Artikel

Sosok

Rina Nazrina

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

good books, good friends, good life :) http://bonekarusia.wordpress.com

Kursi Terbaik di Kelas Sejarah


OPINI | 15 August 2011 | 17:38 Dibaca: 335   Komentar: 2   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

“… Saya mempunyai kesempatan yang unik untuk mengamati dari dalam dan luar. Setiap pemimpin mempunyai sisi penampilan luar dan sisi dalam. Di luar ia bisa tampak tenang, walaupun di dalam ia konflik batin. Di luar ia bicara kemenangan, dalam hati berpikir mengenai risiko.

Sisi penampilan luar Presiden SBY sudah banyak disorot media. Yang belum banyak diketahui adalah apa yang terjadi di belakang layar, dan di dalam kantor Presiden. Di sinilah saya mendapat berkah ‘the best seat in the class of history,’ dapat menyaksikan Presiden SBY dari samping dan belakang beliau, membaca raut muka, melihat tetesan keringat, mengikuti lika-liku proses pemikirannya, dan memahami risiko yang diambilnya.”

(Dino Patti Djalal)

Jika kita menyaksikan seorang tokoh masyarakat berbicara di podium, atau di televisi, mungkin kita hanya melihat sosoknya secara ekstrem, misalnya sebagai pemimpin yang luar biasa hebat, sebagai penggerak massa yang sangat provokatif, sebagai pribadi yang penuh integritas atau mungkin sebagai tokoh antagonis yang korup, kejam dan tak punya perasaan.

Penilaian-penilaian ekstrem tersebut tentu tidak adil mengingat secara common sense kita menyadari bahwa tokoh yang terbaik sekalipun pasti punya sisi jahat, dan sebaliknya.

Para tokoh ini akan amat beruntung jika memiliki orang di dekatnya yang dapat mencatat segala tindak-tanduknya, visinya, dan memahami segala keputusan yang diambil dan apa yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

1313404224425963821

Presiden Yudhoyono dan juru bicara Dino Patti Djalal (Antara/Ali Anwar)

Dr. Dino Patti Djalal menyebut dirinya sendiri sebagai orang yang duduk di kursi terbaik dalam sejarah, khususnya dalam sejarah RI pada masa kepemimpinan Presiden SBY, saat ia menjabat sebagai juru bicara Presiden. Secara harfiah, bisa dibilang, kemanapun SBY pergi saat itu, Dino selalu menyertai, duduk di sampingnya atau berdiri di belakangnya sambil mencatat segala sesuatu. Ia adalah salah satu orang yang dimintai pendapatnya oleh Presiden SBY setiap kali Presiden akan memutuskan sesuatu. Ia pun turut menyertai malam-malam begadang kala penyusunan pidato penting kenegaraan.

Peran Bung Dino ini sepertinya hampir selalu ada dalam setiap periode sejarah dunia. Dalam novel sejarah Imperium, karya Robert Harris, ada sosok Tiro yang selalu mencatat segala hal yang dilakukan oleh Cicero, negarawan Romawi yang jaya pada masa itu (sekitar 70 tahun SM).

13134044511195757625

“Pada tahun-tahun itu, kukira dia lebih lama melewatkan waktu denganku daripada dengan siapa pun, termasuk keluarganya sendiri. Aku menyaksikan rapat pribadinya dan mengantarkan pesan rahasianya. Aku menuliskan pidato, surat, dan karya tulisnya, bahkan puisinya….”

(M. Tullius Tiro)

Hubungan dan kedekatan penulis dengan tokoh yang ditulisnya mungkin membuat pembaca meragukan, apakah tulisannya akan cukup objektif. Tentu sulit untuk itu, saya yakin. Tapi cukup baik kalau penulis itu berniat dan berusaha agar tulisannya berimbang.

Dalam kisah Imperium, Tiro menulis setelah Cicero wafat. Dan ia bebas dari ketakutan akan reaksi tokoh-tokoh politik lain yang ia sebut di bukunya, karena Tiro sudah amat tua dan menjelang ajal sehingga tak takut akan ancaman pembunuhan jenis apapun. Maka pembaca pun dapat menangkap banyak sisi buruk, di samping sisi baik dari tokoh karismatik Cicero.

“Kata-kata terakhir Cicero kepadaku adalah permintaan agar aku menyampaikan kebenaran tentang dirinya, dan inilah yang akan kuupayakan. Jika dia tidak senantiasa tampil sebagai simbol budi pekerti, biarlah. Kekuasaan memberikan banyak kemewahan bagi manusia, tetapi dua tangan yang bersih jarang termasuk di dalamnya…

(M. Tullius Tiro)

Sementara di buku Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY yang ditulis Dino Patti Djalal, saya sulit menemukan sisi negatif pribadi Presiden, kecuali bahwa di beberapa bagian di buku itu SBY diceritakan menunjukkan reaksi-reaksi emosional. Beliau cepat tersinggung, sedih dan marah di situasi-situasi tertentu. Tapi cuma itu. Bung Dino yang kini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika ini rupanya masih harus menulis dengan sangat hati-hati dan tak bisa begitu saja blak-blakan ngobrolin pimpinannya.

13134045151083899711

presidensby.info

Yah, overall, seandainya saya tak pernah membaca buku Harus Bisa-nya Dino Patti Djalal, maka pandangan saya terhadap Presiden SBY akan berbeda sekali. Saya akan dengan mudah terprovokasi oleh media dan menelan bulat-bulat persepsi mereka tentang Presiden. Tapi kalau sekarang, setiap ada berita yang menyerang Presiden, saya langsung dapat membayangkan bagaimana situasi sesungguhnya di istana, tidak sembarangan men-judge, dan bahwa Presiden kita tidaklah se’robot’ itu perasaannya.

Seorang tokoh pendidikan yang akhir-akhir ini dilanda kontroversi, Syaykh Panji Gumilang, pernah mengatakan dalam wawancara di TVOne, bahwa kekurangan bangsa Indonesia ini cuma satu, yaitu bisa memilih, tapi tak bisa menaati. Ada benarnya juga kata beliau ini. Dilingkupi aura reformasi, kita cenderung terus-menerus mengkritik pemimpin yang kita pilih sendiri. Sementara “yang terbaik” yang kita inginkan juga belum tentu akan kita dapat dari presiden pengganti nantinya.
Sumber:
Dino Patti Djalal. Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY. Jakarta: Red & White, 2008

Robert Harris. Imperium. Jakarta: Gramedia, 2008

Cuplikan Kisah Menarik dan Anekdot dari buku Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: