Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Achmad Soeparno Yanto

Sebuah hari takkan pernah dikenang tanpa karya yang kita buat. (Josh S. Hinds)

Sang Komponis yang Tuli

REP | 17 August 2011 | 12:00 Dibaca: 1328   Komentar: 0   0

Ludwig van Beethoven (1770 – 26 Maret 1827)

Ludwig van Beethoven

Ludwig van Beethoven

Ciptaanku ini, bukanlah untukmu tetapi untuk masa sesudahmu.”

Beethoven merupakan mestro musik di jamannya, komponis jenius yang mampu menggubah musik instrumental menjadi musik yang kemudian tidak lagi di nomorduakan. Perubahan-perubahan yang dilakukan Beethoven terhadap musik instrumental, memang memiliki pengaruh yang abadi hingga saat ini. Dia telah memperluas “ukuran” sebuah orkestra. Dia menambah panjangnya simfoni dan memperluas daya jangkaunya, dengan mendemonstrasikan kemungkinan yang hampir tak terbatas yang dihasilkan piano.

Bethoven menjadi pencipta musik yang produktif. Dia telah membuka babak transisi dari musik klasik ke musik bergaya romantik. Karya-karyanya sampai saat ini bahkan menjadi kiblat dan sumber inspirasi untuk gaya romantik. Keindahan dan kedalaman rasa dalam setiap musik Bethoven yang tinggi, mengesankan setiap pendengarnya. Karya-karyanya pun mendapat sambutan baik dari masyarakat. Sejak umur duapuluhan Bethoven juga sudah mampu menerbitkan dan menjual buku-buku musik ciptaan dia tanpa kesulitan apapun.

Namun, siapa sangka di tengah keberhasilan yang dicapai Bethoven dalam umurnya yang relatif masih muda, dia juga mendapat suatu kemalangan yang begitu berat. Beethoven mengalami gejala ketulian di ujung umurnya ke duapuluh. Bagi seorang komponis, ketulian adalah malapetaka hebat, bahkan bisa dibilang akhir dari segalanya. Hanya bunuh diri jalan satu-satunya untuk menyudahi penderitaan itu.

Pada awal gejala ketuliannya, Beethoven perlahan menarik diri dari pergaulan masyarakat. Menjauhi teman-teman dan keluarganya. Dia mengalami depresi yang hebat. Penyakit pendengarannya yang didiagnosis sebagai akibat dari otosleorosis, membuatnya minder. Hatinya semakin nelangsa, ketika Beethoven menadapati kenyataan bahwa dirinya tidak memiliki pasangan untuk teman hidup. Meskipun sebenarnya banyak wanita bangsawan yang dicintainya, namun rata-rata cintanya bertepuk sebelah tangan.

Masa Kecil Bethoven

Beethoven lahir di kota Bonn, Jerman pada tahun 1770 yang kemudian dibaptis pada 17 Desember 1770. Ayahnya, Johann van Beethoven bekerja sebagai penyanyi tenor untuk pangeran Bonn. Sedangkan ibunya bernama Maria Magdalena Keverich.

Disiplin ketat yang dijalani Beethoven untuk berlatih piano dengan ayahnya selama berjam-jam, menuai hasil positif. Beethoven mengadakan konser pertamanya pada tahun 26 Maret 1778, di usia yang relatif masih kecil. Meskipun mendapat sambutan yang luar biasa, Ayah Beethoven masih tidak puas dengan pencapaian anaknya. Dia merasa pencapaian Mozart, ketika seumuran Beethoven lebih baik.

Beethoven kemudian di titipkan pada seorang guru komposisi yang bernama Christian Gottlob Neefe. Neefe merupakan guru pertama Beethoven selain ayahnya sendiri. Dalam pendidikannya, Neefe mengajari Beethoven memainkan komposisi-komposisi milik Bach dan cara berimprovisasi. Kemajuan yang ditunjukkan Beethoven sungguh mencenggangkan Neefe.

Pada tahun 1787, Beethoven pergi ke Wina atas perintah Pangeran Bonn. Di sana dia bertemu dengan Mozart dan memainkan piano di depannya. Mozart begitu kagum dengan Beethoven lalu mengatakan kalau Beethoven bisa menjadi musikus besar di masa depan nanti. Namun, keberadaan Beethoven di Wina hanya sebentar, dia dipanggil untuk pulang ke Boon karena ibunya sakit parah akibat TBC. Tapi, tak berapa lama setelah kepulangan Beethoven, ibunya meninggal pada 17 Juli 1787.

Lepas dari Keterpurukan

Pada tahun 1811, Beethoven semakin jatuh dalam berbagai keterpurukan. Selain dalam kondisi tuli, Beethoven juga merasa frustasi karena belum berhasil mendapat jodoh. Pernah dia mencoba melamar Countess Therese Malfatti, anak seorang bangawan. Namun, lamaran ini ditolak oleh Therese. Beethoven juga dihadapkan dalam kondisi krisis keuangan, karena terjadi penurunan mata uang kertas di Wina. Harga uang menjadi seperlima dari mata uang terbaru. Saat itu, Beethoven juga tengah bermasalah dengan adiknya, Johann

Di usianya yang ke empat puluh, Beethoven menjadi seratus persen pekak. Akibatnya dia tak pernah lagi tampil di muka umum dan semakin asosial. Hasil karyanya juga semakin sedikit, dan semakin sulit di pahami. Semenjak itu, dia jarang mencipta yang bernilai profit, melainkan Beethoven hanya mencipta untuk dirinya sendiri dan beberpa orang yang memiliki idealisme tentang musik.

Ini merupakan fakta yang kejam dari sebuah nasib seorang komponis besar dan berbakat sepanjang sejarah, dimana dia harus tertimpa ketulian dan nasib buruk yang tak hendak pergi menjauhi kehidupannya. Beethoven memiliki tekad yang kuat, untuk selalu mencipta dan berproses dalam dunia musik, ini merupakan hal yang memukau dalam diri Beethoven. Satu hal yang mengherankan ketika menemukan kenyataan dalam diri Beethoven, bahwa dalam ketulian totalnya, Beethoven melakukan ciptaan yang tidak sekadar setarap dengan apa yang dihasilkan ketika masih belum tuli, melainkan dia menghasilkan karya-karya fenomena yang memiliki kualitas brilian.

Beethoven meninggal di Wina pada tahun 1827 pada usinya yang ke lima puluh tujuh tahun. Dalam hidupnya bethoven telah merampungkan karya-karyanya meliputi 9 simfoni, 32 Sonata, 5 piano concerto, 10 sonata untuk pinao dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater dan banyak lagi. Hampir keseluruhan karya-karya merupakan kombinasi luar biasa dari kedalaman perasaan dengan kesempurnaan aransemen. Komposisi yang dibuktikan Beethoven melalui musiknya, ternyata mampu mengangkat musik instrumental ke tingkat nilai seni yang tinggi.

Lima Karya Bethoven yang Abadi

  1. Simfoni No. 2 dalam D-Mayor, op. 36
  2. Simfoni No. 3 dalam Es-Mayor, op. 55
  3. Simfoni No. 5 dalam C-Minor, op.67
  4. Simfoni No. 6 dalam F-Mayor, op. 68
  5. Simfoni No. 9 dalam D-Minor, op. 125

Pelajaran yang Bisa Diambil dari Beethoven

Musik bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipelajari maupun dibuat, apalagi dengan kondisi ketulian. Musik memiliki kedekatan dengan pendengaran manusia, karena dengan mendengar sebuah musik, kita bisa tahu pesan yang ingin disampaikan sang kreatornya. Dari kisah hidup Beethoven dapat diambil pelajaran yang begitu berharga, Beethoven memiliki tekad yang kuat. Dia masih terus berkarya meski mengalami ketulian. Bahkan, dalam ketuliannya itu kualitas dan prestasi karya-karyanya semakin menanjak. Pada akhirnya, Beethoven sadar, tidak ada alasan apapun untuk terus berkarya. Beethoven tidak pernah lagi fokus pada ketuliannya, melainkan selalu fokus pada karya-karyanya, sehingga dia tidak kehilangan momentum dan kesempatan dalam hidupnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Terimakasih BPJS …

Guntur Cahyono | | 25 July 2014 | 06:54

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Anonim atau Pseudonim? …

Nararya | | 25 July 2014 | 01:41

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: