Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Sairin Al Brebesiy

..... Menulis itu Indah ...... MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA

BJ. Habibie, “Orang Kecil” Yang Mendunia

REP | 02 May 2011 | 14:50 Dibaca: 3968   Komentar: 8   2

13043043392143986031

Habibie - Ainun Habibie (prikitiw….)

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh ini? Prof. Dr. Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare – Pare tanggal 25 Juni 1936. Anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan RA. Tuti Marini Puspowardoyo dan Alwi Abdul Jalil Habibie.

Pare – Pare dengan kontur geografis lebih dari 85% wilayahnya merupakan areal yang bergelombang (15-40%) dengan luas keseluruhan 5.621 Ha, berbukit-bukit sampai bergunung (>40%) dengan luas 3.215,04 Ha, sehingga untuk pengembangan fisik kota akan sangat dipengaruhi oleh kondisi topografi ini.

Bagi saya sangatlah “wajar” seorang Habibie memiliki kecerdasan yang luar biasa. Berasal dari daerah yang berbukit – bukit sampai bergunung lebih dari 40% itu saja sudah menempa Habibie kecil lebih tegar dan kerja keras. Kalau kita perhatikan di Siroh Nabawiyah (sejarah nabi) kenapa pula Rasulullah Muhammad SAW yang terlahir di daerah tandus dan gersang tapi malah mengembala kambing. Tentu ada hikmah besar di situ. Pun demikian, Habibi yang terlahir di daerah perbukitan bahkan bergunung. Tentu dibutuhkan fisik prima, kerja keras, ulet dan pantang menyerah. Nilai pengajaran itulah yang sudah diterima Habibie kecil dan tentu sedikit banyak berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya sekarang.

Konon BJ. Habibie selama menempuh pendidikan, mulai dari SD – SLTA tidak pernah rangking tiga. Selalu rangking satu, atau turun satu tangga di rangking dua. Saya jadi teringat waktu kecil dulu, ibu dan bapak saya selalu menyemangati untuk bisa menjadi pintar dan selalu mencontohkan biar kayak habibie. Atas kecerdasannya itulah yang mengantarkan Habibie kuliah dengan predikat Summa Cum Laude

Setelah bertahun – tahun kuliah di Jerman dengan berbagai prestasinya, BJ Habibie kembali ke tanah air atas undangan Presiden Soeharto. Dan langsung dipercaya memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina yang merupakan cikal bakal BPPT (1974-1978), Penasehat Pemerintah RI di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden Soeharto (1974-1978).

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, BJ. Habibie dengan empat program alih teknologi (salah satunya memproduksi pesawat asli Indonesia “Gatutkaca”) sangat dimanjakan dengan aliran subsidi dari Pemerintah yang sangat besar melalui IPTN – Industri Pesawat Terbang Nasional besutan BJ. Habibie.

Sayang, pada masa reformasi empat program alih teknologi tersebut kandas ditengah jalan oleh karena IMF memasukan klausul dalam LOI-nya bahwa Pemerintah Indonesia dilarang memberikan subsidi kepada IPTN.

Ketika menjabat sebagai Presiden RI menggantikan Presiden Soeharto, walaupun cuma memimpin 518 hari, menurut saya banyak prestasi telah diraihnya. Selama menjabat Presiden tiada hari yang berdemo, tapi beliau memimpin dengan santun. Beliau telah berhasil memimpin Indonesia pada masa transisi itu tanpa gejolak kepemimpinan yang mengerikan dan berlangsung lama. Setelah masa kepemimpinan beliaulah lahir pemilu 1999 yang pertama langsung, jujur, diikuti banyak parpol dan tanpa intimidasi. Dan hasilnya sudah kita ketahui bersama. Walaupun diprotes keras memberikan opsi otonomi luas yang pada akhirnya lepaslah Timtim dari pelukan ibu pertiwi, tapi beliau keukeuh pada pendiriannya. Menurut saya pribadipun wajar saja beliau melepas Timtim, dengan salah satu pertimbangannya ekonomi maka siapapun Presidennya akan berpikiran sama. Kita tidak bisa membayangkan berapa Rupiah yang mengalir dari Pemerintah Pusat ke Timtim baik yang berbentuk DAK, DAU. Mungkin akan berbeda jika ternyata SDA di Timtim bisa memberikan kontribusi ke Pemerintah Pusat baik berbentuk bagi hasil atau apapun namanya karena kemampuan SDMnya. Tapi kenyataannya tidaklah demikian.

Melalui tangan BJ. Habibie lahirlah harian Republika yang bernuansa islamis moderat, muncul bank pertama murni syariah – Muamalat dan terbentuklah wadah bagi cendekia muslim – ICMI. Namun sayang, kecerdasan dan kesantunan beliau “tidak dianggap & laku” di Indonesia hanya dikarenakan dekat dengan Soeharto. Karena dasar itulah pada tahun 1999 beliau tidak maju sebagai capres.Tetapi bukanlah Habibie namanya kalau tidak berbuat bagi bangsa. Melalalui The Habibi Center, beliau mencurahkan segala isi pemikirannya untuk kemajuan demokrasi Indonesia. Dan Telkomselpun mengakui jasa seorang Habibie. Karena beliaulah yang meretas untuk pertama kalinya telekomunikasi selular. Maka sangatlah wajar Habibie dinobatkan sebagai pelanggan ke seratus juta Telkomsel. “jadikan prestasi dunia yang diraih Telkomsel sebagai inspirasi anak bangsa,” petuah Habibie kepada Telkomsel.

Sosok Habibie yang tegas dan tegar sungguh tidak ada yang menyangkalnya. Tapi sosok itu seakan sirna. Habibie ternyata seorang manusia biasa yang bisa menitikkan air mata. Siapapun akan menangis juga kala Habibie melepas istri tercintanya. Disitu ada pelajaran berharga, bahwa dibalik ketegaran, ketegasan seorang Habibie ternyata beliau seorang pencinta sejati. Dalam program khusus Mata Najwa, Habibie membuka tabir cinta sejati kepada istrinya. Sang MC – Najwa Sihab pun terlihat menangis, dan saya yang kebetulan menontonnya pun secara tak sadar menitikkan air mata. Cinta yang benar benar sejati.

Memang pada akhirnya, Negara Indonesia berhutang budi pada dua sosok manusia. Sosok yang pertama ialah seorang guru Oemar Bakri yang telah melahirkan orong dengan otak se encer seperti sosok kedua BJ. Habibie.

Sumber : telkomsel, tokohindonesia.com, pareparekota.go.id, thehabibiecenter.or.id, google gambar

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 12 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 12 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: