Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Betrika Oktaresa

Full time husband of Flazona & Father of my baby Bren. Part time auditor. Half selengkapnya

Sultan Syarif Kasim II, Sultan Kerajaan Siak

OPINI | 31 October 2012 | 11:12 Dibaca: 792   Komentar: 0   1

Mendengar kata melayu, mungkin banyak dari kita kemudian mengidentikkan dengan Malaysia. Melayu memang sudah terlanjur melekat dengan negara tersebut, padahal sebenarnya, negara kita adalah cikal bakal tumbuhnya budaya melayu, terutama di wilayah Provinsi Riau dan kepulauan Riau.

Berkembangnya kerajaan melayu diawali dengan berdirinya Kerajaan Siak yang terletak di Kabupaten Siak, Provinsi Riau dan Kerajaan Lingga, yang terletak di daerah Pulau Daik-Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kedua kerajaan ini sangat disegani, bahkan pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu sultan yang pernah memimpin Kerajaan Siak, yaitu Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau yang lebih dikenal dengan Sultan Syarif Kasim II. Sultan Syarif Kasim II lahir pada tanggal 1 Desember 1883 di Siak Sri Indrapura. Luar biasanya, beliau diangkat menjadi sultan pada usia yang masih sangat muda, yaitu pada usia 21 tahun. Beliau dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Siak ke-12 menggantikan ayahnya, Sultan Syarif Kasim.

Pada masa kepemimpinannya, beliau sangat aktif dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Bahkan beliau berani dengan tegas menolak mengakui Kesultanan Siak sebagai bagian dari Pemerintah Kolonial Belanda meskipun para sultan pendahulunya telah terikat dengan perjanjian dengan Belanda, termasuk Perjanjian London 1824.

Selain dalam hal memerangi penjajah, dengan harta yang beliau miliki, beliau menggunakannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Siak, terutama dalam bidang pendidikan. Banyak sekolah yang didirikan di Siak dengan bahasa pengantar Melayu dan Belanda. Bahkan untuk anak-anak Siak yang cerda, beliau juga memberikan beasiswa dengan mengirim mereka ke Batavia atau tempat lain guna menuntut ilmu.

Puncaknya, tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, beliau menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah Republik Indonesia (setara dengan 151 juta gulden atau € 69 juta Euro di tahun 2011).

Di usia 74 tahun, beliau tutup usia di Rumbai, Pekanbaru pada tanggal 23 April 1968, dan dimakamkan di dekat lokasi Kerajaan Siak. Atas dedikasi beliau dalam perjuangan kemerdekaan dan atas semakin berkembangnya wilayah Siak khususnya dan Riau pada umumnya, namanya digunakan sebagai nama bandara udara di Kota Pekanbaru. Saat ini, Kerajaan Siak masih kokoh berdiri dan digunakan sebagai objek wisata bagi para wisatawan yang ingin mengetahui secara langsung Kerajaan Siak di Kota Siak Sri Indrapura.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 14 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 15 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: