Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Nigar Pandrianto

Penulis lepas di berbagai media

Babe Nunung, Si “Tangan Setan” dari Rawabelong

REP | 26 April 2011 | 03:03 Dibaca: 2525   Komentar: 2   0

Saya melakukan pukulan keras ke arahnya. Namun, sebelum pukulan itu mendarat, ia sudah menempel di tubuh saya hanya dengan satu kali gerakan. Lalu, dalam waktu tidak kurang dari satu detik, empat gerakan memukul ia lancarkan ke arah saya.

13037867651542976436

Babe Nunung saat memeragakan jurus Gerak Rasa.

Itulah yang diperagakan oleh Haji Nur Ali Akbar sesepuh silat Betawi atau cingkrik, ketika saya menjumpainya pada suatu malam pada bulan Oktober 2010 lalu di kediamannya, di bilangan Rawabelong, Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat. Ia menyambut dengan baik ketika saya kemukakan bahwa maksud kedatangan saya saat itu adalah untuk mengetahui perkembangan cingkrik, dan bagaimana Haji Nur konsisten mengembangkan dan melestarikan salah satu warisan budaya Indonesia itu.

Meskipun hanya ditemani teh manis panas, percakapan kami mengenai seluk-beluk cingkrik, berlangsung sangat hangat. Ia tidak hanya berbicara mengenai sejarah dan perkembangan cingkrik, tetapi juga mempraktikkan sejumlah gerakan silat yang memukau saya.

Sebut saja ketika ia meminta saya memelintir lengannya. Saya melakukannya dengan kekuatan penuh. Tetapi dengan sebuah gerakan lembut ia telah berbalik memelintir lengan saya, disusul dengan gerakan mematahkan leher. Meskipun itu bukan gerakan sungguhan, leher saya terasa sedikit terjepit. Saya benar-benar terkesima dibuatnya. Baru kali ini saya merasakan kekuatan gerakan menyerang dalam silat.

Untuk ukuran pria berusia 63 tahun, kecepatannya dalam bereaksi dan kekuatannya dalam melakukan gerakan, boleh dikatakan di atas rata-rata laki-laki seusianya. Itu tentu bukan sebuah hasil yang diperoleh dalam waktu singkat. Seperti diakuinya, semua itu diperoleh lewat latihan, tempaan, serta kedisplinan yang dijalaninya selama bertahun-tahun.

Haji Nur Ali Akbar atau yang akrab dipanggil dengan Babe Nunung, mengaku sudah belajar cingkrik, sejak masih kecil. Ketertarikannya kepada silat mengantarkannya kepada beberapa guru silat yang berada di kawasan Rawabelong. Salah satunya adalah Bang Pi’i. Guru inilah yang paling meninggalkan kesan mendalam pada dirinya.

“Dia sayang banget sama saya. Saya bisa berlatih silat tiga kali dalam sehari dengan dia, mulai dari siang hari, sore hari, dan malam setelah mengaji,” kenang Babe Nunung.

Meskipun sudah belajar dari banyak guru, Babe Nunung merasa ilmu bela diri yang didalaminya masih kurang. Maka ia menemui guru silat dari kota lain untuk memperkaya ilmunya. Jurus-jurus yang dipelajarinya kian banyak Tidak mengherankan jika kemudian gerakan silat diajarkan kepada murid-muridnya kian bervariasi.

Si Tangan Setan

Mendengarkan kisah Babe Nunung, ingatan saya seperti terseret kepada kisah-kisah dalam komik silat yang banyak beredar kota-kota besar pada tahun 1970-an hingga tahun 1980-an. Sebut saja serial komik Si Buta dari Gua Hantu yang digarap oleh Ganes TH, ataupun Panji Tengkorak yang selalu diselesaikan dengan mengesankan oleh Hans Jaladara.

Dalam komik-komik tersebut, saya acap kali menemui cerita mengenai pendekar silat dari sebuah perguruan silat yang harus berhadapan adu jurus dengan pesilat dari perguruan lain. Pertempuran selalu digambarkan berlangsung dengan dahsyat. Siapa yang berhasil mengalahkan lawan, akan segera dianggap lebih berkuasa.

Hal mirip terjadi juga dengan Babe Nunung. Guru-gurunya kerap mempertemukan dirinya dengan pesilat dari perguruan lain untuk adu kebolehan. Dalam pertemuan itu Babe Nunung selalu dapat mengalahkan lawan.

“Tetapi harus diingat, pertandingan itu bukan ajang untuk mencari siapa yang lebih jagoan, melainkan untuk mengetahui dan mempelajari lebih dalam jurus-jurus dari perguruan lain,” Babe Nunung menegaskan.

Karena kepiawaiannya dalam bersilat, lelaki kelahiran tahun 1948 itu kian tersohor seantero Jakarta. Gerakannya yang cepat dalam menaklukkan lawan sering menjadi buah bibir di kalangan pesilat. Bahkan, karena kelebihannya itu, Babe Nunung dijuluki Si Tangan Setan. Sebuah sebutan yang dapat membuat musuh gentar ketika mendengarnya.

Tetapi, julukan itu tidak membuatnya menjadi besar kepala. Ia menganggap julukan itu justru berlebihan. “Saya kurang demen dengan julukan itu. Agak menyeramkan. Tetapi, meskipun saya dijuluki Si Tangan Malaikat pun saya kurang demen, lantaran saya itu manusia biasa. Julukan itu bukan apa-apa buat saya. Pasti ada yang lebih hebat dari saya,” Babe Nunung merendah.

Keinginan ayah dari tujuh orang anak ini untuk mengembangkan cingkrik sangat besar. Bahkkan ia kemudian mengembakannya dengan apa yang disebutnya sebagai Gerak Rasa Sanalika. Sedikit berbeda dengan cingkrik, Gerak Rasa Sanalika lebih memberikan penekanan pada gerakan yang lembut namun tetap berdaya melumpuhkan. Namun, gerakan dasar Gerak Rasa Sanalika adalah cingkrik.

“Filosofinya adalah ‘akan-sudah’. Jadi, begitu musuh ‘akan’ memukul, kita ‘sudah’ melakukan gerakan memukul terlebih dahulu. Ketika musuh ‘akan’ menyerang, kita ‘sudah’ menyerang terlebih dahulu,” Babe Nunung mencoba menerangkan esensi Gerak Rasa Sanalika.

Untuk membuktikannya ia meminta saya untuk melakukan serangan. Kali ini saya melancarkan sebuah tendangan ke arah perut. Begitu saya menyerang, Haji Nunung sudah bergeser mendekati saya. Kemudian dengan gerakan cepat dan rumit ia menerabas dengan sebuah gerakan tebasan ke arah leher, disusul dengan sentakan pangkal telapak tangannya ke arah dagu saya. Lagi-lagi saya terkesima. Jika saja itu sebuah gerakan sungguhan, mungkin saya sudah dibuatnya knock out.

Saya merasa penasaran, bagaimana lelaki berpenampilan sederhana itu dapat melakukan berbagai gerakan halus, cepat, namun jitu dalam membuat lawan tidak berdaya. Babe Nunung mengakui, hal itu adalah hasil eksplorasi gerakan dan perasaan yang ia pelajari sejak lama.

Menurut pengamatan saya, gerakan lembut tanpa banyak mengeluarkan energi dalam Gerak Rasa Sanalika, memungkinan silat ini dapat dipelajari oleh mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan kata lain, mereka yang tua pun dapat terus berlaga.

“Dalam Gerak Rasa kita tidak usah menangkis serangan, melainkan bergerak mendekati musuh dan kemudian melakukan serangan balik. Kalau menggunakan gerakan menangkis, kita lebih banyak mengeluarkan energi. Jadi langsung saja melakukan serangan dengan cara yang tepat.” tambah Babe Nunung.

Ia kemudian menggambarkannya dengan sepakbola. “Ibarat sepakbola, kita sudah di depan gawang, tinggal menggolkan bola, tetapi kita malah mengoperkannya ke pemain lain sebelum kemudian memasukkannya ke gawang. Kan kebih baik langsung menggolkannya.”

Namun sayangnya, gerakan bela diri yang sedemikian baik kian sepi peminatnya. Bahkan dari ketujuh anak Babe Nunung, tidak semua terjun menekuni silat. Hanya satu yang hingga kini mau melatih silat. Menurut Babe Nunung, ada beberapa penyebab kenapa silat Betawi kurang peminatnya.

“Pertama karena guru-gurunya semakin kurang. Guru-guru silat, harus diakui, mempunyai kebutuhan. Nah, bayangkan, kalau dari cingkrik ini mereka tidak mendapatkan sesuatu yang menopang kehidupannya, maka mereka lebih memlilih melakukan hal lain yang menghasilkan,” ujar lelaki yang gemar membaca sejak usia muda ini.

Babe Nung melanjutkan. Hal yang berbeda dengan dengan bela diri lain seperti Karate, Taekwondo atau Kempo. Organisasi bela diri itu sudah kuat, memikliki dana. Mereka bisa menyewa tempat, bahkan iuran dri anggota bisa berjalan dengan baik. Tidak megherankan kalau guru-gurunya dapat memperoleh honor yang luamyan.

“Gerakan mereka sudah baku, event-eventnya pun sudah banyak, kenaikan tingkatnya sering, tidak mengherankan kalau lebih banyak peminatnya. Lalu lihat Capoeira yang diserbu anak-anak muda itu, hebat sekali, ” kata Babe Nunung.

“Jadi ini masalah kemasan juga. Coba bandingkan dengan silat yang honornya tidak ditentukan, tidak punya seragam, dan kenaikan tingkatnya tidak ada,” tambah Haji Nur yang juga pernah mempelajari berbagai jenis bela diri dari luar Indonesia.

Babe Nunung menganalogikan kondisi ini dengan keripik singkong. Keripik singkong yang dikemas dengan bagus, memiliki merek, dan dipasarkan dengan baik, toh bisa masuk supermarket dengan harga yang baik juga. Padahal itu singkong juga. Ia melihat silat juga harus diorganisakan dengan baik pula.

Selain itu, ia juga mengidentifikasi bahwa masalah tempat adalah faktor yang membuat perkembangan silat “jalan di tempat”. “Bertahun-tahun yang lalu murid-murid bisa berlatih silat di bawah pohon rambutan di depan rumah gurunnya. Di tempat seperti itu enak, apalagi tanahnya lebih padat. Namun kini lahan kian sempit,” ujar Babe Nunung dengan nada menyayangkan.

Untuk berlatih, ia harus meminjam sekolah yang berada tidak jauh di kediamnnya. Jika tidak, latihan dilakukan di halaman rumahnya. Memang, jika dibandingkan dengan halaman rumah tetangga-tetangganya, halaman rumah Babe Nunung sedikit lebih luas. Sejumlah pelajar malahan meminjam tempat tersebut untuk memarkirkan kendaraan roda dua miliknya selama jam pelajaran berlangsung.

Jadi, tempat tersebut masih memungkinkan untuk dijadikan tempat berlatih. Paling tidak, sekitar dua puluh orang murid dapat ditampung ditempat tersebut. Namun, jika murid yang datang tidak banyak, teras rumah Babe Nunung pun dijadikannya tempat berlatih.

Kian menurunnya peminat silat Gerak Rasa Sanalika, tidak menyurutkan semangat Babe Nunung. Ia tetap melatih walaupun yang datang hanya tiga orang murid. Hal ini menunjukkan konsistensinya dalam mengembangkan dan menyebarkan silat jenis ini.

Forum Komunikasi

Kepedulian Babe Nunung terhadap dunia silat Betawi tidak hanya sampai di situ. Sebagai salah satu sesepuh silat Jakarta, ia ingin berbagai aliran silat di Jakarta dapat menjalin komunikasi. Dalam forum seperti ini, ia mengharapkan setiap aliran silat yang ada bisa saling belajar.

Oleh karena itu, kakek dari dua cucu ini ikut mencetuskan kegiatan “pertemuan” aliran silat. Pertemuan itu biasanya dilakukan di Rawabelong. Kegiatan ini sudah dilakukan beberapa kali. Dalam kegiatan ini, berbagai aliran silat yang ada mempertunjukkan sifat maupun ciri khasnya.

“Ini bukan untuk saling bersaing, tetapi agar satu sama lain dapat melihat dan membandingkan gerakan silat dari perguruan lain. Saya ingin lewat kegiatan ini justru perdamaian tercipta, artinya ada kerukunan antar para pesilat,” kata Haji Nunung.

Menurut pemaparannya, kegiatan ini selalu dikaitkan dengan acara momen khusus, misalnya saja peringatan Maulud Nabi ataupun Ulang Tahun Jakarta. Hal yang membanggakan adalah, kegiatan ini selalu mendapat sambutan dari berbagai perguruan silat dari Jakarta. Perguruan yang diundang selalu datang.

Mungkin kelak ada baiknya jika dikembangkan pula festival lokal di Rawabelong seperti yang dilakukan di sejumlah wilayah Jakarta seperti Festival Kemang ataupun Festival Togoe. Namanya mungkin Festival Rawabelong yang mengetengahkan berbagai kesenian tardisonal Jakarta, termasuk silat tradisional Betawi.

Sayangnya hingga sekarang pemerintah belum memberikan perhatian. Babe Nunung merasa kepedulian pemerintah terhadap kebudayaan, khususnya kepada seni tradisional, sangat memprihatinkan. Hal ini menurutnya akan berpengaruh kepada perkembangan budaya.

”Nah, kalau budaya kita sudah dicuri oleh bangsa lain, kita baru kebakaran jenggot. Misalnya saja Reog Ponorogo yang pernah disabot oleh Malaysia. Ini kan menunjukkan tidak adanya perhatian pemerintah terhadap budaya bangsa,” begitu argumen Babe Nunung.

Ketika ditanya apa bentuk perhatian konkret yang diharapkan, Babe Nunung mengatakan, ”Para pegiat kesenian yang setia mengembangkan kesenian tradisional sebaikanya digaji, sebagai pelestari budayaan. Tidak hanya dalam silat, tetapi juga kesenian lain, misalnya saja penari yang sejak muda tidak pernah berhenti untuk mengajar.”

Namun jika itu pun tidak terwujud, ujarnya, ia akan tetap mengembangkan silat tradisional Betawi, khususnya Gerak Rasa Sanalika. ”Ini sudah kewajiban kita untuk melestarikan budaya kan. Jadi jangan tergantung dari orang lain.”

Sebagai tokoh silat, Babe Nunung menyimpan sebuah keinginan. Ia ingin jurus-jurus dalam Gerak Rasa Sanalika dapat dipelajari secara lebih luas.

“Ini adalah warisan budaya dan kesenian Indonesia. Kita harus melestarikannya. Nah, saya ingin gerakan-gerakan atau jurus-jurus silat itu direkam di video, dan disimpan dalam CD. Nah, kan semakin banyak orang yang bisa belajar silat,” kata Babe Nunung.

Malam itu, usai menikmati tegukan teh manis terakhir saya berpamitan. Sepanjang gang Yahya yang sempit dan minim cahaya saat meninggalkan kediaman Babe Nunung, saya merenung-renung, sampai kapan silat Betawi akan bertahan jika orang-orang seperti Babe Nunung telah tiada.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Kabupaten Ini, Seluruh Desanya Wajib …

Khairunnas Djabo | | 01 August 2014 | 15:34

Peran Kita untuk Menghindari Jebakan Negara …

Apung Sumengkar | | 01 August 2014 | 15:26

Empat Cincin Jantungnya Masuk Lewat Pembuluh …

Posma Siahaan | | 01 August 2014 | 13:46

Gua-gua Bekas Penggalian Batu Kapur di Desa …

Mas Ukik | | 01 August 2014 | 15:11

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 11 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 12 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: