Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Rizaldo

gemar menulis. bekerja pada bidang tulis-menulis. "kata-kata tidak mengenal waktu. kita harus mengucapkannya atau menuliskannya selengkapnya

“Aku Ingin Jadi Pengusaha…”

HL | 26 December 2011 | 17:54 Dibaca: 1188   Komentar: 18   5

13249207611710938609

Reza dan Rani menyulam…

Gadis kecil berkaos merah ini bernama Reza. Sebelahnya bernama Rani. Dua gadis mungil ini sedang serius menyulam helai demi helai benang pintal. Pagi itu, Kamis pekan lalu, kedua gadis ini, ingin menyelesaikan tugas ketrampilannya; membuat bando kain sulam. Dalam waktu 30 menit, keduanya telah menyelesaikan tugas.

1324920862527850462

Tono, sedang melipat-lipat kertas daur ulang yang akan dijadikan amplop kartu ucapan…

Di seberang bangkunya, ada Tono. Ia terlihat sangat serius melipat-lipat kertas hingga terbentuk sebuah amplop surat. Agak jauh, terlihat bocah kecil mamad dan sholeh sedang sibuk melumatkan kertas-kertas ke dalam blander. Mereka sibuk membuat bubur kertas, hingga akan dibentuk sebuah kartu ucapan daur ulang kertas, koran, maupun kardus bekas.

13249209472028538069

Mamad dan Sholeh, meleburkan kertas bekas untuk dijadikan bubur kertas daur ulang…

Siapa sangka, Reza, Rani, Tono, Mamad, Sholeh, dan 120 anak lainnya adalah anak-anak pemulung dan dhuafa yang kurang beruntung mendapatkan pendidikan berbiaya. Mereka semuanya ini, lewat sentuhan kepedulian sosok lembut seorang wanita, akhirnya mendapatkan pendidikan normal secara gratis, tanpa dipungut biaya.

13249210632002120579

Adalah Sekolah Kami, yang terletak di Bintara Jaya IV Dalam RT 03/ RW 09 Bekasi Barat. Sekolah ini berdiri sejak 2007. Sekolah yang tadinya tempat pembuangan sampah ini, disulap menjadi “Istana Ilmu” bagi anak-anak pemulung ini. Dan, siapa sangka dari tempat seluas 3000 meter persegi, yang kotor dan bau itu, berdiri sebuah harapan yang di dalamnya terasa kental aura kasih sayang dan ketulusan.

Di sini, selain mendapatkan pelajaran kurikulum umum, anak-anak pemulung dan kaum dhuafa ini juga mendapat kesempatan belajar ketrampilan menyulam, menjahit, membuat kue, olah fungsi daur ulang, bermain angklung, dan juga beternak. Mereka juga mendapatkan pendidikan akhlak, kejujuran dan sopan santun.

1324921233542097650

“Aku ingin jadi pelukis…,” ujar Asmi. “Aku ingin jadi pengusaha sukses…,” tegas Rani dan Reza. “Aku juga ingin jadi orang sukses yang punya mobil buanyak,” timpal Tono dan Mamad. “Kalau aku, om, ingin jadi polisi…,” sahut Sholeh bersemangat. Di sinilah harapan anak bangsa, yang tadinya tersingkirkan, bisa menatap kembali masa depannya…

Semuanya ini terwujud berkat sikap mulia seorang dokter Irina Amongpradja. Dokter profesional yang rela, berkorban meninggalkan profesinya demi mencurahkan perhatiannya kepada anak-anak pemulung dan dhuafa ini. Ia rela melepaskan baju dokternya di RS St Carolus, Jakarta. Ia rela menghabiskan tabungan, ia juga rela menghabiskan waktu keluargannya, demi keadaan miris itu; anak-anak pemulung dan dhuafa tak harus memulung juga. “Niat saya hanya untuk mendidik anak-anak kurang beruntung ini, kelak nanti menjadi seseorang yang mendapatkan kehidupan yang layak,” tegas Irina dengan nada paruh.

1324921381223648015

dr Irina Amongpradja bersama anak-anak kurang beruntung…

Sungguh mengesankan…Bayangkan, sejak tahun 2001, Irina dengan uang pribadi, sekali lagi…, dengan hartanya sendiri, Ia bertekad mencetak anak-anak pemulung ini untuk menjadi manusia yang berilmu; cerdas dan mandiri. “Di usia mereka seharusnya mendapat hak menikmati bangku sekolah seperti anak-anak Indonesia lainnya, bukan mengais-ngais sampah atau kardus bekas,” tutur Irina sembari meneteskan airmata.

Saya pun larut dalam suasana piluh ini, saya bertanya; “Kenapa anda menangis?” Sembari mengusap air mata yang meleleh dengan selembar tisu, Ia menjawab; “Saya ngak rela melihat anak-anak berbakat ini hidup mengikuti orangtuanya, memulung. Mereka berhak mengangkat derajat kehidupannya,” jawab mantan dokter lapangan yang pernah bertugas di Timor-Timur selama 20 tahun ini.

13249214981824519767

dr Irina Amongpradja dengan tulus memberikan kepeduliannya demi kecerdasan anak-anak pemulung

“Untuk urusan pendidikan, biasanya mereka selalu menganggap sepele. Apalagi orang tua mereka. Buat mereka yang penting tiap harinya kerja, cari uang dan bisa makan, untuk apa sekolah lebih baik cari uang,” lanjut Irina mengelus dada.

Bagi, wanita asal Bandung ini, anak-anak pemulung ini hadir dalam kehidupan atas nama cinta. Perhatian, kasih sayang, serta ketulusan tanpa pamrih, adalah semangat untuk  menjadikan mereka generasi penerus bangsa yang memiliki nilai budi pekerti dan akhlak yang baik tentunya. ”Kami ingin anak-anak memiliki ketrampilan usaha. Diharapkan minimal mereka mendapatkan penghasilan bukan dari memungut sampah,” tegas Irina Among Pradja bersemangat.

Irina Among Pradja, wanita tangguh penuh kerelaan mengorbankan profesi dokternya, rela tinggalkan penghasilannya yang besar, serta rela bergelut dengan ketidakpastian. Usaha dan kerja keras serta kepedulian dr Irina Amongpradja ini, terhadap pendidikan yang berkualitas, patut kita tiru. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi…???

Inilah karya-karya anak-anak pemulung dan kaum dhuafa itu;

13249216351985265207

Sabun Unik Karya Anak-anak Pemulung Sekolah Kami…

13249216921038355910

Tas Daur Ulang Kertas dan Kardus Bekas karya Terampil Anak-anak Pemulung…

1324921744457958259

Bros Sulam Warna-warni Karya Anak-anak Pemulung…

mulia. sangat-sangat mulia…terpujilah dokter Irina Amongpradja ini. luar biasa…mandiri dan mandiri!!!

1324921845110393502

Satu pesan yang disampaikan kepada saya, khususnya; ”Belajar peduli pada orang lain terutama pada mereka yang membutuhkan itu, memang tidak mudah. Tapi, ingat di dalam harta kita, ada 2,5 persen hak mereka yang kurang mampu. Maka berbagilah…” Salam…(rizaldo, karpetmerah 271211)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Resep Kerupuk Seblak Kuah …

Dina Purnama Sari | 8 jam lalu

“Sakitnya Tuwh di Sini, di …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kabinet Stabilo …

Gunawan Wibisono | 8 jam lalu

Sofyan Djalil dan Konsep yang Belum Tuntas …

Edy Mulyadi | 8 jam lalu

Dikelilingi Nenek-nenek Modis di Seoul, …

Posma Siahaan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: