Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Bramanti Kusuma

A Philosophy Student | bramisthewalrus.wordpress.com

Mengapa Blaise Pascal Dianggap sebagai Seorang Filsuf?

OPINI | 10 January 2012 | 00:47 Dibaca: 200   Komentar: 0   0

Blaise Pascal (lahir di Clermont-Ferrand, Perancis, 19 Juni 1623 – meninggal di Paris, Perancis, 19 Agustus 1662 pada umur 39 tahun) berasal dari Perancis. Minat utamanya ialah filsafat dan agama, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif. Bersama dengan Pierre de Fermat menemukan teori tentang probabilitas. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak pada bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan, di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat menghitung. Pascal adalah seorang Jansenisme setelah dia menjalin hubungan dengan biara Port Royal tempat saudarinya, Jacqueline menjadi seorang biarawati di sana. Dia menyerang para Yesuit yang dia anggap terlalu longgar dalam moralitas agama Kristen.

Di dalam pengkategorian filsuf sesuai alirannya, Pascal termasuk aliran rasionalis yang pertama kali dirintis oleh Rene Descartes. Walaupun begitu, Pascal memiliki kecenderungan yang berlainan dengan filsuf rasionalis lainnya. Pascal yakin bahwa iman melebihi rasio berbeda dengan filsuf rasionalis lain yang menekankan bahwa iman di bawah rasio. Pascal bisa disebut sebagai seorang filsuf karena dia merintis sebuah cara berfilsafat yang pada nantinya digunakan lakukan oleh Kierkegaard dan juga mengkritisi kemampuan rasio manusia.

Pascal mengkritisi rasio dengan membandingkannya dengan hati. Pemikiran ini lebih dikenal dengan nama Le Coeur. Hati di sini bukanlah emosi belaka melainkan unsur pemahaman yang dapat menangkap prinsip-prinsip pertama kenyataan secara berlainan dari rasio. Menurutnya, hati memiliki alasan-alasan yang tidak dimengerti rasio. Kebenaran tidak hanya diketahui dengan rasio tapi juga dengan hati. Pascal tidak ingin memperlihatkan bahwa rasio dan hati bertentangan, dia hanya ingin menunjukkan bahwa rasio manusia tidak sanggup untuk memahami semua hal. Rasio hanya mampu memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam sedangkan hati melampaui semua itu bahkan sampai pengetahuan tentang Tuhan.

Gagasan lainnya yaitu mengenai Le Pari atau pertaruhan atau lebih dikenal dengan Pascal’s Wager. Gagasan ini berkaitan dengan ada atau tidaknya Tuhan. Gagasan ini diilhami oleh cemoohan orang-orang skeptik terhadap orang Kristen yang tidak dapat membuktikan secara rasional apakah Tuhan itu ada atau tidak. Menurut Pascal, orang yang bertaruh bahwa Tuhan itu ada dan ternyata Tuhan memang ada, orang itu akan berbahagia di surga nanti. Sedangkan jika pada akhirnya Tuhan itu ternyata tidak ada, orang tersebut tidak akan rugi. Kebaikan yang dijalani selama hidup di dunia adalah keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia.

Dengan kritiknya tentang rasio, rasionalisme mendapatkan tantangan dari Pascal. Oleh karena itu, Pascal bisa disebut sebagai seorang filsuf karena dia membahas mengenai suatu hal dalam filsafat khusunya mengenai epistemologi, yaitu kritiknya terhadap kemampuan rasio.

sumber: – wikipedia.org

- F. Budi Hardiman – Filsafat Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 5 jam lalu

Anies Baswedan Merobohkan Mental Block Guru …

Pong Sahidy | 5 jam lalu

Telah Ditemukan Sebab Kekalahan Timnas …

Pebriano Bagindo | 7 jam lalu

Tamat Sudah Riwayat Opa Riedl Siap-siap …

Hery | 7 jam lalu

Heboh, Usia 17 Menangi Rp 15 Miliar! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Bau Apek Hilang dengan Kispray 3 in 1 …

Fadlun Arifin | 8 jam lalu

Revolusi dari desa, Revolusi dari Gagasan …

Basyir Iskandarsyah | 8 jam lalu

Ayah dan Anak Cacat 15 Tahun Tak Tersentuh …

Lugas Wicaksono | 8 jam lalu

Tujuan Jokowi Menaikkan Premium, Inikah …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Nonton Sepakbola Rasa Kesal, Timnas …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: