Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Rasawulan Sari Widuri

Jakarta, I am really lovin it !

Dahlan Iskan: CEO PLN Naik Pangkat Jadi Menteri BUMN

OPINI | 18 October 2011 | 03:22 Dibaca: 813   Komentar: 3   0

Berita hari ini tentang Dahlan Iskan naik pangkat menjadi Menteri BUMN cukup mengejutkan saya. Teringat sekitar satu tahun yang lalu, saya menjadikan kepemimpinan Dahlan Iskan sebagai salah satu topik dalam mata kuliah Organizational Behavior. Saat paper dibuat, Dahlan Iskan masih menjabat sebagai CEO PLN. Ini tentu saja menimbulkan sedikit pro dan kontra pada saat presentasi paper.

Terlepas dari paper saya yang akhirnya sukses selama presentasi, saya kembali ingin mengulas tentang kepemimpinan dari Dahlan Iskan. Menurut nara sumber yang merupakan mantan wartawan Jawa Pos, Dahlan Iskan tidak pernah membeda-bedakan bawahannya. Pada setiap kesempatan, dia selalu menyempatkan untuk menanyakan perkembangan bawahannya secara langsung maupun tidak langsung. Pada suatu ketika, menurut nara sumber, Dahlan Iskan rela ’ngemper’ dikarenakan tidak kebagian tempat duduk. Nara sumber yang merasa tidak enak sempat untuk mengajukan tukar tempat, namun ditolak halus oleh Dahlan Iskan dengan alasan dia memang datang terlambat. Sikap seperti inilah yang menjadikan Dahlan Iskan banyak dikagumi oleh bawahannya. Sampai akhirnya Dahlan Iskan berhasil menjadikan Jawa Pos sebagai surat kabar dengan oplah terbesar di daerah Jawa Timur.

Bisnis Dahlan Iskan berkembang bukan hanya pada media cetak namun juga pembangkit listrik di daerah Kalimantan. Bisnis pembangkit listrik ini mungkin menjadi salah satu alasan presiden SBY untuk memilihnya menjadi CEO PLN pada tahun 2009. Pro dan kontra mewarnai keputusan yang telah diambil SBY. Namun kepemimpinan Dahlan Iskan kembali memberikan warna berbeda di tubuh PLN. Mulai dari restrukturisasi organisasi di internal PLN, perubahan teknis serta terobosan baru dalam menjembatani hubungan atasan dan bawahan.

Satu setengah bulan setelah menjabat CEO PLN, Dahlan Iskan langsung mengganti posisi karyawan di PLN, dimana hanya pejabat yang sesuai dengan kemampuan yang dapat tetap dipertahankan. Salah satu restrukturisasi lainnya adalah peniadaan posisi wakil direktur menjadi kepala divisi. Memang terbilang ribet, namun ini dimaksudkan untuk mencoba mengurangi karyawan yang tidak capable di bidangnya.

Perubahan teknis yang dilakukan Dahlan Iskan adalah fokus pada tiga hal yaitu trafo, konversi gas dan konversi pembangkit diesel di luar Jawa. Pembangunan pembangkit listrik tenaga alternatif semakin gencar dicanangkan oleh Dahlan Iskan. Hal ini terkait dengan sangat tingginya cadangan energi alternatif yang masih dapat diperbaharui untuk memenuhi kebutuhan listrik di seluruh Indonesia.

Fakta yang unik adalah terobosan yang telah dilakukan oleh Dahlan Iskan di dalam organisasi PLN. Pada setiap tanggal 17 di setiap bulan yang biasanya diisi dengan ritual upacara diganti dengan diskusi antara karyawan dan atasan. Selain itu pula, Dahlan Iskan membuat ”CEO Note” yang lagi-lagi mencoba menjembatani hubungan antara atasan dan bawahan. Ciri khas dari ”CEO Note” ini adalah selalu diakhiri dengan nasihat dan semangat untuk terus maju. Dan kembali menurut salah satu nara sumber yang bekerja di PLN, Dahlan Iskan lebih menyukai mengendarai kendaraan miliknya dibandingkan kendaraan yang diberikan sebagai fasilitas kantor.

Semua perubahan yang terjadi di tubuh PLN perlahan memberikan dampak positif baik bagi lingkungan internal maupun eksternal. Walaupun pada kenyataannya mimpi Dahlan Iskan untuk dapat memberikan listrik gratis tidak dapat terwujud dan ’byar pret’ tetap terjadi di Indonesia, kepemimpinan Dahlan Iskan patut diacungi jempol.

Hal ini mungkin menjadi alasan bagi presiden SBY untuk memberikan amanat sebagai menteri BUMN pada hari ini. Kontra yang bergulir bahwa pemberian mandat ini sebagai politik balas budi SBY karena kesuksesan di wilayah Jawa Timur yang dibantu oleh Dahlan Iskan. Sedangkan Pro-nya adalah Dahlan Iskan diharapkan membawa angin segar bagi kemajuan BUMN di Indonesia. Kepemimpinan serta tindakan yang tegas diharapkan dapat mengurangi kegiatan kotor dan negatif yang masih banyak terjadi di lembaga BUMN. Sehingga rasanya tidak salah jika saya berharap kehadiran Dahlan Iskan yang berlatang belakang jurnalis mampu membuat lembaga BUMN berubah ke arah yang lebih baik.


Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: