Artikel

Sosok

Kupret El-kazhiem

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

We are born free, but continue to be taxed to death... Our existence is not because the gifts... But because of the freedom... Life is too freely by many choices... It is time for us to continue to fight, for the sake of existence, for the sake of freedom...

Sang Penuntut Hak Mengemudi Perempuan Saudi Akhirnya Tewas


REP | 06 February 2012 | 20:52 Dibaca: 733   Komentar: 28   Nihil

13285362441826318229Tahu kan mengapa perempuan Saudi tidak boleh mengendarai mobil? Hal tersebut dikarenakan adanya larangan agama bahwa perempuan tidak boleh berkeliaran tanpa adanya mahram lelaki yang mendampingi. Fatwa tersebut kemudian ditafsirkan secara tekstual yang merembet ke segala bidang. Namun membaca berita ini, timbul harapan baru bagi perempuan Saudi yang menuntut hak-hak mereka untuk mengemudi.

Seorang pemimpin kampanye yang mendorong perempuan Arab Saudi boleh mengemudi di negara itu, Manal al Sharif, kepada CNN, Minggu (5/2/2012), mengatakan, dia telah mengajukan gugatan terhadap Direktorat Jenderal Lalu Lintas di Riyadh, ibukota negara itu, begitu para pejabat menolak aplikasinya untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Setelah menunggu 90 hari dan tidak mendapat jawaban, dia mengajukan gugatan melawan mereka pada November.

Tidak ada undang-undang lalu lintas khusus yang melarang kaum perempuan untuk mengemudi di Arab Saudi. Namun, fatwa agama sering ditafsirkan sebagai larangan bagi para pengemudi perempuan. Fatwa semacam itu juga mencegah perempuan membuka rekening bank, memperoleh paspor atau bahkan pergi ke sekolah tanpa didampingi seorang wali laki-laki.

Namun naas, ternyata perempuan yang sudah sekian lama berjuang agar kaumnya di Saudi sana diperbolehkan menyetir sendiri, dengan tragis harus tewas setelah mobil yang dikendarai rekannya mengalami kecelakaan di Provinsi Hael. Dia tewas seketika sedangkan rekannya dalam kondisi kritis.

Sebelumnya Manal Al-Sharif sempat ditahan 10 hari karena nekat mengendarai mobilnya sendiri. Manal yang merupakan seorang ahli teknologi informasi berusia 33 tahun saat itu dituduh “melanggar ketertiban umum”.  Saat ini setiap perempuan di Saudi harus bergantung pada pengemudi laki-laki. Hal ini cukup unik, soalnya hanya di Arab Saudi lah perempuan dilarang mengendarai mobil. Al-Sharif dan rekannya selama ini berjuang lewat situs internet seperti Facebook dengan membuat sebuah group yang dinamai ‘Teach me how to drive so I can protect myself,’.

Tampaknya perempuan Saudi masih harus menempuh jalan panjang agar dapat mengendarai mobil sendiri tanpa harus bergantung kepada lelaki. Entah apakah  di balik tewasnya perempuan ini ada konspirasi di belakangnya atau tidak, yang jelas sang pelopor telah tiada. Biasanya gerakan-gerakan protes yang bergantung pada figur lambat laun akan redup apabila kehilangan motor penggeraknya. Atau justru peristiwa tersebut semakin menandakan kedigdayaan kekuasaan Tuhan. Barang siapa yang berani menentang maka akibatnya adalah laknat dan murka Tuhan. Apakah melalui tangan-tangan para wakil-Nya di bumi atau langsung menurunkan azabnya.

Manal adalah salah satu dari ribuan fenomena bagaimana perempuan yang sering dilecehkan bermulut dua, ternyata berani bawel dan ngeyel memprotes fatwa yang telah ditetapkan oleh para ulama. Keberanian tersebut di satu sisi menimbulkan gambaran heroik tetapi di sisi lain akan dipandang sebagai suatu kekonyolan tatkala dirinya sendiri harus kehilangan nyawa, seperti halnya Sondang yang bakar diri di Indonesia. Tak mampu memberikan perubahan tetapi dicibir kualat terhadap otoritas yang berwenang. Apalagi dalam hal ini otoritas keagamaan.

Namun ada pula yang menyeletuk begini, “Kalau di Indonesia perempuan boleh nyetir mobil, juntrungannya jatuh korban 9 orang di Tugu Tani.” komentar seperti ini yang tambah salah kaprah. Kasus Tugu Tani adalah hal yang berbeda, penyebabnya drugs dan siapapun -lelaki atau perempuan- bisa mengalami peristiwa serupa. Peristiwa itu tidak dapat dijadikan dalil ketidakbolehan perempuan mengemudi kendaraan. Nasib oh nasib perempuan, hidup di belantara hukum rimba yang dikonstruk oleh lelaki dan dibekengi Tuhan. Jika tidak ada yang melanjutkan perjuangannya, kisahnya hanya hidup dalam wanti-wanti orang tua kepada anak perempuannya agar jangan sok berani menuntut hak yang sama.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: