Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Yohanes Apriano Fernandez

Seorang putra daerah yang saat ini menetap di kota industri yang hirup pikuk. Terkadang hal selengkapnya

Herman Fernandez, Bertempur Hingga Peluru Terakhir

REP | 10 February 2012 | 04:02 Dibaca: 1062   Komentar: 2   0

1328872522280171831

Sumber: yohanesbernard.multiply.com

Saya sering iseng melakukan googling nama sendiri atau orang terdekat untuk mengetahui jejakku dan jejaknya di dunia maya. Terkadang saya juga melakukan googling nama orang yang telah meninggal, bahkan jauh sebelum dunia maya menyaingi dunia nyata seperti saat ini.

Beberapa waktu yang lalu saya iseng mencari nama Herman Fernandez dan menemukan beberapa blog yang isinya sama yaitu mengisahkan bahwa beliau merupakan salah satu Tentara Pelajar (TP) –kesatuan Perpis (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi)– yang tertangkap di desa Sidobunder, Kebumen. Blog-blog tersebut berdasarkan buku Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 sampai Kudet 66, terbitan Visimedia yang ditulis oleh saksi hidup yaitu Maulwi Saelan. Pada bab yang berjudul Bertempur hingga peluru terakhir dijelaskan secara detail pertempuran di Sidobunder dan anak buahnya yang bertempur hingga peluru terakhir.

Kisah tentang pertempuran di Sidobunder ini –khususnya Herman Fernandez– juga sempat disinggung oleh bung Toto Wirjosoematro dalam tulisannya di Kompasiana dengan judul Missing Link Mising In Action

1328816393361344685

Mengapa saya melakukan googling nama Herman Fernandez? Pertama, beliau merupakan saudara sepupu dari Opa saya –dari keluarga ayah– dan sejak kecil kisah heroiknya sudah diceritakan di dalam keluarga kami. Tentu saja hal ini memunculkan kebanggaan bagi saya sejak kecil hingga sekarang. Beliau merupakan salah satu pahlawan Nasional yang berasal dari NTT dan patungnya menghiasi pusat kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Kedua, saya merupakan salah satu penggemar sejarah bangsa ini, khususnya sejarah kecil yang belum banyak dikisahkan, oleh karena itu saya ingin mengetahui lebih banyak tentang sosok Herman Fernandez. Sayangnya selama berkuliah di Jogja saya tidak menyempatkan waktu untuk menelusuri jejaknya, hanya pusara hampanya yang saya kunjungi. Pusaranya yang terletak di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta hanya sebuah makam kosong karena jenazahnya tidak pernah ditemukan. Mungkin jenazahnya pernah ditemukan namun sulit diidentifikasi seperti ribuan jenazah pahlawan tak dikenal lainnya. Kisahnya secara khusus pernah dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit Nusa Indah –sebuah penerbit lokal– semasa saya kecil, namun sekarang tidak dicetak lagi. Pada tahun 2005, Yayasan Cinta Flobamora Abdi (SANTARADI) menerbitkan buku Ensiklopedi tokoh-tokoh NTT dan Herman Fernandez menjadi salah satu tokohnya. Tulisan ini ingin melengkapi kisah tentang Herman Fernandez yang memilih “lebih baik mati ditembak Belanda daripada mati konyol”.

Beliau terlahir dengan nama lengkap Herman Yosep Fernandez pada tanggal 3 Juni 1925 di Ende, sebuah kabupaten di tengah pulau Flores. Kedua orang tuanya –Markus Suban Fernandez dan Fransisca Theresia Pransa Carvallho– berasal dari Larantuka sehingga sosoknya lebih dekat di hati masyarakat Larantuka. Semasa kecil, anak ke empat dari dua belas bersaudara ini dikenal sebagai anak pendiam tetapi cekatan dan berkemauan keras. Jiwa petualangnya sudah kelihatan sejak kecil karena hampir semua gunung dan bukit di tanah kelahiran pernah dijelajahinya. Selain berpetualang, kegemaran lainnya saat kecil adalah membuat Katapel –beliau cukup mahir dalam membidik burung– dan parang dari besi-besi bekas. Menurut cerita keluarga, kepiawaiannya membidik sasaran merupakan warisan dari sang ayah yang –merupakan punggawa raja Larantuka– sangat mahir dalam menggunakan bedil.

Pada tahun 1941 ia tamat dari Schakel School (SMP zaman Belanda) dan berencana melanjutkan ke Hollands Inlandsce Kweekshcol (HIK) Muntilan atau Sekolah Guru Bantu (HGB) bersama sahabatnya Frans Seda, mantan menteri keuangan Orde Lama dan menteri perhubungan di Kabinet Pembangunan I. Keinginannya ini ditentang oleh sang Ibu, namun karena memiliki kemauan keras maka sang ibu pun akhirnya mengalah meski dengan berat hati.

Di HIK Muntilan, Herman Fernandez menjalin persahabatan dengan Yos Sudarso –teman sebangkunya–, Slamet Riyadi, Alex Rumambi, mantan Dirjen Protokol dan Konsuler Deplu-RI yang berjuang bersamanya di Sidobunder serta tokoh-tokoh nasional lainnya. Sayangnya baru setahun bersekolah, Jepang sudah menduduki pulau Jawa sehingga merekapun diangkut ke Mertoyudan untuk dilatih menjadi Sainendan dan Kaibonden. Hal ini ditolak oleh Herman Fernandez dan teman-temannya yang berasal dari luar pulau Jawa dan diam-diam mereka menumpang kereta api ke Yogyakarta. Oleh karena tidak memiliki keluarga dan kenalan di Yogyakarta maka hidup mereka pun terkatung-katung sehingga Herman Fernandez dan Alex Rumambi terpaksa menerima pekerjaan sebagai buruh tambang Batubara di Cikotok. Sebagian pendapatan yang diperoleh dikirim ke Yogya untuk biaya sekolah Frans Seda dan teman-temannya yang lain.

Ketika pecah Revolusi pada tahun 1945, Herman Fernandez dan Alex Rumambi kembali ke Yogyakarta dan bergabung dengan Keris (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi).  Kemudian ia membentuk Gerisk (Gerakan Rakyat Indonesia Sunda Kecil) bersama Prof. Dr. Ir Herman Yohanes –mantan menteri PU Orde Lama–, Frans Seda serta teman-temanya yang kebanyakan berasal dari NTT. Terakhir Herman Fernandez bergabung dengan Perpis (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi) di bawah komando Maulwi Saelan (mantan wakil komandan Tjakrabirawa). Perpis bergabung dengan Resimen Hasanudin yang dipimpin oleh Andi Matalatta dan kemudian berubah menjadi Resimen Hasanudin Seksi Pelajar.

Pada tahun 1947 Markas Besar Tentara Pelajar (TP) mengirim beberapa kesatuan TP ke Sidobunder, Kebumen Jawa Tengah untuk memperkuat pertahanan TRI (Tentara Rakyat Indonesia). Perpis yang dipimpin Maulwi Saelan termasuk yang dikirim. Pada tanggal 1 September 1947 –satu malam setelah Perpis tiba di Sidobunder– berkembang kabar bahwa pasukan Belanda telah mengadakan pemusatan pasukan di Karanganyar, maka pasukan di bawah komando Maulwi Saelan ini dipercaya untuk menghadang Belanda di jalan menuju Karanganyar.

1328842676730625790

sumber: totowirjosoemarto.blogspot.com

Oleh karena menjadi benteng pertama dalam menghadang pasukan Belanda maka pasukan mereka dilengkapi  berbagai senjata dan Herman Fernandez dipercaya menggunakan senapan mesin (juki) karena postur tubuhnya yang tegap. Keesokan harinya mereka sudah bersiap-siap menghadapi pasukan Belanda yang mulai bergerak perlahan menuju Sidobunder. Hujan mortir dan peluru-peluru musuh menggempur pos mereka dan pos tentara pelajar lainnya. Mereka berusaha membalas namun keunggulan jumlah senjata dan pasukan membuat pasukan Maulwi Saelan tercerai berai. Hal ini menyebabkan Herman Fernandez beserta beberapa temannya (La Indi, La Sinrang dan Losung) terpisah dari pasukan induk. Mereka berusaha melewati sawah yang digenangi air karena hujan turun sangat deras dan akhirnya tiba di sebuah kebun kelapa yang menyebabkan mereka sulit bersembunyi. Peperangan jarak dekat pun terjadi bahkan sesekali terjadi duel satu lawan satu dengan menggunakan bayonet karena mereka kehabisan peluru.

Losung dan La Indi akhirnya tertangkap dan ditembak mati di tempat. Herman Fernandez kepergok seorang opsir Belanda namun peluru La Sinrang yang tinggal satu-satunya berhasil menembus dada opsir tersebut. Tembakan pasukan Belanda lainnya yang semakin mendekat membuat Herman Fernandez dan La Sinrang yang sudah kehabisan peluru berpencar. Pasukan Belanda berhasil menangkap La Sinrang, namun Herman Fernandez berhasil meloloskan diri. Ia berusaha menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam dan berhasil bergabung kembali dengan pasukan Perpis lainnya. Kematian La Indi dan Losung serta tertangkapnya La Sinrang segera dilaporkannya kepada Maulwi Saelan yang segera mengumpulkan pasukannya yang tersisa. Ternayata Alex Rumambi tidak ada dan tidak diketahui keberadaanya maka Herman Fernandez segera ditugaskan oleh Maulwi Saelan untuk mencarinya.

Maulwi Saelan pernah mengungkapkan bahwa postur tubuh yang lebih besar serta kedisiplinanlah yang menjadi pertimbanganya untuk menugaskan Herman Fernandez kembali menyeberangi sungai yang dalam dan deras untuk mencari Alex Rumambi. Tugas ini dijalankan oleh Herman Fernandez dengan penuh tanggung jawab dan ia berhasil menemukan Alex Rumambi yang terluka parah karena tertembak serta tersayat bayonet. Ia menyangka temannya karibnya itu sudah meninggal, namun Alex Rumambi yang sempat membuka mata membuat ia lega karena ternyata masih hidup. Alex Rumambi sempat dibopongnya sejauh beberapa meter namun kondisi medan berupa kebun kelapa yang terbuka membuat mereka mudah dilihat oleh pasukan Belanda. Pertempuran pun terjadi di antara batang-batang pohon kelapa dan akhirnya Herman Fernandez ditangkap setelah tertembak di kaki. Alex Rumambi yang terluka para tidak digubris oleh Belanda karena disangka sudah tewas.

Herman Fernandez sempat ditahan di beberapa tempat sebelum akhirnya bertemu dengan La Sinrang. Ia bersyukur karena La Sinrang yang telah menyelamatkan nyawanya masih hidup juga. La Sinrang menuturkan bahwa beberapa hari sebelum berpisah, seorang Pastor datang dan mengajak Herman Fernandez berdoa. Biasanya kedatangan rohaniawan menandakan bahwa tahanan tersebut akan dihukum mati. Herman Fernandez dituduh membunuh Sersan Nex karena ketika tertangkap ia membawa senjata laras panjang, sedangkan La Sinrang sedang membawa stand gun –yang sempat dipungutnya– saat tertangkap. Herman Fernandez berusaha melindungi kawannya dengan mengakui bahwa dialah yang membunuh sersan tersebut.

Mereka sering disiksa semena-mena oleh tentara Belanda yang terus memaki Anjing Soekarno! Herman Fernandez pernah ditanya lebih memilih mana Negara Indonesia Timur atau Yogyakarta, namun dengan lantang ia menjawab “Kami kenal dan kami pertahankan cuma satu, Negara Republik Indonesia”. Jawabannya membuat ia semakin disiksa sebelum akhirnya dibawa oleh beberapa tentara Belanda dan tidak diketahui kabarnya hingga kini.

132884328975579863

Tugu peringatan bagi kusuma bangsa yang gugur di daerah Yogyakarta dan sekitarnya antara tahun 1945-1949. Salah satunya adalah Herman Fernandez.

Sebelum berpisah, Herman Fernandez sempat berpesan pada La Sinrang “Kalau nanti saya masti ditembak. Tolong sampaikan salam saya untuk teman-teman dan tunangan saya di Asrama Katolik Magelang. Jangan takut mati. Mati ditembak lebih baik daripada mati konyol”. Herman Fernandez pun pergi dari hadapan La Sinrang untuk selamanya, namun jenazahnya tidak ditemukan hingga kini. Banyak isu yang berkembang bahwa setelah ditembak mati ia dikubur di suatu tempat yang tidak diketahui keberadaanya, namun ada  juga yang mengatakan bahwa mayatnya dimasukkan ke dalam karung dan dibuang di dalam sungai. Satu hal yang pasti bahwa pusaranya yang bersanding dengan ratusan pusara Tentara Pelajar di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta hanya menjadi simbol kematiannya. Simbol bahwa sebagai Tentara Pelajar, ia pernah membela tanah air.

Kabar kematian Herman Fernandez akhirnya didengar oleh keluarganya di kampung halaman, namun sang ibu tidak pernah mempercayai berita tersebut dan selalu menanti kepulangan anak tercintanya hingga ia menutup mata di usia lanjut.

Semoga bermanfaat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: