Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Arif Rahman Hakim

Hobi membaca dan menulis. Bekerja di Jakarta dan berdomisili di Bekasi, Jawa Barat.

Mulyadi, Anak Transmigran dari Lampung yang Jadi Jenderal

REP | 23 August 2012 | 11:29 Dibaca: 4137   Komentar: 3   0

Di tengah keterbatasan ekonomi orang tuanya, anak transmigran dari Lampung ini berhasil diterima di AKABRI. Kini pangkatnya Laksamana Pertama TNI AL alias jenderal bintang satu dan menjabat Kepala Dinas Pengadaan TNI AL. Mulyadi pernah menjadi kuli bongkar muat pasir dari truk untuk membiayai sekolahnya.

1345678073245982563

Mulyadi. (Foto: Arif RH)

Desa Bandar Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, adalah desa transmigrasi TNI Angkatan Darat (Transad). Bandar Agung dibangun tahun 1973, dan para penghuninya adalah pensiunan tentara dari Kodam Jaya, Kodam Brawijaya, Kodam Diponegoro, Kodam Siliwangi, dan Kodam Sriwijaya. Mereka ditransmigrasikan ke Bandar Agung menjelang menjelang masa persiapan pensiun, dan mereka pensiun tahun 1975. Pangkat tertinggi para purnawirawan TNI itu adalah kapten. Desa itu terletak sekitar 70 km dari Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung. Para purnawirawan TNI itu bersama keluarganya bahu-membahu membangun desa yang berlokasi di tengah hutan itu.

Saat itu fasilitas pendidikan yang tersedia di Bandar Agung adalah 2 buah TK, 2 buah SD, dan sebuah SMP persiapan negeri. Setelah tamat SMP, umumnya anak-anak Bandar Agung melanjutkan pendidikan ke SMA, SMEA, STM, dan SPG di Desa Transad Poncowati yang terletak sekitar 17 km dari Bandar Agung. Meskipun fasilitas pendidikan terbatas dan kurang memadai, anak-anak Bandar Agung memiliki semangat belajar yang tinggi. Di kemudian hari banyak anak-anak Bandar Agung yang meraih gelar sarjana dan sukses berkarier di perantauan.

Di antara warga Bandar Agung yang paling terkenal adalah keluarga Warsito yang berdomisili di Jl. Pahlawan No. 179. Warsito pensiunan TNI dengan pangkat terakhir kopral satu, dan mempunyai enam anak. Warsito yang berekonomi sederhana berhasil mengantarkan anak-anaknya meraih kesuksesan. Dan wajar jika keluarga Warsito menjadi teladan bagi warga Bandar Agung.

Popularitas keluarga Warsito melejit ketika seorang putranya, Mulyadi, diterima di AKABRI Laut tahun 1981 dan lulus tahun 1985. Kini pangkatnya Laksamana Pertama (Laksma) TNI atau jenderal bintang satu, dan jabatannya adalah Kepala Dinas Pengadaan TNI AL (Kadisadal). Jabatan itu disandangnya sejak 25 Juli 2012.

Bagaimana Mulyadi meraih kesuksesan tersebut?

“Apa yang saya peroleh ini berkat doa dan bimbingan orang tua. Bapak dan ibu menekankan begitu pentingnya pendidikan, dan karena itu anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin. Selain itu sejak dini bapak dan ibu menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai bekal ke akhirat. Saya dan saudara-saudara diwajibkan sholat dan mengaji sejak kecil,” kata Mulyadi.

Anak kedua dari enam bersaudara ini berotak cemerlang dan ulet. Sejak SD hingga SMA ia selalu menduduki ranking satu di sekolah. Mulyadi tamat SMP Bandar Agung tahun 1976, lalu melanjutkan ke SMAN Poncowati tahun 1977 dan tamat tahun 1981. Mulyadi rajin belajar, dan di mana pun berada selalu membawa buku-buku pelajaran. Ia pun aktif berdiskusi tentang pelajaran dengan teman-temannya.

Warsito menerapkan kedisiplinan pada anak-anaknya, termasuk pada Mulyadi. Di hari-hari libur hukumnya wajib Mulyadi ke ladang kelapa hibrida untuk menyiangi rumput agar pohon kelapa tumbuh subur. Saat di ladang pun Mulyadi membawa buku-buku pelajaran dan biografi tokoh-tokoh terkenal.

Saat SMA Mulyadi yang dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 25 Maret 1961, harus bekerja keras. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, di hari-hari libur ia bekerja sebagai kuli bongkar muat pasir dari truk. Upah yang diperolehnya dipergunakan untuk membeli buku tulis dan buku pelajaran. Dia tak malu bekerja sebagai kuli, karena yang penting pekerjaan itu halal. Sedangkan untuk menuju ke sekolah, Mulyadi nebeng truk dan gratis. Begitu pula pulang sekolah.

“Bapakku hanya mengandalkan uang pensiun dan nggak mempunyai penghasilan lain, sementara anaknya banyak yang butuh biaya pendidikan. Saya nggak mau membebani bapak, saya nggak mau cengeng. Saya harus mencari uang sendiri agar bisa lancar bersekolah. Saya lalu bekerja sebagai kuli bongkar muat pasir, dan uangnya saya pergunakan untuk keperluan sekolah,” tutur Mulyadi.

Karena berotak cerdas dan pintar bergaul, Mulyadi mempunyai banyak teman. Dan ia sering ditraktir makan oleh teman-temannya.

Mulyadi saat SMA bertubuh kerempeng dan berambut kribo. Ia gemar bermain sepak bola dan menjadi striker kesebelasan Bandar Agung. Banyak yang menjulukinya “Rully Nere”-nya Bandar Agung. Pada masa itu pemain sepak bola nasional Rully Nere sedang naik daun, dan gaya permainannya ditiru oleh Mulyadi. Selain sepak bola, Mulyadi juga hobi berolah raga tenis meja dan bulu tangkis. Kegemarannya berolah raga tersebut kelak bermanfaat ketika ia diterima menjadi taruna AKABRI.

Buah hati pasangan almarhum Warsito dan Hj. Marsitah ini lulus SMA dengan nilai tertinggi. Kemudian ia mencoba mengadu peruntungan mendaftar di AKABRI melalui Korem Garuda Hitam, Lampung. Seorang temannya datang ke rumah Mulyadi dan membawa berita yang mengejutkan dan sekaligus menggembirakan, yakni nama Mulyadi disebut di RRI Stasiun Tanjungkarang sebagai calon taruna yang berhak mengikuti tahapan tes selanjutnya. Mulyadi tak menyia-nyiakan peluang itu, dan akhirnya lulus di tingkat provinsi, dan selanjutnya diterima sebagai taruna AKABRI di Magelang, Jawa Tengah.

Tahun 1985 Mulyadi lulus AKABRI Laut, dan selanjutnya ia mengikuti berbagai kursus, antara lain kursus Suspaja (1985), Sus P4 45 jam (1986), Diksespa (1990), Diklapa (1992), Seskoal (1998-1999), Sus Danlanal (2000), dan Sesko TNI (2008). Selain itu ia meraih gelar Sarjana Perikanan (S.Pi.) tahun 2001 dan Magister Administrasi Publik (M.A.P) tahun 2004.

Tahun 1985 pangkatnya Letnan Dua, lalu naik menjadi Letnan Satu (1988), Kapten (1991), Mayor (1996), Letnan Kolonel (2000), Kolonel (2005), dan Laksamana Pertama sejak 10 Mei 2011. Berbagai jabatan diembannya, antara lain Kasubdis Teknokap Dismatal (2006-2007), Aslog Danlantantamal V (2007-2008), Sahli “B” Komsos Pangartim (2008-2009), Aslog Pangarmatim (2010-2011), Pati Sahli KSAL Bidang Iptek (2011), Staf Khusus KSAL (2011-2012), dan Kadisadal sejak 25 Juli 2012.

Penugasan dan latihan yang diikutinya adalah Operasi Penyeberangan KRI WIR-379 dari Jerman ke Indonesia tahun 1994, Pengamanan SU MPR 1997, Latihan Operasi Laut Gabungan tahun 1997, muhibah ke Filipina tahun 1998, FCP Kakadu 4/99 ke Darwin, Australia, tahun 1999, pengamanan jajak pendapat Timor Timur tahun 1999, Latihan Armada Jaya Tahun 2005 sebagai Deputi Administrasi Logistik, Pokja Penyusunan Permenhan tentang Perbendaharaan Materiel Dephan/ TNI tahun 2007, dan lain-lain.

Selain Mulyadi, anak Warsito lainnya yang juga meraih kesuksesan adalah Djunaedi. Anak sulung ini bekerja sebagai polisi di Polda Jawa Barat. Sedangkan adik Mulyadi, yakni Mulyono, berpangkat Letnan Kolonel TNI AD dan saat ini dinas di Kodam Siliwangi. Adik Mulyadi yang lain, yakni Mulyanto, menduduki jabatan cukup strategis di sebuah perbankan swasta di Bandung.

Mulyadi mensyukuri apa yang diperolehnya. Kebahagiaannya bertambah karena ia berhasil memberangkatkan sang ibunda ke tanah suci. “Alhamdulillah, saya bersyukur sekali karena dapat memberangkatkan ibu naik haji,” katanya.

Ia menikah dengan Emmi Widjayati dan dikaruniai tiga anak, yakni Didit Setya Nugraha, Dedi Setya Wardhana, dan Dandy Setyo Utomo.

Meskipun telah menjadi jenderal, Mulyadi tetap rendah hati. Di berbagai pertemuan dengan alumni SMAN Poncowati dan mantan pelajar Poncowati ia selalu menekankan ia bangga menjadi anak transmigran. Anak transmigran tak perlu rendah diri alias minder karena mempunyai kesempatan yang sama dengan anak-anak lain. “Anak transmigran bisa maju asal mau bekerja keras dan prihatin,” katanya.

Aku mengenal Mulyadi sejak lama, yakni ketika aku tinggal di Desa Gunung Agung, tetangga Desa Bandar Agung, dan bersekolah di SMP Bandar Agung (1979-1982). Saat itu aku sering bermain sepak bola dan pingpong dengannya. Setelah tamat SMP, aku melanjutkan ke SMAN Poncowati (1982-1985). Mulyadi datang ke SMAN Poncowati tahun 1983 dengan seragam taruna AKABRI Laut, dan kami para siswa dibuatnya bangga. Itulah pertemuan terakhir kami.

Kami kemudian bertemu kembali dalam acara upacara penurunan Bendera Merah Putih halaman di Istana Merdeka, 17 Agustus 2011. Tanggal 17 Agustus 2012 aku dan Mulyadi bertemu lagi di Istana Merdeka dalam acara yang sama.

Semoga semakin sukses, Laksamana Pertama Mulyadi!(*)


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 11 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Nur Delima | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: