
a bibliofil, my email : mfarid_upeks@yahoo.com
Dibaca: 616
Komentar: 63
4 dari 5 Kompasianer menilai aktual
Drs Muhammad Salim, Penerjemah La Galigo
Minggu kemarin, (27/3), Drs Muhammad Salim tutup usia. Sang maestro penerjemah kitab epik mitik La Galigo ini menutup mata untuk selama-lamanya. Kabar kematiannya penulis terima sekitar 18.30 Wita dalam usia 75 tahun dan disemayamkan di kediamannya, Jalan Adipura I, Lorong 3C No 31 Makassar. Sampai akhir hayatnya, Beliau masih aktif di kegiatan budaya dan seringkali larut berjam – jam dalam menerjemahkan manuskrip dan naskah – naskah tua Lontaraq ke dalam bahasa latin dan melayu. Kemampuan yang sangat luar biasa dalam penerjemahan naskah La Galigo, yang kemudian mempopulerkan namanya sejak kepulangan dari Belanda, Tahun 1994.
Bagi pegiat studi sejarah dan budaya Sulawesi Selatan, saya kira nama Drs Muhammad Salim, bukanlah nama yang asing. Dari tangannyalah kita dapat membaca terjemahan lengkap naskah I La Galigo Jilid I dan II, terbitan UGM dan UNHAS yang monumental itu. I La Galigo atau Sureq Galigo ini adalah sebuah karya sastra kebanggaan orang Bugis yang termasyhur, sebuah Karya epos yang lebih panjang daripada Epos Hindu Mahabrata dan Ramayana yang naskahnya ditulis dalam 113 manuskrip dan 31,500 halaman.
Kitab Terjemahan La Galigo buah tangan Drs Muhammad Salim
Ceritanya bermula pada Tahun 1987. Ketika itu Indonesia melakukan kerjasama dengan Belanda, dalam bentuk Proyek Transliterasi dan Terjemahan Sure’ Galigo yang “terpendam” di Perpustakaan Leiden. Usulan tersebut dikabulkan Pemerintah Belanda, melalui surat balasan Roger G.Tol, Kepala Perpustakaan KTTLV Belanda pada tanggal 25 September 1987, sekaligus penyampaian agar para pakar dan budayawan Sulawesi Selatan yang berkompeten dalam menerjemahkan naskah “keramat” mempersiapkan diri. Roger G. Tol melacak langsung ke Makassar identitas dan kompetensi pakar yang telah dikirimkan namanya ke Belanda kemudian dites dengan menerjemahkan naskah secara langsung.
Setelah melalui proses seleksi kepakaran yang ketat, Drs Muhammad Salim, yang ketika itu pensiunan pegawai Dikbud Propinsi dan Guru Bahasa Daerah dinyatakan lulus tes dan diminta segera ke Belanda. Yang pertama dilakukannya di Belanda adalah menyalin ulang naskah I La Galigo yang ada. Naskahnya sendiri sudah sangat memprihatinkan, karatan dan tembus-tembus, yang jika dicopy sudah tidak terbaca lagi. Drs Muhammad Salim menyelesaikan masa penerjemahan naskah kuno I La Galigo itu selama 5 tahun 2 bulan secara fulltime dari tahun 1989 - 1994. Hari jerih payah Muhammad Salim menuntaskan “proyek bersejarah” itu sehingga sekarang kita dapat menikmati buku I La Galigo - II (Jilid II) terbitan Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (LEPHAS) setelah sebelumnya R. Kern berhasil menyusun buku I La Galigo – I (Jilid I) yang diterbitkan oleh Gajah Mada University Press. Secara sederhana, I La Galigo Jilid I terbitan UGM Press, yang berketebalan xiv + 1045 halaman tersebut berisi awal penciptaan manusia di muka bumi, proses turunnya Batara Guru ke dunia tengah, sepak terjang Sawerigading, hingga menghilangnya para Tu-manurung. Sedang buku I La Galigo Jilid II terbitan UNHAS Press—dalam bahasa AS Kambie (2003)—membawa kita menjelajah nusantara, menyeret kita dalam buaian keindahan bahasa dan kesusastraan Bugis. Juga ditampilkan dialog-dialog langsung dengan teks aslinya.
Muhammad Salim sejak kecil memang telah memiliki ketertarikan terhadap epik I La Galigo. Putra Sidrap kelahiran Allakuang, 4 Mei 1936 silam ini selalu terpikat saat Sureq I La Galigo didendangkan sesepuh di kampungnya yang masih memahami bahasa Bugis kuno. Sureq I La Galigo mengisahkan proses penciptaan dunia versi Bugis purba. Tokoh sentral dalam kisah ini adalah Sawerigading, putra penguasa dunia tengah, ksatria sakti mandraguna dan seorang pengelana. Sedangkan I La Galigo merupakan salah seorang putra Sawerigading yang mewarisi kesaktian dan jiwa pengembara sang ayah.
Kisah Sawerigading yang begitu fantastis inilah yang sejak kecil membuat Muhammad Salim terus mencari dan mengumpulkan naskah-naskah yang ada. Namun bukan pekerjaan mudah menyusun kisah itu. Bayangkan saja, manuskrip lontaraq I La Galigo terpencar di desa-desa terpencil di Sulsel. Untung saja, kerja keras Salim mengejar naskah-naskah I La Galigo ini, diketahui pihak Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal Leiden (KIVTL) Belanda, dimana banyak diantara episode La Galigo ini juga tersimpan disana. Manuskrip Sureq I La Galigo di Leiden yang diterjemahkannya merupakan naskah susunan Arung Pancana Toa yang dibawa oleh Dr B.F Matthes ke Belanda pada masa kolonial. Sejak kepulangannya dari menerjemahkan naskah La Galigo selama 5 Tahun 2 Bulan itulah yang melambungkan namanya sebagai “Maestro La Galigo”.
* * *
Kitab (terjemahan) La Galigo Jilid II
Pekerjaan menerjemahkan naskah tua La Galigo bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena bahasa La Galigo adalah bahasa Bugis kuno bersastra. Harus ahli tertentu yang hanya menerjemahkan dan memahami makna kedalamannya. Tapi itulah Drs Muhammad Salim, sepulang dari Belanda pun pekerjaan menerjemahkan itu masih dilakoninya, khususnya manuskrip tua lontaraq. Pergumulan dengan La Galigo dan Lontaraq tersebut terus dilakoninya sampai akhir hayatnya, suatu pekerjaan yang tidak semua orang dapat melakoninya.
Kepergian Drs Muhammad Salim untuk selama - lamanya ini tentu duka yang mendalam bagi masyarakat Sejarah Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan. Suami Hj Jamiah ini seringkali menjadi tempat bertanya bagi pemerhati, penulis dan peneliti sejarah dan budaya Sulsel, bahkan di usia senjanya masih sering rutin bolak balik ke Benteng Somba Opu untuk suatu acara. Tanpa ada keluhan. Semua aktivitas Muhammad Salim hingga detik terakhirnya tidak memperlihatkan tanda-tanda kematian. “Itu yang membuat saya sakit, kematiannya sangat terasa karena dia (Muhammad Salim, red) pergi tiba-tiba,” urai Hj Jamiah, isterinya.
Drs Muhammad Salim meninggalkan tiga orang anak dan seorang istri. Bapak taat agama ini, mukanya masih basah dengan air wudhu menjelang kepergiannya. “Seusai wudhu untuk salat Magrib, dia tiba-tiba sakit dadanya,” kata Hj Nurdina, anak kedua Muhammad Salim. Menurut Nurdina, ayahnya pulang ke rumah sekitar pukul 18.00 Wita, usai mengikuti rapat di Tamamaung, Jalan Abdullah Daeng Sirua, Makassar. “Saat pulang, bapak biasa saja. Masuk waktu Magrib beliau ambil wudhu, lalu duduk di kursi. Dia mengaku sakit dadanya. Lalu bapak sempat bertanya, ini mungkin yang dikatakan jantung,” ucap Hj Nurdina menirukan ayahnya.
Karena sakit dada itu, Muhammad Salim kemudian memilih baring pada tempat tidur yang ada di ruang keluarganya. Hj Nurdina sempat memegang kaki sang ayah, yang ternyata sudah dingin. Sementara Hj Jamiah, sang istri, duduk di samping tubuh Muhammad Salim. “Saya bacakan Yasin, dan Bapak benar-benar sudah wafat,” sebutnya. Jenazah Muhammad Salim akan dibawa ke rumah peristirahatan terakhirnya Senin hari ini, pukul 10.00 Wita di Desa Allakuang Kabupaten Sidrap — tempat keluarga besar Muhammad Salim juga dimakamkan. (Fajar, Senin, 28/3).
SELAMAT JALAN MAESTRO ….
SEMOGA KARYAMU ABADI DAN MENDAPATKAN PAHALA DI SISI-NYA.
Drs Muhammad Salim berpulang dalam Usia 75 Tahun. Selamat Jalan Maestro.
(foto. Fajar, 28/3)