Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Yusuf Daud

komunitas penulis independen Aceh

Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (1)

OPINI | 03 August 2012 | 14:20 Dibaca: 6614   Komentar: 1   0

Malik Khaidir Mahmud. Demikianlah nama asli beliau. Seorang tokoh elit eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikenal dekat dengan Wali Nanggroe, Hasan Tiro. Tokoh yang satu ini memang sungguh unik, tertutup dan sangat berhati-hati dalam berbagai isu yang menyangkut akan latar belakang dan riwayat hidupnya. Sehingga tidak diperoleh catatan yang jelas apa dan siapa Malik Mahmud tersebut. Sementara itu, arah politik Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki, menjadikan tokoh ini begitu populer sebagai Perdana Menteri GAM yang “berhasil” membawa perdamaian ke Aceh melalui jalur politik. Hingga saat ini, tidak ada catatan yang jelas mengenai siapa sebenarnya Malik Mahmud ini. Dari mana ia berasal, kompetensinya dalam karir yang digelutinya selama ini, catatan pendidikan dan pengalaman pekerjaan, keluarga, anak dan istri serta hal-hal lain yang terasa gelap bagi masyarakat Aceh tentang sosok yang disebut-sebut akan menjadi figure pemersatu bagi rakyat Aceh.

Riwayat Kehidupan

Ia lahir pada tahun 1939 si Singapura. Menghabiskan sebagian besar hidupnya di perantauan mengikuti orang tuanya yang bekerja sebagai Saudagar di Singapura. Semasa tinggal di Singapura, ia sempat bekerja sebagai pegawai pencatatan dan kelahiran sipil lalu terdaftar sebagai Tentara Marinir Singapura akibat program wajib militer yang diberlakukan oleh negara itu. Tidak ada catatan yang jelas mengenai kiprah maupun karir Malik di militer. Selanjutnya, asal nama Malik Mahmud Al Haythar berasal dari kesulitan beliau di masa kecilnya dengan menyebut nama tengahnya, “Khaidir”. Sehingga menggantinya dengan ejaan yang lebih mudah menjadi Hayther atau Haythar. Kata penambahan “Al” itu hanyalah reka-reka sendiri mengingat orang Aceh senang dengan hal-hal yang berbau ke Arab-araban.

Ibunya berasal dari Lampreh, Lambaro. Ayahnya, Haji Mahmud, berasal dari Lampuuk, Banda Aceh, campuran Arab dan India. Haji Mahmud pindah ke Singapura untuk mengembangkan bisnis perdagangan. Almarhum Haji Mahmud Khaidir (demikian ia disebut) merupakan pedagang Aceh yang hebat, sangat kaya, dengan sejumlah tanah yang dimilikinya hingga di Singapura. Semasa ia hidup, sebagai orang dagang, Haji Mahmud menjalin persahabatan dengan berbagai kalangan baik di Aceh maupun di Singapura. Ia juga cukup dekat dengan tokoh-tokoh DI/TII seperti Teungku Ilyas Leubeu dan Tengku Daud Bereueh. Sementara Hasan Tiro sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Sementara itu, di kalangan Singapura pun Haji Mahmud cukup akrab dengan tokoh-tokoh kawasan Geylang tempatnya tinggal seperti kelompok See Tong, Wo Shing Wo, Sun Tee On hingga Roland yang merupakan cikal bakal tokoh mafia terkenal yang sangat dekat dengan Malik Mahmud.

Sementara itu, Hasan Tiro selama tergabung dalam DI sangat dekat dengan keluarga Mahmud, terutama dengan Amir Rashid (abang Malik Mahmud yang juga salah seorang Mentri GAM). Haji Mahmud sendiri dianggap sangat berjasa bagi masyarakat Aceh di Singapura, juga bagi orang Melayu, sehingga ia dikenal engan sebutan Ayah Aceh. Ketika terjadi racial clash di Singapura, orang Melayu di Geylang lari berlindung ke rumahnya dengan aman akibat koneksi yang cukup baik dengan tokoh-tokoh Mafia dan Triad di Singapura tersebut.

Malik Mahmud dan Mafia Singapura

Sekitar tahun 1969 merupakan tahun dimana Roland dan anggota geng mafia See Tong mulai menancapkan  “kukunya” di wilayah Singapura setelah sekian lama membangun reputasi bisnis ilegalnya di Negeri Singa tersebut.

1343959681387955300

http://www.flickr.com/photos/drhusaini/7518038894/in/photostream/

Tahun itu juga merupakan awal jalinan kedekatan persahabatan Malek Mahmud dan ketua geng, Roland alias Hylam-kia. Pada malam tanggal 23 Oktober 1969, sekitar sepuluh dari sesama anggota geng dari See Tong menyerang dua anggota geng saingan mereka, Pek Kim Leng ( Putih Golden Dragon). Salah satu anggota geng saingan, yang juga bersenjata, tewas dan yang lainnya terluka parah dalam serangan itu.

Bentrokan terjadi akibat dari perselisihan sebelumnya antara tahta Tong (See Tong) yang dekat dengan kelompok perantau di Geylang termasuk Malik Mahmud dan Ayahnya, dengan Kim Pek Leng di sebuah bar. Krisis pun terjadi di antara keduanya, ketika negosiasi tidak tercapai untuk menghasilkan solusi damai. Pertarungan antara dua geng pun terjadi dimana anggota geng akan saling menyerang saat melihat satu sama lain. Untuk menghindari adanya kejaran dari pihak kepolisian Singapura, Roland dengan dibantu kelompok See Tong dan Malik Mahmud melarikan diri ke Malaysia dan atas bantuan koneksi dari Haji Mahmud yang luas, Roland berhasil ke Belanda dengan dibantu oleh mantan pelaut Singapura yang telah bermukim di Belanda, bernama “Big Jhonny”. Atas rekomendasi Haji Mahmud lah, Big Jhonny membuka jalan Roland untuk bertemu dengan tokoh-tokoh TRIAD Hongkong di Belanda seperti Wo Shing Wo dan Sun Tee On.

Kelompok ini yang selanjutnya terkenal dengan sebutan geng Ah Kong yang beroperasi hingga ke seluruh dunia termasuk Amsterdam, Belanda. Malik Mahmud yang kala itu telah mendukung perjuangan Hasan Tiro, ditunjuk sebagai penggalang dana dengan cara memasok kebutuhan akan ganja dan zat-zat adiktif lainnya ke Belanda yang memang cukup tinggi permintaannya. Sebagaimana diketahui, Amsterdam merupakan salah satu kota dunia yang melegalkan penggunaan ganja dan sejenisnya untuk dikonsumsi oleh warganya. Persahabatan geng Ah Kong terus berlanjut hingga saat ini bahkan setelah kematian Bos Ah Kong tahun 2010.

Perjalanan Malik Mahmud dalam “dunia bawah tanah” Singapura belum benar-benar berakhir meskipun dengan meninggalnya bos Ah Kong. Jalinan persahabatan terus dibangun sebagai wujud kebersamaan dalam membangun reputasi di dunia hitam.

~~~BERSAMBUNG~~~

Yusuf Daud

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Menanti Doraemon Menjadi Nyata …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 December 2014 | 11:36

Admin Kompasiana ‘Tertangkap …

Harja Saputra | | 22 December 2014 | 12:45

Mengintip Bali Orchid Garden …

Benny Rhamdani | | 22 December 2014 | 09:36

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 4 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 13 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 14 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: