Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Prabowo Jelmaan Mantan Presiden Soeharto

OPINI | 07 September 2012 | 18:14 Dibaca: 1588   Komentar: 9   1

Masuknya Prabowo Subianto dalam panggung politik pada tahun 2009 lalu sebagai Wakil Presiden RI mendamping Megawati dan sekaligus daftar calon Presiden RI 2014 mendatang, mendapat tanggapan yang luar biasa bagi Bangsa Indonesia ini. Bahkan dari hasil survei berbagai lembaga, menempatkan Prabowo diurutan pertama dan paling pantas untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia ini.

Prabowo disebut-sebut sebagai jelmaan dari mantan Presiden Soeharto, yang telah memimpin Indonesia ini selama 23 tahun berturut-turut tanpa bisa digoyahkan yang akhirnya harus terjungkal oleh mahasiswa dalam pristiwa reformasi pada tahun 1998.

Terlepas dari pristiwa itu, dengan kondisi Indonesia saat ini, nama Soeharto kembali bersinar. Sejumlah masyarakat menginginkan sosok kepemimpinan Soeharto dan ingin kembali pada zaman soeharto, padahal kalau kita tahu sejarah dan tahu kekejaman yang dilakukan pada rezim Soeharto dan seperti apa kondisi Indonesia pada saat itu, tak mungkin kita menginginkan kembali kepada zaman Soeharto yang hingga saat ini kita sebagai bangsa Indonesia harus menanggung hutang akibat ulah pada masa rezim Soeharto.
Terlepas dari politik masa lalu, penulis kembali ingin membahas sosok Prabowo yang disebut-sebut sebagai jelmaan Soeharto.  Secara kekeluargaan, memang Prabowo merupakan mantan menantu dari Presiden Soeharto yang pada saat itu menikah dengan Siti Hediati Hariyadi.
Dalam catatan buku 20 bodoh besar kesalahan Soeharto yang ditulis oleh Drs Wimanjaya K liotohe, Prabowo memang merupakan salah satu calon untuk pengganti Soeharto dikala itu. Dimana Prabowo yang saat itu masih berpangkat mayor langsung diorbitkan dan dikarbitkan menjadi Letnan-jendral oleh Soeharto menjadi Pangdam yang kemudian menjadi pimpinan Kostrad yang menginginkan kelak menantunya Prabowo menjadi penganti dirinya. Sehingga Soeharto bisa memperalat Prabowo sebagai bumper pengamanan kekuasaannya dan kelak bisa menjadikan Prabowo sebagai calon penganti dirinya yang bisa meneruskan tahta kerajaan keluarga cendana dimasa itu.
Itulah kebodohan Soeharto dikala itu, sebab Soeharto tak mau membaca dan belajar sejarah, bagaimana menantunya Saddam Hussien sendiri bisa berkhinat kepada presiden menantunya. Jenderal Ver, iparnya Marcos, yang ikut ngacir tiada berdaya menghadapi People Power. Namun sayangnya, sebelum Soeharto berhasil mengorbitkan Prabowo dikala itu, nama Prabowo terlanjur cacat karena mengaku salah tafsir terhadap BKO (Bawah Kendali Operasi), tapi Prabowo sendiri belum mengungkap siapa AKO-nya (Atasan Kendali Operasi) yang memberi perintah kepadanya melakukan penculikan oleh pasukan kopasus terhadap para aktifis pro-demokrasi, yang disiksa dan dianiaya, dan sebagian sudah dibebaskan, tapi masih 14 0rang yangh belam dimana rimbanya kalau masih hidup atau dimana kuburannya jika sudah mati.

Namun Kopassus pun ikut tercemar, sehingga konon Jenderal Sintong Panjaitan sebagai alumni Kopasus mengharumkan nama ala-maternya dengan pristiwa Heroik pembebasan bajakan pesawat Woylo di Bangkok, tapi kemudian jadi korban kebodohan Soeharto yang memecatnya dalam kaitan peristiwa Santa-Cruz Dili, sangat gusar dan sempat menandang Prabowo karena dianggap bikin malu nama kopassus.

Begitu juga Jenderal Jhonny Lumintang, yang mengambil alih pimpinan Kostrad dari tangan Prabowo selama 18 jam saat Soeharto lengser keprabon tanggal 21 Mei 1998. Prabowo kala itu dihardik sebagai perwira yang tidak pakai otak, pantas saja, kemungkinan otaknya Soeharto yang dipakai Prabowo saat itu.

Pristiwa ini menggambarkan kalau, Prabowo yang saat ini mulai dikenal bahkan disanjung oleh masyarakat Indonesia untuk RI I 2014 melalui partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mendatang merupakan jelmaan dari Presiden Soeharto yang kelak diprediksi akan memimpin Bangsa Indonesia ini.

Kita lihat saja, semoga otak Soeharto yang selama ini disebut-sebut menjelma di otak Probowo tidak seratus persen benar, sebab jika ini yang terjadi jangan harap Indonesia kedepan akan lebih baik lagi dibawah kepemimpinan Prabowo.

Semoga saja, Prabowo bukan dari jelmaan Soeharto tetapi merupakan sosok kepemimpinan yang bisa membawa Indonesia kedepan yang lebih baik tidak seperti yang terjadi pada saat ini. Salam untuk Indonesia baru. (***)

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Basuri Tjahaja Purnama: 20 tahun Mendatang …

Olive Bendon | | 01 October 2014 | 06:58

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | | 01 October 2014 | 04:25

Cerita Dibalik Sekeping Emas Cabang Wushu …

Choirul Huda | | 01 October 2014 | 02:11

Menulis Cerpen Itu Gampang, Mencari Peminat …

Sugiyanto Hadi | | 01 October 2014 | 03:16

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 3 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 5 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | 7 jam lalu

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | 7 jam lalu

A Hok: “ DPRD Sebagai Calo yang Tidak …

Ibnu Dawam Aziz | 7 jam lalu

Mantan Teknisi NASA AS Ajari Pelajar …

Mohammad Yazed Arro... | 7 jam lalu

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: