Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Ken Dedes

Titisan Ken Dedes

Tunggul Ametung Keparat!

OPINI | 12 April 2011 | 18:10 Dibaca: 1134   Komentar: 23   7

13025883251377492102

si keparat! kok patungnya keren juga ya?

Kalo sekarang-sekarang ini negara Indonesia heboh dengan penyanderaan kapal Samudra Indonesia oleh perompak Somalia, atau penculikan si Lian yang katanya kemudian di hipno dan cuci otak. Jadi inget nasibku yang agak-agak mirip dengan mereka, di culik dan di sandera oleh seorang akuwu (setingkat camat jaman sekarang…cape deeh!).

Nah di jaman itu (sekitar abad 11) Tunggul Ametung itu jadi camat di daerah Tumapel. Wilayahnya kerajaan Kediri jaman aku tuh…

Aku dulu tinggal dengan ayahku di desa Panawijen, beliau seorang pendeta Budha senior, sangat dihormati di daerah kami. Namanya Mpu Purwa. Aku sangat sayang pada ayahku itu sama seperti beliau, sangat sayang pada putri cantik satu-satunya ini.

Sekarang aku sangat menyesal ketemu sama seorang tua yang kupikir dia tuh orang yang baik gitu… apalagi ku lihat dia tuh dateng dengan beberapa orang bodyguard, wah orang penting nih…bajunya juga keren dan modis (pasti bukan orang sembarangan nih, pikirku). Biasalah, aku kan seorang gadis yang ramah tamah dan tidak sombong, tentunya gak nyangka kan kalo yang menyapanya itu seorang yang punya itikad tidak baik, ternyata si Tunggul Ametung ini tipe cowok yang gak bisa ngeliat cewek mulus dikit ajah…apalagi diriku yang cantik dan seksi ini…ramah pula…uuuh!!

Akhirnya, karena gak sopan ngobrol-ngobrol di pinggir jalan, aku mengajak ke rumah aja om, sambil nunggu bapak’e. Si bandot ini nanya-nanya terus tentang bapak, jadi kukira dia pasti ada perlu penting sama beliau, ya udah aku bilang om tunggu aja, sebentar lagi bapak pulang dari hutan mencari rempah-rempah…

Eh ternyata, setelah nunggu stengah jam, bapak belom pulang juga, si bandot ini gak bisa nahan napsu kotornya rupanya…akhirnya aku diminta untuk ikut dia ke Tumapel untuk jadi istrinya, tentu saja aku tidak mau, aku udah bilang, tunggu bapak aja, tapi dia memaksa…bersama anak buahnya mereka membawa aku dengan paksa dari rumah…aku tentu saja berteriak-teriak minta tolong…tapi tetangga-tetangga sepertinya gak peduli atau takut…aku sekarang berpikir mereka pasti sudah mengenal siapa si Tunggul Ametung ini…buktinya gak ada yang berani nolongin aku..hiksss…padahal aku dah teriak-teriak loooh, menangis dan meraung pula!!

Akhirnya aku dibawa dengan paksa ke Tumapel, kemudian dijadikan istri oleh si keparat ini…. karena tentu saja siapa sih yang mau dinikahi dengan cara diculik dan dibawa lari dari rumah seperti itu??

Aku sama sekali tidak mencintainya…bahkan aku dendam pada si keparat ini…karena dia telah memisahkan aku dari bapak dan keluargaku…meskipun dia kaya dan terpandang, juga seorang pemimpin di daerah kami, tetep aja aku gak rela..meskipun dia sekarang begitu baik padaku tapi aku tetep dendam padanya.

Aku juga tahu bapak sangat marah padanya karena melarikan dan menculik diriku, hanya sayang, bapak hanya seorang pendeta biasa, gak punya banyak kuasa untuk mengambilku kembali…

Akhirnya, yang aku dengar dari info yang beredar (dari mulut ke mulut, soale dulu belom ada infotainment..) bapak sudah mengucapkan sumpah untuk si keparat ini…tau lah kalo seorang pendeta dah ngucapin sumpahnya…jaman ini, sumpah itu sangat sakral dan keramat (bisa jadi kayak sumpah serapah rakyat terhadap anggota DPR dan pemerintah sekarang ini looowwwh…) Sumpah bapak berbunyi: “barang siapa yang telah menculik putriku, ia akan mati oleh tikaman keris….”

Nah, aku percaya banget, sumpah ini akan terwujud…karena aku tahu bapak sangat suci hatinya dan sangat sayang padaku, biasanya apa yang bapak katakan akan terjadi.

Aku tinggal menunggu waktu yang baik dan menyaksikan kematiannya. Untuk saat ini, aku terpaksa dengan sabar menjadi istrinya, dia sangat bangga denganku, karena selain cantik, ramah, seksi dan tidak sombong..aku juga pintar dan bisa diajak ngomong tentang politik dan masalah-masalah negara…(gak sia-sia juga bapak dulu suka ngajak aku diskusi macem-macem dari soal hutan, rempah-rempah sampai urusan kerajaan, ah bapak, aku jadi merindukanmu). Karena aku sudah belajar dari kehidupan, untuk mendapatkan keinginanku, aku harus sabar dan melihat segala situasi di sekelilingmu, dan manfaatkan setiap kesempatan yang ada, karena kesempatan…tidak akan datang dua kali!

Tunggul Ametung, nantikan pembalasanku…!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 9 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 10 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: