
Selain sebagai reporter, saya juga menggeluti dunia pengobatan alternatif tenaga dalam supra natural jarak jauh dan metode strum alran listrik. Kunjungi blog saya: Hmsholihan.blogspot.com
Dibaca: 160
Komentar: 0
Nihil
Ketua Umum JPRMI, Otong Somantri.
Setelah terpilih sebagai Ketua Umum Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI), Otong Somantri langsung membuat gebrakan dengan membuat program, “Gerakan Nasional Ayo ke Masjid.” Ini sebagai upaya mengajak pemuda dan remaja untuk kembali ke masjid. Gerakan ini sudah dilaunching sehari sebelum Ramadhan yang lalu di Masjid Al-Azhar.
“Gerakan ini berfungsi mengajak masyarakat untuk mejadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat. Apalagi saat ini banyak remaja masjid yang sudah tidak aktif lagi dan anak mudanya meninggalkan masjid. Oleh karena itu kita mengajak mereka untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat,” katanya.
Jika masjid bisa dijadikan sebagai kebutuhan bagi umat, ia yakin bukan hanya remaja dan pemuda, tetapi juga anak-anak dan orangtua akan berbondong-bondong bergegas pergi ke masjid. Gerakan Nasional Ayo ke Masjid menurutnya, ditopang dengan 3 pilar: pilar pendidikan, pilar kesehatan, dan pilar ekonomi.
Program kegiatan ini ternyata mendapat dukungan yang besar dari operator Telkomsel berupa online masjid raya. “Kita alhamdulillah mendapat amanah mengelola 99 masjid raya di seluruh Indonesia. Pihak Telkomsel memberikan pada setiap masjid raya TV dan komputer, yang dapat nyambung ke internet. Kita harapkan aktivitas 99 masjid raya bisa terpantau dengan baik, seperti kegiatan Masjhid Sunda Kelapa dan Al-Azhar yang padat kegiatannya dapat terpantau oleh masjid lainnya,” tambahnya.
Dengan terhubungnya kegiatan masjid yang ada di seluruh Indonesia, maka Masjid Baiturrahim yang ada di Aceh akan mengetahui kegiatan yang ada di Masjid Sunda Kelapa atau Al-Azhar yang ada di Jakarta. Demikian pula kegiatan Masjid Umar bin Khattab yang ada di Bali akan diketahui oleh jamaah masjid yang ada di tempat lain. Ternyata tidak terbayangkan, ternyata masjid Umar bin Khattab di Bali banyak kegiatnnya dan remaja masjidnya aktif.
Dengan 3 pilar tersebut ia mengharapkan masyarakat dapat terpenuhi kebutuhannya di masjid. “kita sudah berhasil membina anak-anak kita usia TKA dan TPA. Tapi kita mendapat masalah setelah anak-anak TPA selesai diwisuda, maka selesai pula kegiatannya. Sedangkan kelanjutan dari TPA sampai saat ini belum ada. Akhirnya mereka tinggal dan berkeluyuran di jalanan,” ungkapnya.
Kiini untuk menjawab permasalahan tersebut, JPRMI mendirikan sekolah berbasis masjid sebagai kelanjutan TKA dan TPA. Jadi, guru dan muridnya sama. Hanya kurikulumnya yang berbeda. Kurikulumya sengaja dibuat khusus untuk kebutuhan remaja dan gaya remaja. Otong mengharapkan, hal ini dapat memenuhi kebutuhan pendidikan remaja.
JPRMI menurutnya, sudah mendapat dukungan dari Baitul Mal BRI dan sebentar lagi Bank Muamalat dan Telkom. Mereka berkomitmen untuk memberikan beasiswa terhadap anggota JPRMI. Nama beasiswanya Kader Surau. Mereka yang aktif di remaja masjid dan tidak punya biaya untuk SMP. SMA, dan perguruan tinggi. Beasiswa diberikan untuk uang masuk sekolah dan uang bulanannya.
Yang menarik, katanya, JPRMI mendapat tawaran dari BRI untuk memberikan beasiswa S-1. Kalau ada kader surau yang telah mendapat rekomendasi dari JPRMI, mereka bisa kuliah gratis di Perbankan Islam sampai biaya hidup. Juga dapat tawaran untuk tenaga bidan. Kalau ada satu daerah yang tidak ada bidannya, kemudian ada aktivitis remaja masjid yang berniat menjadi bidan, JPRMI sudah mendapat dukungan dari BRI untuk menyekolahkan remaja tersebut ke sekolah kebidanan. Tapi dengan persyaratan setelah lulus, mereka harus kembali ke daerahnya untuk menjadi bidan.
Kedua, pilar kesehatan. Saat ini JPRMI sedang merintis klinik masjid. Pendirian klinik masjid menurutnya, akan difokuskan pada 99 masjid raya. Jadi, masjid raya yang sudah online itu diwajibkan mendata kaum dhuafa, yang belum tercatat dalam program Gakin, yang berobat gratis dari pemerintah. Ia yakin banyak umat Islam yang belum tercover oleh program berobat gratis dari pemerintah. Mereka yang sudah didata, didaftarkan ke BRI. Nanti pihak BRI akan melakukan verifikasi terhadap mereka.
Yang telah lolos verifikasi, nantinya mereka gratis kalau berobat ke Puskesmas atau klinik setempat. Nantinya DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dulu yang mengeluarkan biaya. Kemudian pihak BRI akan mengganti biaya tersebut. “Itu pilihan pertama kita. Pilihan kedua, kita akan mendirikan klinik masjid. Kita akan mengadakan perawat dan dokter di klinik masjid setelah jelas kontraknya dengan BRI. Kaum dhuafa nantinya gratis berobat,” tuturnya.
Ketiga, pilar ekonomi. Belum lama ini pihaknya mengadakan whork shop wirausaha berbasis masjid. Para remaja masjid dipacu kemampuannya dengan memberikan training, bahkan mereka diberikan modal bergulir. Dana tersebut berasal dari BRI dan Telkomsel. Dari BRI sudah disepakati.
Yang sudah berjalan, menurut Otong, pertama, pedagang keliling di daerah Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Kedua, kurma dari tomat kering di Boyolali, Jawa tengah. Ketiga, pihaknya tengah mengajukan budidaya ikan air tawar di Depok Jawa Barat. Pihak Bank Indonesia (BI) juga memminta JPRMI untuk mengelola 50 pedagang keliling. Masing-masing pedagang akan diberikan dana antara Rp 4 juta – Rp 5 juta.
Ini pilar ekonomi yang akan ditawarkan ke masyarakat. Penawaran modal tersebut menurut Otong, tidak diberikan kepada mereka yang baru berusaha. Yang berhak memperoleh dana untuk modal usaha adalah mereka yang usahanya sudah berjalan. Palaing tidak sudah 2 – 3 tahun sudah berjalan usahanya, tapi mereka masih butuh penambahan modal. Dengan memberikkan tambahan modal sekitar Rp 10 jutaan diharapkan posisi mereka naik dari mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat).
Bagi remaja masjid yang masih pengangguran diwajibkan untuk magang. Seperti di Boyolali, pihaknya membantu usaha korma dari tomat kering. Kegiatan tersebut sudah berjalan. Ia harapkan sekitar 3 orang remaja masjid yang belum punya pekerjaan magang di sana. Kalau yang magang ternyata layak diberikan bantuan, mereka akan menjadi sasaran level kedua.