Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Mengapa Jokowi Disembah?

OPINI | 03 October 2012 | 19:25 Dibaca: 1581   Komentar: 34   10

Akibat Jokowi disanjung dan dipuja, sehingga Jokowi seakan-akan disembah. Apapun yang dilakukannya akan ddukung. Siapapun yang menjelekkannya akan dilawan dan dihina.

Kemenangan Jokowi dalam pertarungan menuju DKI-1 disambut bak pahlawan. Jokowi dianggap akan membawa perubahan pada Jakarta yang sudah begitu seberawut.

Padahal kalau mau jujur kita akui, Jokowi tidaklah hebat-hebat amat. Prestasinya sebagai wali kota juga tidak luar biasa sekali.

Di Solo tetap masih ada daerah yang kumuh. Masih ada kemiskinan. Masih ada teror. Pembangunannya pun tidak fantastis.

Selain prestasi yang tercatat akan program kartu pelayanan kesehatan dan biaya pendidikan gratjs. Ditambah selama menjadi wali kota Jokowi tidak menerina gaji.

Apalagi? Ya, masih ada program yang pro rakyat dengan pengelolaan pedagang kaki lima tanpa pengusuran yang merugikan.

Lalu mengapa sekarang Jokowi demikian diharapkan dapat membawa perubahan di Jakarta yang persoalnya lebih berat dan komplek?

Realistiskah?

Harapan dan impian kita memang sering kali tidak realistis. Tetapi harapan masyarakat bisa dianggap realistis pada Jokowi saat ini.

Sebab Jokowi dianggap beda dari kebanyakan pemimpin negeri ini. Banyak janji. Tapi tidak ada realisasi.

Banyak tampak religi. Tapi tetap hobi korupsi. Banyak yang tanpa risih hidup bermewah-mewah. Sementara rakyatnya masih banyak yang hidup susah.

Sebagian besar rakyat sudah lelah dibohongi, sehingga tidak respek lagi pada mereka.

Tidak ada pemimpin yang benar-benar yang dapat diteladani. Bahkan tidak sedikit di antaranya menggunakan agama sebagai kedok dan Tuhan sebagai tameng demi nafsu kekuasaan.

Rakyat sudah terlalu rindu akan kehadiran pemimpin yang sederhana dan pro rakyat. Yang mau melayani mereka. Bukan mereka harus harus mengemis.

Jadi kehadiran Jokowi bagi sebagian rakyat yang rindu perubahan adalah bagaikan menemukan kekasih hati yang lagi pergi.

Tentu saja Jokowi tidak layak disembah-sembah. Karena ia hanyanyah seorang manusia. Lagipula Jokowi sendiri tidak akan mau disembah. Karena justru ia akan melayani warga Jakarta sejak 7 Oktober nanti.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: