Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Bryan Septhian

we're young.. sang pelurus bangsa ( air mata perjuangan generasi akan menjadi mata air dunia ) selengkapnya

Kapiten Pattimura

REP | 26 August 2012 | 19:17 Dibaca: 2441   Komentar: 2   0

KAPITEN PATTIMURA

KAPITEN PATTIMURA mungkin tidak lazim di telinga kita saat mendengar nama tersebut, dan yg terlintas di pikiran kita , Beliau adalah sala satu tokoh pejuang. namun mungkin sebagian besar dari kita tidak mengetahui tentang perjuangan Beliau untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Thomas Matulessy atau yang sering di sebut dengan Kapiten pattimura adalah satu dari sekian banyak Putra Kesuma Bangsa yang lahir di tanah Maluku (Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 ).

Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya
Pada saat belanda berkuasa di wilayah Maluku , Berbagai bentuk tekanan sering terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan penyerahan hasil pertanian, dan lain sebagainya. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun sepakat untuk mengadakan perlawanan angkat senjata untuk membebaskan diri. Perlawanan yang awalnya terjadi di Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh Maluku.

Di Saparua, Thomas Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa.

Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa.

Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha.

Pada tanggal 16 mei 1817, perjuangan mereka pun membuahkan hasil. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede dimana benteng tersebut adalah jantung pertahanan Belanda yang pada saat itu berkuasa di Ambon . Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu semuanya tewas.

Baru saja tiga bulan Pattimura dan rakyat Maluku menduduki benteng Duurstede, Belanda segera melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih banyak lagi dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Sehingga Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur . Saat itu kapiten pattimura pun tertangkap bersama dengan beberapa anggota pasukannyya. pattimura tertangkap di Di sebuah rumah di Siri Sori dan langsung di bawah ke Ambon ( Ibukota Maluku ). Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya. Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil diucapkan oleh kapiten Pattimura saat menolak semua kerjasama yang di ajukan Belanda, “Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya
(demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya”.

ARTINYA : PATTIMURA - PATTIMURA BOLEH DI HANCURKAN, TETAPI KELAK PATTIMURA – PATTIMURA MUDA AKAN BANGKIT

Oleh karena penolakan pattimura terhadap kerjasama tersebut, belanda pun menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 mengakhiri perjuangannya. Kapitan Pattimura gugur sebagai Pahlawan Nasional. Dari perjuangannya dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri, keluarga, terutama bangsa dan negara ini.

Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 13 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 15 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 17 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 19 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: