorang, atau kata-kata penyusun pepatah dan nasehat bijak. Meskipun tidak tahu artinya, orang banyak tak peduli. Dibiarkan kata itu berlalu saja, toh tidak mengganggu.

Ternyata, “basuki” mempunyai makna luhur. Ia bisa berarti “sukses”, “selamat”, “untung”, bahkan “mulia”. Satu kata dalam bahasa Inggris bisa mewakili semuanya, “prosperous”. Lantas, apakah istimewanya kata “basuki”? Mengapa tiba-tiba menjadi buah bibir?

Ternyata, Indonesia punya 3 “Basuki” yang luarbiasa. Ketiganya mewakili zaman, profesi dan perilaku yang berbeda. Semuanya pantas menjadi acuan. Paling tidak untuk saya.

Basuki pertama adalah seorang maestro seni lukis yang mendunia. Lahir dan besar di zaman pra kemerdekaan, membuat namanya ditulis berbeda, Basoeki Abdullah (1915-1993).

Karena “hanya” anak seorang seniman lukis dan tari sederhana, pendidikan Basoeki Abdullah semasa kecil kurang istimewa. Akhirnya dia diasuh seorang pastor Katolik, Romo Koch SJ. Darah perjoangan diwarisi dari eyangnya, tokoh pergerakan kebangkitan nasional, Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Bakat melukis Basoeki Abdullah sangat kental. Dia mulai membuat lukisan potret saat berumur 4 tahun. Tak kurang beberapa tokoh dunia digambarnya. Diantaranya, Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, dan Yesus Kristus. Ini mengindikasikan bahwa bayang-bayang Basoeki kecil akan “orang besar” sudah timbul sejak dini. Bayangkan, seorang bocah balita sudah mengenal tokoh kemanusiaan dunia. Bahkan kemudian mencetak wajahnya di atas kertas gambar.

Debutnya mulai tercatat, ketika tanggal 6 September 1948 dinobatkan menjadi “juara dunia seni lukis” yang diadakan dalam rangka penobatan Yuliana menjadi ratu Belanda. Dia mengalahkan 87 pelukis manca negara dengan reputasi dunia.

Sebagai pelukis naturalis, Basoeki Abdullah mempu membuat lukisannya lebih indah dibanding obyek yang dilukis. Perempuan menjadi lebih cantik, pria menjadi lebih gagah, pemandangan menjadi lebih elok, binatang buas menjadi lebih sangar, perjoangan menjadi lebih heroik.

Basoeki Abdullah pantas disebut pelukis Indonesia kelas dunia. Pamerannya digelar seantero Asia, Eropa dan Amerika. Pernah menjadi pelukis pribadi Ratu Muangthai, Sirikit dan Istana Merdeka di Jakarta. Ironis, karier Basoeki Abdullah usai ketika seorang perampok membunuhnya di rumahnya pada tanggal 5 November 1993. Maestro pelukis ternama Indonesia disemayamkan di desa Mlati, Sleman, Jogjakarta.

Kehidupan dunia, di Jakarta - Indonesia, ternyata tidak selalu indah seperti lukisannya. Tetapi, keindahan abadi telah direngutnya, sejak dia menghadap Tuhannya di surga, pada usia 78 tahun. Istirahatlah dalam damai, Rest in Peace. Dunia kehilangan salah satu putera terbaiknya.

Basuki kedua juga berasal dari dunia seni. Yang ini aktor seni komedi dengan bakat istimewa. Meskipun mempunyai nama asli Agus Basuki, dia lebih dikenal sebagai Basuki Srimulat (1956-2007). Ini tambahan nama panggung dari almamaternya, Aneka Ria Srimulat. Sebuah tontonan fenomenal, yang pernah meledak di Indonesia.

Basuki Srimulat berasal dari keluarga biasa-biasa saja, bahkan tergolong kelas tidak mampu. Bapaknya seorang pemain wayang orang Sri Wanito. Namanya Suwito atau pak Pete. Tak heran, Basuki Srimulat mewarisi darah tari seorang anak wayang. Gerakannya luwes, gandes, kewes dan pantes. Ini menjadi faktor plus buat Basuki disamping profesinya sebagai komedian.

Merambat dari bawah, karier Basuki Srimulat terseok-seok di Sri Wanito sebagai pemain cadangan. Tetapi bakat seninya tak bisa ditahan lagi. Lawak dan tari merupakan kombinasi tontonan yang mempesona. Saat menari Jaipong di panggung Srimulat, Basuki menawan hati penontonnya. Geraknya pas, tetap tak lepas dari gerak jenaka. Jaipong dicampur pantomim. Gerakan main bola, menarik tali dan bermain laying-layang mewarnai Jaipongnya. Sangat atraktif. Basuki naik daun.

Setelah malang-melintang sebagai pelawak primadona di Srimulat, Basuki undur diri. Beberapa grup lawak dicobanya, tayangan iklan dilakoninya. “Wesewesewes, bablas angine”, pernah menjadi jargon terkenal di masyarakat. Padahal, itu slogannya ketika mempromosikan salah satu merek jamu tolak-angin. Basuki penuh dengan kreasi.

Semuanya menangguk uang dan membangun ketenaran. Tetapi itu belum selesai. Basuki kemudian terdampar sebagai pemain sinetron ternama, dalam film serial TV “Si Doel Anak Sekolahan”. Di sana Basuki mulai menggenggam nama besar.

Atas pilihan dan bimbingan Rano Karno, sang produser dan sutradara, Basuki berperan luar biasa. Basuki bermain sebagai “mas Karyo”. Pemuda Jawa, bujangan, setengah tua, setengah pengangguran, yang “tersesat” di sebuah kampung Betawi. Mas Karyo menjadi orang desa yang sok kota. Komunitasnya Betawi, tetapi dia survive.

Basuki membawa titik-titik manusia Jawa dengan nyaris komplet. Ada sisi ulet, kerja keras, “licik”, humoris, ndeso, lugu, tetapi juga cerdas. Dalam banyak hal, mas Karyo harus memperdayai Mandra, pemuda Betawi yang “khas Betawi”. Meski terus diapusi, Mandra tak berkutik. Mas Karyo selalu “unggul”. Begitu seterusnya, drama kehidupan yang natural, sehari-hari, diolah menjadi tontonan menarik. 1-0 untuk mas Karyo. Basuki Srimulat terus melejit.

Sampai suatu sore, selepas main futsal. Basuki Srimulat kena serangan jantung. Dia meninggal mendadak. Berangkat dari titik kemiskinan yang dalam, Basuki Srimulat menjadi fenomena dan legenda dunia lawak Indonesia. Terus dikenang sampai kini.

Basuki ketiga sedang manggung saat ini. Nama lengkapnya Basuki Tjahaja Purnama. Nama ini berarti “keselamatan yang bersinar terang”. Dia biasa dipanggil Ahok. Keturunan Cina yang lahir di Manggar, Belitung Timur, 1966, masih menyimpan nama asli, Zhong Wan Xie.

Basuki Ahok asli keluarga pedagang. Tiba-tiba beralih menjadi politikus. Bermula sebagai ketua DPC Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Kabupaten Belitung Timur, melejit terpilih sebagai Bupati di kampungnya. Kini, tiba-tiba, menjadi Wakil-Gubernur DKI Jakarta.

Menyandang minoritas ganda, baik etnis maupun agama, dia tidak minderwaardig. Basuki tidak merasa rendah-diri. Dia tidak gamang, melainkan selalu pasti dan percaya diri. Perubahan dan loncatan yang bukan main-main. Buat Basuki Ahok maupun rakyat Jakarta, bahkan Indonesia.

Dia terus membuat kejutan. Sebagai Wagub, Basuki Ahok tidak biasa-biasa saja. Yang paling spektakuler, saat mengunggah rekaman film rapat internal pemda DKI ke Youtube. Dinas PU-DKI menjadi pilot project. Diancamnya kepala dinas agar memotong anggaran 25%, atau “Saya tumpas sampai ke eselon 3, dan lapor ke KPK, agar dosa masa lalu diprosesnya”. Anak-buahnya gemetar. Basuki Ahok sedang serius. Dia tidak main-main.

Gebrakan yang dilakukan Ahok mengagetkan orang. DKI, yang semula terkesan untouchable, tertutup, dan eksklusif, dibuka drastis dan dramatis. Sekolah unggulan diluruskan hanya untuk mereka yang pintar, berbakat dan tak punya uang. Masih banyak lagi yang dibenahinya. Semuanya mengagetkan banyak orang.

Basuki banyak dikritik, tapi dia bergeming. Dia sedang bersih-bersih dengan sapu jagadnya. Dengan caranya, dengan gertakannya, dengan marahnya. Semua orang terpengarah. Basuki Ahok membuat sejarah. Saudagar menjadi politikus, dan kini menjelma menjadi negarawan. Sangat sulit dibayangkan bagaimana seorang pemuda daerah, pedagang, kaum minoritas, tiba-tiba mengejutkan panggung politik sebagai Wagub.

Ketiga “Basuki” Indonesia mempunyai benang-merah yang mirip. Entah kebetulan atau tidak, mereka harus dicatat dengan tinta emas yang tebal dalam sejarah Indonesia. Paling tidak ada 2 hal yang pantas digaris-bawahi dari mereka.

Pertama, ketiga Basuki seakan menyulap sesuatu yang “tak mungkin” menjadi mungkin, menjadi bisa, menjadi nyata. Istilah yang lagi in untuk fenomena seperti ini adalah “Possibler”. (The Possibler, Herry Tjahjono, 2011).

“Mereka yang biasa menaklukkan ketidakmungkinan, maka yang mungkin, otomatis sudah diraihnya”. Itu nampaknya yang menjadi prinsip bagi “The three Basukis”.

Kedua, ketiga Basuki membuktikan kebenaran hipotesa bahwa kesuksesan, keberhasilan dan kemuliaan hanya dapat dicapai dengan pengorbanan. “No pain, no gain”. Sesuatu jangan diharapkan tiba-tiba jatuh dari langit. Semuanya memerlukan usaha, masa, kerja keras, peluh-keringat, bahkan, tetesan darah dan air mata.

Kesuksesan tanpa usaha merupakan fatamorgana belaka. Kesuksesan tanpa usaha biasanya sementara. Ini yang dimaksud “Jer basuki mawa bea”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: