Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Aldy Pradana

Penulis yang imajinasinya kelewat tinggi.

Menelaah Ceramah Ustadz Wijayanto

OPINI | 16 August 2012 | 08:32 Dibaca: 18110   Komentar: 63   37

Siapa sih yang tidak kenal dengan Ustadz Wijayanto? Ustadz yang terkenal dengan ceramah dan humor cerdasnya ini, pasti sudah banyak dikenal oleh semua khalayak. Ustadz Wijayanto juga identik dengan ceramahnya yang dicampur dengan komedi yang kritis, sesuai dengan realita yang ada.

Baru-baru ini, Indosat mengadakan “Tabligh Akbar Indosat bersama Ustad Wijayanto” yang diselenggarakan di Masjid Fatimah, Solo, Senin (13/8/12). Ustadz Wijayanto menjadi ‘bintang utama’ di acara tersebut.

Acara yang harusnya dimulai dari pukul 15.00 WIB ini, harus sedikit molor karena Ustadz Wijayanto datang terlambat. Kalau tidak salah beliau datang sekitar pukul 16.15 WIB. Tapi, itu tidak mempengaruhi acara, masjid tetap diisi penuh oleh orang-orang, dan pastinya, ibu-ibu lebih banyak jumlahnya dari bapak-bapaknya.

Begini, saya termasuk ngefans dengan Ustadz Wijayanto. Menurut saya, beliau mempunyai kriteria yang komplit sebagai ‘penceramah’. Saya mempunyai opini bahwa ‘penceramah’ yang komplit adalah yang mempunyai 3 kriteria berikut,

Materi ceramah + Kritikan + Lelucon

Dan beliau memenuhi itu semua. Kemarin, saat saya mendengarkan beliau ceramah, beliau dengan cerdasnya memberikan materi ceramahnya, namun tidak memberikan rasa bosan sama sekali.

Ada jokes di setiap topik yang dibicarakan, yang disambut dengan tawa oleh para hadirin. Jokes nya tidak sekitar konyol-konyolan saja, tapi ada kritikan didalamnya, ada pesan yang tersirat secara tidak langsung disitu.

Sekarang, saya ingin membedah materi ceramah Ustadz Wijayanto kemarin, mencoba menuliskannya kembali. Bagi saya, ceramah beliau wajib untuk diketahui banyak orang. Ini adalah salah satu materi yang beliau bawakan kemarin, yang ditulis dengan ‘gaya saya’ tapi, topik tetap sama dengan yang dibawakan beliau.

Orang tua itu harus mempesona anaknya. Nyuruh anaknya belajar, tapi orang tuanya sendiri ga ngerti ini-itu. Kalo anaknya tanya, “Bu, ini internetnya rusak to?” Si Ibu malah jawab, “Lho? Perasaan eternitnya udah Ibu benerin kok.” Lhah? Maksudnya tu internet, bukan eternit, masak internet aja ga ngerti to Bu.

Nyuruh anaknya solat, tapi apa orang tuanya solatnya bener? Mesti kalo pas solat, doanya diganti, yang harusnya baca Al-Fatihah malah bilang gini, “Ini bacaanya sama kayak kemarin Ya Allah.” Terus langsung Ruku’, pas Ruku’ juga bilangnya, “Ini juga kayak kemarin Ya Allah, masak ga ngerti to?” Begitu seterusnya dan ditutup dengan gedeg-gedeg (salam). Ini kok solatnya cepet banget?

Masjid Fatimah

Ini bapak-bapak sama ibu-ibu disini sering solat tahajud engga nih? Ayo solat tahajud! Bapak sebagai suami, bangunin istri buat solat tahajud. Kalo ga bangun-bangun dipercikin air aja muka istrinya. Nah, sekarang kebalikannya, kalo istri ga bisa bangunin suaminya buat solat tahajud, siram aja pake air se ember. Suami sebagai pemimpin harusnya jadi contoh, ga boleh tu males-malesan. Jadi nanti, ibu-ibu abis ini beli ember yang besar ya, buat nyiram suami.

Buat ibu-ibu disini, hati-hati kalo suami suka maen golf. Kalo golf itu kan ada caddy nya ya, wah, ati-ati aja bu, takut-takut suami matanya jelalatan. Cewek caddy itu ya bu, dari jauh aja udah wanginya udah kerasa. Beda kalo di rumah, wangi engga, adanya bau minyak kayu putih, kalo ga bau balsem. Caddy juga badannya bagus-bagus bu, jangan dibandingin sama ibu-ibu yang perut melebar kemana-mana. Yang tiap hari pake daster sama terus, hari ini digantung, besoknya pake lagi, abis itu digantung lagi, besoknya dipake lagi, itu daster sebulan dipake mungkin dicuci cuma sekali.

Ada suatu momen yang menurut saya sangat lucu, yaitu saat Ustadz Wijayanto bertanya, “Ibu-ibu disini setuju poligami engga? Lalu dijawab dengan lantang dan mantap, “ENGGA!”

Anehnya, saat ditanya begini, “Bapak-bapak disini setuju poligami engga?” Dan, semua bapak-bapak pada waktu itu menjawab dengan lantang, “SETUJU!” Saya cuma bisa ketawa, ternyata bapak-bapak ini punya cita-cita tersembunyi, yaitu punya istri lebih dari satu. Mereka mungkin berpikir poligami lebih baik daripada selingkuh. Jadi, tidak harus sembunyi-sembunyi lagi kali.

Masjid Fatimah

Tidak saya tulis semua, karena mungkin bisa sangat panjang untuk ditulis disini. Saya kira itu saja sudah cukup mewakili.

Sekarang pembahasannya, dari topik mengenai ‘orang tua harus mempesona anaknya’, intinya adalah orang tua harus menjadi contoh untuk anaknya, dan juga harus up to date tentang apa yang terjadi sekarang. Kalau orang tuanya pintar, anaknya juga pasti pintar.

Kemudian, ’solat kok cepet banget’, jelas sekali, solat itu harusnya santai dan dinikmati. Bukan, cepat-cepat dan terburu-buru.

Topik tentang ‘tahajud suami-istri’, saling membangun rumah tangga dengan solat tahajud bersama. Suami juga harus menunjukkan kepemimpinannya sebagai suami dengan mengajak istri untuk solat tahajud.

Dan yang terakhir, ini menurut saya adalah kritik kepada ibu-ibu yang tidak menjaga bentuk badannya lagi. Mempercantik diri itu perlu, bukan cuma dengan make up atau baju yang stylish, tapi juga dengan merawat badan.

Lihat, seperti yang saya bilang di awal, ada materi ceramah, ada kritikan, dan ada jokes juga. Semuanya tergabung dengan rapi. Tinggal masalahnya ada di ‘kita’nya, bisa berubah tidak setelah ceramahnya, sadar tidak dengan kritikannya, jangan cuma ketawa-ketawa saja.

Begitu saja dari saya, semoga yang saya tulis ini bisa bermanfaat untuk semua. Salut untuk Ustadz Wijayanto, anda luar biasa pak!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belum Lebaran kalau Belum ke Pasar Malem …

Nanang Diyanto | | 02 August 2014 | 10:03

Upie Guava yang Tetap Rendah Hati …

Ahmad Imam Satriya | | 02 August 2014 | 11:23

Eksotisme Sisi Barat Gunung Kidul …

Yswitopr | | 02 August 2014 | 09:29

Gedung Flora di Malang …

Abdul Malik | | 02 August 2014 | 08:36

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: